Ibu Menyusui Alami Konstipasi, Ini 6 Hal yang Jadi Penyebabnya

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
konstipasi ibu menyusui, hormon progesteron, hormon kehamilan

Halodoc, Jakarta - Kondisi konstipasi biasanya sering terjadi selama kehamilan dan ibu menyusui. Gangguan ini terjadi karena adanya peningkatan hormon progesteron. Masalah ini biasanya tidak serius, tapi jika kamu mengalami konstipasi parah dengan sakit perut atau lendir atau darah, kamu perlu menemui dokter. Gejala normal biasanya dapat hilang setelah beberapa minggu.

Tentu kamu akan merasa tidak nyaman apabila mengalami susah buang air besar. Satu-satunya cara untuk menanganinya adalah makan makanan berserat dan banyak minum air putih. Sembelit selama beberapa hari bisa jadi karena kurangnya “pelicin usus besar”. Ini bisa diatasi dengan banyak minum air putih dan banyak mengonsumsi buah-buahan berserat. Di samping itu, sering bergerak, jalan-jalan atau berlari, atau mempraktikkan latihan tertentu yang berfokus pada pencernaan mungkin dapat membantu melancarkan BAB.

Baca juga: Bersiap Arus Balik Mudik, Hati-Hati Sembelit

Berikut beberapa hal yang menjadi penyebab terjadinya konstipasi pada ibu menyusui:

1. Masih Ada Efek Akibat Kehamilan

Setelah melahirkan, tubuh ibu masih belum sepenuhnya bersih dari efek kehamilan. Kadar hormon kehamilan, hormon progesteron, yang masih tinggi dapat menjadi penyebab susahnya BAB setelah melahirkan. Selain itu, tubuh kamu juga masih memiliki efek dari berat badan janin yang ada di dalam rahim kamu selama 9 bulan. Berat badan janin telah berdampak pada efek usus kamu sehingga menyebabkan sistem pencernaan kamu mengalami perlambatan.

2. Asupan Suplemen Zat Besi Selama Kehamilan

Hampir semua wanita hamil dianjurkan untuk mengonsumsi asupan suplemen zat besi selama masa kehamilan. Asupan zat besi sangat penting bagi ibu hamil dan janin. Namun, ternyata zat besi dapat menimbulkan sembelit setelah melahirkan.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengatasi Susah BAB Saat Hamil

3. Tindakan Episiotomi

Apakah kamu mendapatkan episiotomi saat persalinan? Episiotomi adalah menyayat di bagian perineum saat melahirkan normal. Episiotomi tentunya membuat bagian perineum menjadi sakit saat kamu ingin buang air besar, sehingga kamu menjadi enggan untuk BAB. Hal inilah yang dapat menyebabkan konstipasi atau sembelit.

4. Penggunaan Forcep

Jika kamu melahirkan normal dengan menggunakan bantuan alat yaitu forcep, hal ini akan sangat meningkatkan risiko konstipasi selain efek episiotomi. Proses persalinan dengan menggunakan forcep akan menyebabkan masalah pada usus, dampaknya ibu menjadi susah BAB setelah melahirkan.

5. Tindakan Operasi Caesar

Ternyata, setiap perempuan yang melahirkan melalui cara operasi caesar pun tidak luput dari risiko susah BAB setelah melahirkan. Sayatan bedah pasca menjalani operasi caesar harus menunggu tiga hari supaya fungsi usus dapat normal kembali.

Baca juga: Lakukan 5 Hal Ini Agar Pencernaan Lancar

6. Terapi Obat Pereda Nyeri

Beberapa perempuan umumnya mendapatkan obat pereda nyeri, seperti petidin dan diamorfin, saat atau setelah melahirkan. Obat pereda nyeri ini dapat memperlambat pergerakan usus (enema), sehingga menjadi susah BAB.

Susah buang air besar setelah melahirkan biasanya bukan masalah yang serius. Namun, terkadang keluhan ini juga menjadi tanda adanya gangguan yang perlu diwaspadai. Apabila kamu mengalami buang air besar berdarah, terdapat lendir atau nanah pada tinja, serta mengalami sembelit parah, sebaiknya segera komunikasikan pada dokter melalui aplikasi Halodoc untuk mendapatkan penanganan tepat. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga.