Ini 3 Penyakit yang Biasa Ditularkan dari Tikus

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ini 3 Penyakit yang Biasa Ditularkan dari Tikus

Halodoc, Jakarta - Kalau kamu mengira cuma nyamuk yang menjadi musuh rumah tangga, rasanya keliru. Sebab, ada pula hewan lain yang mungkin saja berkeliaran di rumahmu dan bisa menyebabkan sederet penyakit. Sudah tahu “tersangka”-nya? Nah, bagi kamu yang menjawab tikus, tepat sekali jawabannya. 

Di negara kita sendiri, setidaknya ada tiga jenis tikus yang biasanya berkeliaran di sekitar rumah. Mulai dari tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah atau tikus atap (Rattus rattus), hingga mencit rumah (mus musculus). 

Ingat, jangan main-main dengan hewan pengerat ini. Alasannya simpel, tikus bisa menyebabkan banyak penyakit yang berujung fatal, bahkan kematian.

Lantas, apa saja sih penyakit yang ditularkan dari tikus? 

1. Pes

Pes yang juga biasa disebut dengan plague atau sampar merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Bagi kamu yang asing dengan bakteri ini, melalui catatan sejarah bakteri ini setidaknya telah menghilangkan nyawa lebih dari 75–200 juta manusia di abad pertengahan. Cukup parah, bukan? 

Di masa tersebut, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis itu disebut dengan sebutan Black Death. Kata ahli, Black Death merupakan suatu penyakit hebat yang pertama kali melanda Eropa pada abad pertengahan (1347–1351) dan membunuh hingga dua pertiga populasi Eropa. 

Sedangkan di Indonesia, pada tahun 2007 penyakit ini pernah mengalami Kejadian Luar Biasa. Kala itu terdapat 82 kasus dengan tingkat kematian sekitar 80 persen akibat penyakit yang ditularkan dari tikus ini.

Untungnya, kasus pes kini telah menurun hingga 5.000 orang per tahun di seluruh dunia berkat antibiotik modern dan penanganan yang dini. Bakteri ini bisa disebarkan melalui perantara kutu dan menumpang hidup sebagai parasit di hewan sekitar kita, salah satunya tikus. 

Bakteri penyebab pes memang terdapat pada hewan, tetapi penyakit plague ini bisa menular ke manusia. Caranya penularannya melalui gigitan kutu tikus atau kontak langsung dengan jaringan atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi penyakit tersebut. 

Baca juga: Waspada Gigitan Tikus, Ini 5 Faktor Risiko Terkena Penyakit Pes 

Selain tikus, hewan lain seperti kucing, kelinci, domba, marmut, dan rusa juga bisa berperan sebagai perantara. Namun, perantara wabah yang paling sering jadi biang keladinya adalah kutu yang biasanya ada pada tikus. 

Nah, bakteri ini sendiri bisa tumbuh dan berkembangan di kerongkongan kutu. Bakteri akan keluar dari kerongkongan kutu dan masuk ke kulit, ketika kutu tersebut menggigit hewan atau manusia dan menghisap darah dari tubuh inang. 

Pada tahap berikutnya, penyakit yang ditularkan dari tikus ini akan menyerang kelenjar getah bening, hingga menyebabkan peradangan. Dari sini, penyakit plague bisa menyebar ke berbagai organ tubuh lain. 

2. Hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS)

Penyakit yang ditularkan dari tikus selanjutnya HFRS. Pernah mendengar penyakit ini? HFRS sendiri merupakan kondisi demam yang muncul bersamaan perdarahan (hemoragik) dan diiringi dengan sindrom ginjal (HFRS). Seseorang yang mengidap kondisi ini akan mengalami gejala, seperti demam, mengigil, nyeri kepala, nyeri perut, nyeri punggung, mual, hingga penglihatan kabur. Cukup mengkhawatirkan, bukan?

Itu belum seberapa, kadang kala gejalanya bisa makin memburuk. Misalnya, menyebabkan tekanan darah rendah, syok akut, sampai gagal ginjal akut. Nah, HFRS biasanya berkembang di dalam tubuh mulai 2–8 minggu setelah terpapar. 

3. Leptospirosis

Selain kedua hal di atas, leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan dari tikus yang juga mesti diwaspadai. Masih asing dengan penyakit ini? Leptospirosis sendiri disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans. Bakteri ini bisa disebarkan lewat urine atau darah hewan yang terinfeksi Leptospira. 

Baca juga: Tikus Bisa Sebabkan Demam Tiba-Tiba

Lalu, hewan apa yang bisa membawa bakteri ini? Macam-macam, mulai dari tikus, anjing, hingga kelompok hewan ternak, seperti sapi atau babi. Nah, nantinya bakteri ini bisa berpindah ke manusia ketika seseorang terpapar air atau tanah yang telah terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri Leptospira. 

Bagaimana dengan gejalanya? Seseorang yang mengidap penyakit ini akan mengalami berbagai keluhan. Contohnya, mual, muntah, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, meriang, diare, demam, ruam, hingga konjungtivitis. 

Sebagian besar kasusnya, gejala di atas biasanya muncul mendadak dalam 2 minggu setelah tubuh mengalami infeksi. 

Mau tahu lebih jauh mengenai masalah di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung kepada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa kapan dan di mana saja mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:

Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2019. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Plague. 

Medical News Today. Diakses pada 2019. Leptospirosis: What you need to know.

WHO. Diakses pada November 2019. Plague.