Inilah Cara Aman Menyimpan ASI

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Inilah Cara Aman Menyimpan ASI

Halodoc, Jakarta - ASI atau air susu ibu adalah minuman yang wajib untuk dikonsumsi oleh tiap bayi yang baru lahir hingga usianya 2 tahun. Namun, pada beberapa wanita yang bekerja, ASI tetap dapat diberikan pada anaknya dengan cara diperah terlebih dahulu. Ibu harus terus memastikan anak tetap mengonsumsi ASI.

Dengan memerah ASI, seorang ibu dapat menjaga produksi susunya tetap berjalan. Namun, hal yang terkadang menjadi masalah adalah cara untuk menyimpan ASI tersebut setelah diperah. Maka dari itu, artikel ini akan membahas tentang cara menyimpan ASI yang benar. Berikut bahasan lengkapnya!

Baca juga: Supaya Sehat dan Aman, Begini Cara Menyimpan ASI yang Benar

Cara Aman Menyimpan ASI pada Ibu Menyusui

Belakangan ini, banyak ibu menyusui khawatir mengenai kebutuhan ASI anaknya. Padahal, air susu ibu adalah minuman yang paling ideal untuk mendukung tumbuh kembang bayi. Busui dapat menggunakan alat perah untuk memastikan konsumsi susu anak tetap tercukupi.

Setelah melakukan pemerahan, terdapat beberapa pilihan tempat yang berguna untuk menyimpan ASI tersebut, seperti botol kaca, botol plastik, hingga kemasan plastik tertentu. Kamu harus menggunakan tempat khusus yang hanya digunakan untuk menyimpan ASI, karena jika tercampur dapat memengaruhi kualitas dari susu tersebut.

Bagaimana cara aman untuk menyimpan ASI yang dapat dilakukan? Berikut beberapa cara yang dapat kamu lakukan:

  1. Wadah yang Digunakan untuk Menyimpan ASI

Sebelum kamu akan memulai untuk memerah ASI, ada baiknya untuk mencuci tangan dengan sabun dan bilas hingga bersih. Setelah proses pemerahan selesai, susu yang terkumpul dapat dimasukkan ke dalam botol kaca atau plastik. Kamu juga dapat memanfaatkan kantong plastik khusus yang berguna untuk menyimpan susu.

Walau begitu, kantong penyimpanan yang terbuat dari plastik mungkin sobek, bocor, dan mudah terkontaminasi. Jika kamu terpaksa tetap menggunakan kantong plastik karena perjalanan, ada baiknya menggunakan tas khusus yang digunakan untuk membawa susu dengan penutup yang rapat dan bahan plastik yang agak keras.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait cara aman menyimpan ASI, dokter dari Halodoc siap membantu. Caranya mudah, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone kamu! Selain itu, kamu juga dapat membeli obat tanpa perlu ke luar rumah dengan aplikasi tersebut.

Baca juga: Cara Menyimpan ASI yang Benar

  1. Cara Terbaik untuk Menyimpannya

Setelah itu, ibu dapat menggunakan label dan tinta yang tahan air untuk menandakan tanggal kamu memerahnya. Langkah selanjutnya adalah menempatkan air perahan tersebut di kulkas atau freezer yang suhunya paling sejuk. Jika tidak ada alat pendingin, simpanlah di tempat yang lebih sejuk.

ASI yang dimasukkan ke tempat penyimpanannya juga sebaiknya tidak diisi secara penuh. Pasalnya, cairan tersebut dapat mengembang ketika membeku. Jika kamu isi terlalu penuh, bukan tidak mungkin tempat penyimpanan tersebut akan meledak atau pecah karena tidak ada ruangan lebih.

Baca juga: Cara Menyimpan ASI yang Tepat Saat Traveling

  1. Batas Waktu Menyimpan ASI

Hal lainnya yang harus kamu ketahui adalah batas waktu untuk menyimpan ASI. Batas waktu untuk ASI yang disimpan tersebut tergantung dari metode penyimpanannya. Berikut beberapa hal yang harus kamu pertimbangkan sebagai cara untuk menyimpan ASI:

  • Suhu kamar: ASI yang baru diperah dapat disimpan dalam suhu kamar hingga enam jam. Namun, kamu dapat menggunakan tempat penyimpanan yang tepat dan batas waktu optimalnya adalah empat jam. Lalu, jika ruangannya terbilang hangat, batasnya menjadi empat jam.

  • Alat pendingin: ASI yang baru diperah dapat disimpan dengan ice pack dan dapat bertahan satu hari. Jika kamu menggunakan kulkas, cairan tersebut dapat disimpan hingga lima hari dalam kondisi bersih. Namun waktu yang optimal untuk dikonsumsi adalah tiga hari.

  • Menggunakan freezer: Jika kamu menggunakan freezer, maka cairan tersebut dapat disimpan hingga 12 bulan. Namun, susu yang beku tersebut dapat dikonsumsi secara optimal dengan batas waktu enam bulan.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Breast milk storage: Do's and don'ts