Inilah Prosedur Diagnosis Paraplegia yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Inilah Prosedur Diagnosis Paraplegia yang Perlu Diketahui

Halodoc, Jakarta - Paraplegia merupakan kondisi hilangnya kemampuan untuk menggerakan anggota tubuh bagian bawah, meliputi kedua tungkai dan organ panggul. Pengidap paraplegia bisa merasakan hal ini sementara atau bahkan permanen, bergantung dari penyebabnya.

Paraplegia ini berbeda dengan paraparesis yang masih bisa menggerakan kedua tungkai meski kekuatannya berkurang. Sedangkan pengidap paraplegia, sama sekali enggak bisa menggerakkan kedua tungkai.

Baca juga: Enggak Hanya Cedera Saraf Tulang Belakang, Ini 8 Penyebab Lain Paraplegia

Paraplegia ini bisa dibagi menjadi dua bila dilihat berdasarkan efek dan gejalanya pada otot. Pertama ada paraplegia spastik, di mana otot-otot tubuh pada bagian yang mengalami kelumpuhan dalam kondisi kaku dan tegang. Kedua paraplegia flaksid, otot-otot tubuh pada bagian yang mengalami kelumpuhan dalam kondisi terkulai dan lemas. Otot ini juga cenderung bisa mengkerut.

Pertanyaannya, seperti apa sih prosedur untuk mendiagnosis paraplegia?

Ditandai Banyak Gejala

Sebelum mengetahui prosedur untuk mendiagnosis paraplegia, tak ada salahnya untuk membahas lebih dalam gejalanya. Gejala paraplegia ini cukup bervariasi, bahkan bisa berubah dari hari ke hari. Ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti proses regenerasi dan penyembuhan, pengobatan, dan penyakit yang mendasari.

Nah, berikut gejala penyerta yang sering dikeluhkan pengidap paraplegia.

  • Hilangnya kemampuan motorik dari pinggang ke bawah.

  • Penurunan libido.

  • Hilangnya kemampuan sensorik (tidak dapat merasakan sensasi) pada daerah di bawah lesi.

  • Gangguan BAK dan BAB.

  • Infeksi sekunder pada bagian tubuh yang mengalami paralisis, umumnya luka dekubitus atau penyakit kulit.

  • Sensasi fantom atau sensasi aneh yang tidak dapat dijelaskan, sensasi setruman listrik, atau sensasi lainnya pada tubuh bagian bawah.

  • Terganggunya aktivitas seksual dan kesuburan.

  • Perubahan mood, pada umumnya depresi.

  • Kenaikan berat badan, terutama jika asupan kalori tidak sesuai dengan aktivitas fisik yang berkurang.

  • Abnormalitas pada sistem saraf otonom yang ditemukan dalam bentuk ketidaknormalan denyut nadi dan tekanan darah.

  • Nyeri kronis.

Baca juga: Jaga Kesehatan Saraf, Ini Bedanya Paraplegia dengan Paraparesis

Prosedur Mendiagnosis Paraplegia

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan neuromuskular lengkap, bersama dengan pencitraan tulang belakang, seperti MRI atau CT scan. Di samping itu, Rontgen polos juga dapat mengonfirmasi fraktur, penyempitan, tumor, ataupun massa lainnya pada struktur sumsum tulang belakang, sehingga dapat membantu diagnosis.

Untuk melihat adanya infeksi, dapat juga dilakukan pemeriksaan darah dan fungsi lumbal untuk mengecek infeksi pada cairan spinoserebral. Nah, berikut beberapa cara dan kegunaan dari prosedur untuk mendiagnosis paraplegia.

Baca juga: Mengapa Pengidap Spina Bifida Berisiko Terkena Paraplegia?

  • MRI pada bagian otak dan tulang belakang. Prosedur ini untuk melihat adanya kelainan yang berisiko menekan saraf tulang belakang.

  • Foto Rontgen. Yang satu ini untuk mendeteksi adanya tumor atau retakan pada tulang belakang.

  • CT Scan. Pemeriksaan CT scan bertujuan untuk memahami lebih jauh mengenai tingkat keparahan cedera tulang belakang yang dialami.

  • Elektromiografi (EMG). Dalam pemeriksaan ini, sensor akan mengukur aktivitas listrik pada otot dan saraf pengidapnya.

Mau tahu lebih jauh mengenai paraplegia? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!