Pentingnya Jaga Kehamilan agar Terhindar dari Ambiguous Genitalia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Pentingnya Jaga Kehamilan agar Terhindar dari Ambiguous Genitalia

Halodoc, Jakarta – Ambiguous genitalia, disebut juga disorder of sex development, adalah kelainan perkembangan seksual pada bayi sehingga jenis kelaminnya tidak diketahui secara pasti.

Bayi dengan kondisi ini kemungkinan tidak cocok dengan organ kelamin bagian dalam atau kromosom seksualnya. Meski jarang membahayakan kondisi bayi, ambiguous genitalia bisa menyebabkan permasalahan sosial. Lantas, apa yang harus dilakukan para orang tua agar terhindar dari risiko ambiguous genitalia?

Baca Juga: Yang Terjadi saat Ibu Hamil Terlalu Percaya Mitos

Penyebab Terjadinya Ambiguous Genitalia 

Ambiguous genitalia disebabkan kelainan kromosom atau kelainan hormon. Kelainan perkembangan seksual akibat jumlah kromosom terjadi jika seorang bayi mengalami kekurangan atau kelebihan kromosom di dalam sel.

Misalnya, pada bayi pengidap sindrom Turner (XO) dan sindrom Klinefelter (XXY). Sementara kelainan perkembangan seksual akibat hormon berkaitan dengan kelainan produksi hormon atau sensitivitas organ seksual selama dalam kandungan.

Kondisi ambiguous genitalia pada bayi yang secara genetik adalah perempuan bisa dikenali dari tanda berikut:

  • Labia tertutup dan membengkak sehingga terasa seperti skrotum dengan testis.

  • Pembesaran klitoris sehingga tampak seperti Mr P berukuran kecil.

  • Lubang saluran kemih terletak di atas klitoris, di bawah klitoris, atau area klitorisnya sendiri.

  • Bayi perempuan dengan kondisi ini diduga sebagai bayi laki-laki dengan kriptorkismus, yaitu kondisi ketika testis bayi laki-laki tidak turun ke dalam skrotum saat lahir.

Bagaimana dengan bayi yang secara genetik adalah laki-laki?

  • Hipospadia, yaitu kelainan letak lubang kencing pada bayi laki-laki abnormal. Kondisi ini ditandai dengan percikan urine abnormal saat buang air kecil, kulup hanya menutupi bagian atas kepala Mr P, dan bentuk Mr P melengkung ke bawah.

  • Mr P abnormal dan berukuran kecil, dengan lubang saluran kemih terletak dengan skrotum.

  • Hilangnya salah satu atau kedua testis dari skrotum.

  • Skrotum tampak seperti labia dengan kriptorkismus, dengan atau tanpa Mr P yang kecil.

Baca Juga: 7 Masalah Kehamilan Trimester Pertama

Menjaga Kehamilan untuk Cegah Ambiguous Genitalia 

Ambiguous genitalia pada bayi diketahui pada saat bayi masih berada di dalam kandungan atau setelah lahir. Maka itu, hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kondisi tersebut yaitu dengan cara: 

  • Cek kesehatan bersama pasangan saat merencanakan kehamilan. Alasannya karena ambiguous genitalia disebabkan karena riwayat penyakit keluarga. Antara lain kematian anak tanpa penyebab yang jelas, kelainan organ kelamin, hiperplasia adrenal kongenital, kemandulan, tidak adanya menstruasi, tumbuh rambut berlebih di wajah, dan mengalami kelainan perkembangan fisik selama masa puber.

  • Rutin cek kehamilan. Wanita hamil dianjurkan untuk rutin USG kehamilan setidaknya empat kali. Satu kali pada trimester pertama, satu kali pada trimester kedua, dan dua kali pada trimester ketiga. Hal ini untuk membantu dokter menemukan adanya potensi cacat lahir, termasuk ambiguous genitalia.

  • Hindari konsumsi obat yang mengandung hormon androgen. Pasalnya, beberapa obat yang mengandung hormon androgen bisa memicu janin perempuan terpapar hormon androgen. Akibatnya, organ kelamin janin perempuan yang sedang berkembang berpotensi memiliki ciri kelamin laki-laki. Ketidakseimbangan hormonal wanita saat hamil juga bisa menyebabkan janin perempuan terkena hormon pemicu ambiguous genitalia. 

Baca Juga: Tips Sederhana Menjaga Kesehatan Selama Kehamilan Muda

Itulah fakta mengenai ambiguous genitalia yang perlu diketahui. Kalau kamu punya keluhan selama kehamilan, jangan ragu berbicara dengan dokter ahli. Tanpa harus antre, sekarang kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter kandungan di rumah sakit pilihan di sini. Kamu juga bisa tanya jawab sama dokter kandungan dengan download aplikasi Halodoc via fitur Tanya Dokter