Inilah yang Dimaksud dengan Bayi Lahir Mati atau Still Birth

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
still birth, bayi lahir mati, still birth dapat disebabkan

Halodoc, Jakarta - Tidak semua kematian bayi saat masih di  dalam kandungan dinamakan keguguran. Memang, bayi yang meninggal sebelum usia kandungan mencapai 20 minggu, kondisi ini disebut keguguran. Sementara itu, bayi yang meninggal di usia kehamilan lebih dari 20 minggu, kondisi ini dinamakan dengan bayi lahir mati atau still birth.

Terkadang, banyak orang yang menganggap bahwa keguguran merupakan kematian bayi sebelum ia lahir ke dunia. Padahal, kedua kondisi tersebut berbeda, tergantung dari usia kehamilan ibu saat bayi dinyatakan meninggal.

Bayi lahir mati atau still birth dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti kondisi ibu, janin, dan juga plasenta. Kecukupan gizi ibu selama hamil pun bisa jadi memengaruhi risiko bayi mengalami lahir mati.

Berikut beberapa hal yang dapat menyebabkan bayi lahir mati yang perlu kamu ketahui:

  • Cacat Lahir (Dengan atau Tanpa Kelainan Kromosom)

Kelainan kromosom bertanggung jawab sebesar 15-20 persen dari semua kejadian bayi lahir mati. Terkadang, bayi mempunyai kelainan struktural yang tidak disebabkan oleh kelainan kromosom. Namun, kondisi tersebut bisa disebabkan oleh genetik, lingkungan, dan penyebab yang tidak diketahui.

  • Tali Pusar Bermasalah

Saat persalinan, ada kemungkinan tali pusar bayi yang keluar lebih dulu sebelum bayi keluar (prolaps tali pusar). Akibatnya, tali pusar menghalangi pasokan oksigen bayi sebelum bayi mampu bernapas sendiri. Tali pusar juga dapat terlilit di leher bayi sebelum persalinan, sehingga mengganggu pernapasan bayi. Dua kejadian yang melibatkan tali pusar ini dapat menyebabkan bayi lahir mati. Namun, kejadian ini jarang menjadi penyebab utama dari bayi lahir mati.

  • Plasenta Bermasalah

Masalah pada plasenta menyebabkan sekitar 24 persen dari bayi lahir mati. Masalah pada plasenta ini mencakup pembekuan darah, peradangan, masalah dengan pembuluh darah plasenta, abrupsio plasenta (plasenta memisah terlalu dini dari dinding rahim sebelum waktunya), dan kondisi lainnya yang berkaitan dengan plasenta. Wanita yang merokok selama kehamilan lebih mungkin untuk mengalami abrupsio plasenta dibandingkan wanita yang tidak merokok.

  • Kondisi Kesehatan Ibu

Jika ibu mengalami diabetes, tekanan darah tinggi, preeklamsia, lupus (gangguan autoimun), obesitas, trauma atau kecelakaan, trombofilia (Kondisi kelainan pembekuan darah), dan penyakit tiroid, ibu berisiko mengalami still birth. Tekanan darah tinggi atau preeklamsia saat hamil meningkatkan risiko abruptio plasenta atau bayi lahir mati dua kali lebih besar.

  • Intrauterine Growth Restriction (IUGR)

IUGR membuat janin memiliki risiko tinggi kekurangan nutrisi. Kekurangan nutrisi ini kemudian membuat pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu. Pertumbuhan dan perkembangan janin yang berjalan sangat lambat dapat menempatkan janin pada risiko lahir mati. Bayi yang kecil atau tidak tumbuh sesuai dengan usianya berisiko mengalami kematian karena asfiksia atau kekurangan oksigen sebelum atau selama kelahiran.

  • Mengalami Infeksi Selama Kehamilan

Sekitar 1 dari 10 kejadian bayi lahir mati umumnya disebabkan oleh infeksi. Beberapa infeksi yang dapat menyebabkan bayi lahir mati adalah sitomegalovirus, rubella, infeksi saluran kencing dan saluran kelamin (seperti herpes genital), listeriosis (akibat keracunan makanan), sifilis, dan toksoplasmosis. beberapa infeksi ini mungkin tidak menunjukkan gejala dan mungkin juga tidak terdiagnosis sebelum ibu mengalami kondisi yang lebih serius, seperti kelahiran prematur atau bayi lahir mati.

Selama menjalani kehamilan, sebaiknya ibu selalu mengontrol kondisi kesehatan kehamilan dengan dokter di aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat kamu terima dengan praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!