Inilah Kondisi yang Mengharuskan Bumil Lakukan Cardiotocography

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Inilah Kondisi yang Mengharuskan Bumil Lakukan Cardiotocography

Halodoc, Jakarta –  Cardiotocography (CTG) merupakan prosedur pemeriksaan kehamilan yang umumnya dilakukan pada trimester ketiga. Pemeriksaan CTG bertujuan untuk memeriksa detak jantung bayi. Lantas, apa saja kondisi yang mengharuskan ibu hamil melakukan cardiotocography?

Baca Juga: 7 Mitos Kehamilan Trimester Ketiga yang Perlu Diketahui

Trimester ketiga dianggap sebagai masa kehamilan yang paling sulit karena ibu hamil sering mengalami perubahan emosi dan tubuh yang kelelahan. Itu sebabnya, ibu hamil sering mengalami kecemasan atau kegembiraan berlebih akibat memikirkan kondisi kesehatan bayi. Biasanya, pemeriksaan CTG disebut juga dengan tes non-stres karena pemeriksaan ini berguna untuk mengurangi ketakutan yang dialami ibu hamil.

Mengenal Pemeriksaan Cardiotocography

Pemeriksaan CTG menggunakan gelombang suara untuk mendeteksi dan memantau detak jantung bayi. Gelombang suara dalam bentuk USG ini digunakan untuk mendeteksi beberapa kondisi medis, seperti batu empedu atau darah yang menggumpal. Gelombang suara akan menembus jaringan lunak dan memantul kembali jika menyentuh benda padat.  Hal ini membantu dokter mengidentifikasi kelainan kehamilan tanpa pembedahan.

CTG juga dapat membedakan antara tulang, otot, dan bagian tubuh lainnya. CTG juga dilengkapi dengan doppler, yaitu sejenis ultrasonografi yang membantu mempelajari objek bergerak. Maka itu, pemeriksaan ini dapat berfungsi untuk mendeteksi detak jantung bayi.

Kondisi Medis yang Mengharuskan Cardiotocography pada Ibu Hamil

Pemeriksaan cardiotocography tidak wajib dilakukan saat hamil. CTG dilakukan apabila ibu hamil atau bayi mengalami kondisi medis tertentu. Berikut beberapa kondisi medis yang memerlukan pemeriksaan CTG:

  • Ibu hamil mengalami tekanan darah tinggi.
  • Ibu hamil konsumsi obat untuk meningkatkan kecepatan persalinan.
  • Ibu hamil yang diberikan epidural untuk mengurangi rasa sakit selama kontraksi.
  • Ibu hamil yang mengalami perdarahan selama proses persalinan.
  • Ibu hamil pengidap diabetes, HIV, hepatitis B atau C.
  • Memiliki cairan ketuban yang lebih rendah.
  • Mengandung anak kembar.
  • Ada dugaan pengurangan plasenta yang dapat mengurangi jumlah darah yang diterima bayi.
  • Gerakan bayi tidak sama dan menjadi tidak menentu atau lebih lambat dari biasanya.
  • Bayi dalam posisi abnormal.
  • Ibu hamil mengalami demam tinggi.
  • Janin telah melewati mekonium (buang air besar) dalam cairan ketuban yang bisa  berbahaya jika dihirup oleh bayi.

Baca Juga: Jangan Lakukan Ini di Trimester Ketiga

Jenis Pemeriksaan Cardiotocography

Terdapat dua jenis pemeriksaan cardiotocography untuk memantau detak jantung bayi, yaitu pemantauan internal dan eksternal. Jenis pemeriksaan ini dilakukan sesuai kondisi yang dialami oleh ibu hamil maupun bayi.

1. Pemantauan Internal

Bentuk pemantauan dilakukan dengan cara menempatkan alat ke dalam Miss V . Perangkat elektroda ditempatkan dekat dengan kulit kepala janin agar mudah dipantau. Bentuk pemantauan ini jarang dilakukan untuk menangkap detak jantung jika dibandingkan dengan pemantauan eksternal. Namun, hasil pemantauan internal lebih akurat sehingga pelaksanaannya lebih rumit.

2. Pemantauan Eksternal

Pemantauan eksternal dilakukan dengan cara menempatkan peralatan khusus di perut ibu. Jenis pemantauan ini sering dilakukan karena lebih mudah.  Pertama, sabuk elastis dengan dua piring bundar ditempatkan di atas perut ibu hamil.

Satu lempeng memancarkan frekuensi ultrasonik yang digunakan untuk mendeteksi detak jantung bayi. Lempeng lainnya digunakan untuk mencatat tekanan pada perut ibu bersamaan dengan kontraksi. Sabuk terhubung ke perangkat yang digunakan untuk membaca sinyal. Terkadang gel dapat diaplikasikan untuk mendapatkan sinyal yang lebih kuat.

Apa yang Ditampilkan Cardiotocography?

CTG bekerja untuk mendeteksi masalah yang mungkin terjadi selama kontraksi. Bayi yang memiliki detak jantung lebih tinggi atau lebih rendah dari 110-160 per  menit mungkin mengindikasikan adanya masalah perkembangan janin. Jika dokter yakin bahwa masalah tersebut dapat membahayakan kehamilan, ibu hamil mungkin disarankan untuk melakukan operasi caesar darurat atau melahirkan dengan bantuan.

Baca Juga: 6 Gangguan Kehamilan yang Muncul di Trimester Ketiga

Apabila ibu telah mencapai trimester ketiga dan curiga mengalami masalah kehamilan, sebaiknya segera minta bantuan medis untuk memastikannya. Kalau ibu punya pertanyaan seputar kehamilan lainnya, ibu bisa langsung bertanya ke dokter Halodoc langsung dari smartphone.

Gunakan fitur Talk to A Doctor yang ada di aplikasi Halodoc untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play!