Intip Film Ma, Korban Bullying Berpotensi Jadi Psikopat?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Intip Film Ma, Korban Bullying Berpotensi Jadi Psikopat?

Halodoc, Jakarta – Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh The Chicago School of Professional Psychology (TCSPP), Los Angeles Campus, korban bullying cenderung mengalami masalah emosional yang menjadi pemicu untuk melakukan hal-hal radikal.

Ini termasuk tindakan menyakiti orang lain. Ditemukan fakta, anak-anak remaja yang melakukan penembakan di sekolah ternyata adalah korban intimidasi dan bullying rekan sebaya. Film Ma yang minggu lalu dirilis di bioskop Indonesia juga menceritakan kisah yang sama.

Psikis yang Terluka Akibat Bullying

Film Ma berkisah tentang perilaku aneh seorang wanita setengah baya Sue Ann (Octavia Spencer) yang sedikit creepy—kerap melamun saat bekerja, bersenandung, tersenyum-senyum sendiri, dan mood swing

Sue Ann digambarkan sosok wanita yang terobsesi dengan kenangan masa SMA-nya dulu dan memaksakan diri ingin diterima dalam pergaulan remaja di lingkungan rumahnya. Secara agresif dia mendekati anak-anak remaja yang umurnya separuh di bawahnya dan berusaha menyenangkan mereka dengan segala cara.

Baca juga: Ini Alasan Anak Jadi Pelaku Bullying

Singkat cerita, ketika sekelompok anak muda merasa aneh dengan tindakan intens Sue, mereka menjauh dan disitulah Sue mulai melakukan teror, seperti psikopat. Ternyata, ada cerita menyedihkan di balik perilaku psycho Sue, di mana dia adalah korban bullying dan pelecehan seksual di masa sekolah dulu.

Kalau pepatah jadul bilang, “ada sebab ada akibat”, film ini menggambarkan bagaimana seseorang bisa berperilaku agresif karena dulunya mengalami luka psikis. Menurut American Academy of Experts of Traumatic Stress, bullying bisa menyebabkan kerusakan emosional abadi yang bertahan lebih lama daripada kerusakan fisik. 

Apalagi kalau ini terjadi saat masa anak-anak dan remaja. Bullying dapat melukai citra diri, menanamkan rasa takut, serta membenci diri sendiri. Bila seseorang menjadi sasaran bullying berulang kali, ini bisa merusak kemampuannya untuk memandang diri sendiri sebagai pribadi yang memiliki potensi sama dengan yang lain. 

Korban bullying juga memiliki kesulitan memercayai orang, mengurangi kesempatan kerja, dan tumbuh menjadi dewasa dengan kecenderungan menjadi penyendiri. Mereka membuat lebih sedikit pilihan positif dan lebih jarang bertindak untuk mempertahankan kebahagiaannya sendiri. Tentunya ini dikarenakan kurangnya kontrol yang dirasakan dan ditanamkan dalam diri selama intimidasi masa kecil dan remajanya.

Bullying adalah tindakan yang sangat merusak. Bila kamu adalah korban bullying dan membutuhkan ruang untuk bercerita, segera hubungi psikolog yang ada di Halodoc. Dokter-dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat.

Buat orang tua yang juga memiliki anak yang pernah mengalami kekerasan fisik dan mental, juga dapat mengontak Halodoc. Penanganan dini dapat mengurangi dampak negatif dari kekerasan yang pernah dialaminya.

Penanganan Tepat untuk Korban Bullying

Orang tua, guru, orang dewasa dalam lingkungan formal dan nonformal sejatinya perlu memahami efek berkepanjangan dari bullying. Orang dewasa dalam hal ini perlu bertindak tegas dan tidak menoleransi perilaku bullying sebagai sekadar lelucon. 

Jika seseorang telah diintimidasi selama beberapa waktu, penting untuk menangkal efek dari intimidasi itu. Untuk menyembuhkan dari kerusakan ini, korban perlu dibantu untuk membangun kembali identitas yang kuat, tangguh, dan fleksibel yang akan memungkinkannya untuk menghadapi tantangan dalam hidup.

Baca juga: Ini Cara Tepat Mengajarkan Anak Lebih Peduli dengan Orang Lain

Korban bullying perlu dibantu untuk mengembangkan kepercayaan batin yang memungkinkan mereka untuk percaya dapat mencapai apa yang diimpikan dan hidup tidak akan tersia-siakan.

Bantu korban bullying menemukan apa yang menjadi passion dan minat untuk menghabiskan waktu melakukan kegiatan yang disukai tersebut. Sejatinya ini bisa memberikan perubahan pada korban dalam hal membangun citra diri yang lebih positif.