09 January 2019

Inilah Bahaya dari Komplikasi Alergi Telur

Inilah Bahaya dari Komplikasi Alergi Telur

Halodoc, Jakarta – Telur adalah salah satu makanan penyebab alergi paling umum untuk anak-anak. Gejala alergi telur, biasanya terjadi beberapa menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi telur atau makanan yang mengandung telur.

Tanda dan gejala berkisar dari ringan hingga berat dan dapat termasuk ruam kulit, gatal-gatal, hidung tersumbat, dan muntah atau masalah pencernaan lainnya. Sangat jarang, alergi telur sampai bisa menyebabkan reaksi yang mengancam jiwa.

Baca juga: Yang Terjadi pada Tubuh Jika Alergi Telur

Alergi telur dapat terjadi sejak bayi. Sebagian besar anak-anak, tetapi tidak semua, dapat mengatasi alergi telur mereka sebelum remaja. Reaksi alergi telur bervariasi dari orang ke orang dan biasanya terjadi segera setelah terpapar telur. Gejala alergi telur, seperti:

  1. Radang kulit atau gatal-gatal merupakan reaksi alergi telur yang paling umum

  2. Hidung tersumbat, pilek, dan bersin (rinitis alergi)

  3. Gejala pencernaan, seperti kram, mual, dan muntah

  4. Tanda dan gejala asma, seperti batuk, dada terasa sesak, ataupun sesak napas

Alergi Telur, Bisa Sampai Mengancam Jiwa?

Ketika reaksi alergi parah terjadi dapat menyebabkan anafilaksis, yaitu keadaan darurat yang mengancam jiwa. Bila ini terjadi, maka seseorang yang mengalaminya membutuhkan suntikan epinefrin (adrenalin) langsung dan segera mendapatkan perawatan medis.

Baca juga: Punya Alergi Telur, Perlu Waspada saat Vaksin Flu

Ada beberapa tanda dan gejala anafilaksis, yaitu:

  1. Penyempitan saluran udara, termasuk tenggorokan bengkak atau benjolan di tenggorokan yang membuatmu sulit bernapas

  2. Nyeri perut dan kram

  3. Denyut nadi cepat

  4. Syok yang ditandai dengan penurunan tekanan darah yang parah terasa, seperti pusing, sakit kepala ringan, ataupun kehilangan kesadaran.

Ternyata Ini Penyebabnya

Reaksi sistem kekebalan yang berlebihan menyebabkan alergi makanan. Untuk alergi telur, sistem kekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi protein telur tertentu sebagai berbahaya. Ketika kamu bersentuhan dengan protein telur, maka sel-sel sistem kekebalan tubuh (antibodi) mengenalinya dan memberi sinyal sistem kekebalan untuk melepaskan histamin dan bahan kimia lain yang menyebabkan tanda dan gejala alergi.

Baca juga: Kenapa Orang Bisa Terkena Alergi Telur?

Kuning telur dan putih telur mengandung protein yang dapat menyebabkan alergi, tapi alergi terhadap putih telur adalah yang paling umum. Sangat mungkin bagi bayi yang diberi ASI untuk memiliki reaksi alergi terhadap protein telur dalam ASI jika ibu mengonsumsi telur.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko mengembangkan alergi telur:

  1. Dermatitis Atopik

Anak-anak dengan jenis reaksi kulit ini lebih mungkin mengembangkan alergi makanan daripada anak-anak yang tidak memiliki masalah kulit.

  1. Sejarah Keluarga

Kamu berisiko lebih tinggi mengalami alergi makanan jika salah satu atau kedua orangtua menderita asma, alergi makanan, dan jenis alergi lainnya, seperti demam, gatal-gatal, ataupun eksim.

  1. Usia

Alergi telur paling umum terjadi pada anak-anak. Dengan bertambahnya usia, sistem pencernaan menjadi matang dan reaksi makanan alergi cenderung terjadi.

Setelah mengetahui kalau kamu punya alergi terhadap telur, sebaiknya kamu lebih teliti dan memerhatikan bahan makanan sebelum mengonsumsinya, seperti:

  1. Baca Label Makanan dengan Cermat

Beberapa orang bereaksi terhadap makanan yang hanya mengandung sedikit telur.

  1. Berhati-Hatilah Saat Makan di Luar

Bahkan, juru masak mungkin tidak sepenuhnya yakin apakah suatu makanan mengandung protein telur. Makanya, kamu harus lebih reaktif dan hati-hati.

  1. Kenakan Gelang atau Kalung Alergi

Ini bisa sangat penting jika kamu atau anak memiliki reaksi yang parah dan tidak dapat memberi tahu pengasuh atau orang lain apa yang terjadi.

Jika kamu pernah mengalaminya, segera diskusikan kondisi ini kepada dokter untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Kalau ingin mengetahui komplikasi alergi telur serta bagaimana penanganan lebih lanjutnya, bisa tanyakan langsung ke Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.