• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Siklus Menstruasi Wanita yang Normal Sesuai Usia

Inilah Siklus Menstruasi Wanita yang Normal Sesuai Usia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Menstruasi adalah hal yang normal terjadi pada wanita. Meskipun terjadi setiap bulan, terkadang siklusnya sulit untuk diprediksi. Pada dasarnya, perubahan siklus menstruasi alias haid terjadi karena beberapa faktor, seperti perubahan hormon hingga faktor usia.

Ya, faktor usia seorang wanita cukup berpengaruh terhadap siklus haid yang terjadi. Nah, lebih jelasnya, cari tahu bagaimana siklus menstruasi yang normal sesuai dengan usia. Berikut ini ulasannya.

Usia 20-an tahun

Memasuki usia 20 tahun, siklus haid biasanya sudah mulai mengalami perubahan. Pada masa ini, proses ovulasi yang terjadi mulai tidak teratur, sehingga siklus haid menjadi tidak menentu.

Kendati demikian, pada usia ini para wanita lebih sering mengalami kondisi PMS alias premenstrual syndrome, seperti dilansir dari situs Cleveland Clinic. Biasanya kondisi ini juga dibarengi dengan kram yang menyakitkan serta rasa nyeri pada payudara.

Baca juga: Psikolog Sebut PMS hanya Mitos, Benarkah?

Usia 30-an tahun

Perubahan siklus menstruasi yang terjadi pada usia ini ditandai dengan rasa sakit yang lebih hebat dan berat dibandingkan dengan kram perut biasa. Namun, jangan sampai mengabaikan gejala ini. Dilansir dari Health, rasa nyeri yang dahsyat tersebut bisa menjadi gejala suatu gangguan kesehatan, misalnya pertumbuhan tumor jinak yang disebut fibroid

Bagi wanita yang sudah pernah melahirkan, biasanya pada masa ini juga terjadi perubahan siklus haid dalam jangka yang panjang. Namun, rasa nyeri sebelum haid mungkin tidak lagi dirasakan wanita yang sudah pernah melahirkan. Hal ini karena proses melahirkan menyebabkan serviks menjadi sedikit lebih besar, sehingga saat menstruasi tidak lagi terjadi kontraksi rahim yang kuat.

Baca juga: 7 Tanda Haid Tidak Normal yang Harus Kamu Waspadai

Usia 40-an tahun

Pada usia 40 tahun, terjadi perubahan hormon yang menyebabkan ovulasi menjadi tidak teratur. Studi yang dimuat dalam Obstetric and Gynecology Clinics of North America mengungkapkan, biasanya wanita pada usia ini mengalami rentang PMS yang jauh lebih panjang atau bisa menjadi lebih singkat dibandingkan dengan usia sebelumnya.

Selain itu, pada usia ini biasanya juga mulai terlihat gejala perimenopause. Masa menopause biasanya terjadi pada awal usia 50 tahun. Namun, tubuh sudah mulai mempersiapkan akhir masa menstruasi tersebut pada delapan hingga sepuluh tahun sebelum memasuki masa ini. Usia 40 tahun menjadi gerbang fluktuasi hormon perimenopause yang merupakan prekursor dari menopause.

Namun, pada usia ini, wanita masih memiliki peluang untuk mengalami kehamilan meski ovulasi tidak menentu. Pasalnya, wanita dikatakan telah menopause sempurna saat ia suda berhenti menstruasi setidaknya selama satu tahun.

Baca juga: Wanita, Wajib Tahu Cara Menghilangkan Nyeri Menstruasi

Artinya, perubahan siklus menstruasi yang terjadi sebenarnya adalah hal yang wajar. Namun, jika hal ini terus terjadi dan terlihat tidak wajar, segera lakukan pemeriksaan. Apalagi jika siklus haid yang tidak teratur disertai dengan perubahan durasi, hingga konsistensi perdarahan yang tak stabil. Bisa jadi ini adalah tanda adanya gangguan tiroid, sindrom ovarium polikistik, atau masalah kesehatan lain.

Jika kamu mengalami siklus menstruasi yang tidak normal atau ada masalah haid lain, jangan ragu untuk langsung bertanya pada dokter. Tidak perlu pergi ke klinik, karena aplikasi Halodoc akan membantu kamu lebih mudah dalam bertanya jawab dengan dokter. Melalui aplikasi Halodoc, kamu juga bisa berobat ke rumah sakit terdekat dan membeli obat tanpa harus menunggu lama. 

 

Referensi:

Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Is My Period Normal?  How Menstrual Cycles Changed with Age
Health. Diakses pada 2020. How Your Period Changes During Your  20s. 30s. and 40s
Harlow, Sioban D. and Pangaja Paramsothy. 2011. Diakses pada 2020. Menstruation and the Menopause Transition
Obstetric and Gynecology Clinics of North America  38(3): 595-607