25 March 2019

Jangan Diabaikan, Trikotilomania Bisa Pengaruhi Kualitas Hidup

Jangan Diabaikan, Trikotilomania Bisa Pengaruhi Kualitas Hidup

Halodoc, Jakarta - Pernah melihat seseorang sering mencabuti rambutnya dengan sengaja? Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan trikotilomania, gangguan mental di mana seseorang memiliki dorongan yang tak tertahankan untuk mencabuti rambutnya.

Biasanya, dorongan tak tertahankan ini muncul ketika pengidapnya mengalami stres atau cemas. Dengan kata lain, mencabuti rambutnya sendiri merupakan cara yang dilakukan  trikotilomania dalam meredakan stres atau cemas.

Tapi, trikotilomania bukan hanya menyoal rambut di kelapa saja. Sebab, sebagian pengidapnya juga memiliki kecenderungan untuk mencabuti rambut di bagian-bagian tubuh lain. Misalnya, alis dan bulu mata.

Baca juga: Benarkah Trikotilomania Berkaitan dengan OCD?

Yang perlu diwaspadai, gangguan mental ini bisa memengaruhi kualitas hidup pengidapnya. Sebab, trikotilomania yang tak ditangani dengan tepat bisa menimbulkan komplikasi yang bisa mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari pengidapnya.

Kenali Tanda-Tandanya

Selain mencabuti rambut di kepala, ada juga pengidap trikotilomania yang suka mencabuti rambut pada bagian-bagian lain, seperti:

  • Mata (bulu mata dan alis).

  • Wajah (kumis, janggut, dan jambang).

  • Ketiak.

  • Dada.

  • Perut.

  • Kemaluan.

  • Tangan dan kaki.

Di samping itu, pengidap gangguan mental ini akan merasa puas dan lega setelah mencabut rambut. Gejala lainnya juga bisa berupa rasa cemas yang muncul sebelum mencabuti rambut atau ketika menahan untuk tak melakukannya. Gejala yang paling kentara adalah selalu tidak berhasil menahan dorongan untuk mencabut rambut.

Baca juga: Ketahui Komplikasi yang Bisa Diakibatkan oleh Trikotilomania

Gejala lain yang bisa terlihat dari pengidap trikotilomania adalah mereka suka mengamati rambut-rambut yang sudah dicabut (misalnya, mengamati akarnya) atau memilin-milin rambut tersebut. Pada beberapa kasus, pengidap bahkan mengunyah atau memakan rambut mereka.

Ketahui Penyebab Trikotilomania

Ada dugaan trikotilomania berkaitan dengan kelainan pada jalur penghubung bagian-bagian di dalam otak yang berperan dalam mengatur gerakan, emosi, dan impuls, serta dalam membentuk kebiasaan. Tapi, ini hanyalah salah satu faktor saja, sebab banyaknya faktor lain yang juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena trikotilomania. Alhasil, sulit untuk disimpulkan penyebab pastinya.

Genetik adalah salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap terbentuknya trikotilomania. Seseorang yang memiliki keluarga dekat pengidap trikotilomania diyakini berisiko tinggi mengidap kondisi yang sama.

Baca juga: Perlu Tahu, Ini Cara Mengobati Trikotilomania

Kasus trikotilomania paling banyak ditemukan pada perempuan usia praremaja, yaitu kisaran usia 11–13 tahun, ketika terjadi perubahan hormon. Selain itu, ada dugaan kalau trikotilomania kadang-kadang berkaitan dengan masalah psikologis lain. Misalnya, gangguan kepribadian, makan, suasana hati, kecemasan, penyalahgunaan zat, dan bahkan berkaitan dengan gangguan obsesif kompulsif (OCD)

Komplikasi yang Menurunkan Kualitas Hidup

Masalah gangguan ini enggak hanya menyoal rambut saja. Sebab, trikotilomania dapat menyebabkan kebotakan (alopecia), tekanan psikologis, seperti perasaan malu, bersalah, dan perasaan terasing. Semua ini akan berimbas pada hubungan sosial, bahkan menurunnya prestasi di bidang pekerjaan atau pendidikan.

Pada sejumlah kasus, trikotilomania juga bisa menyebabkan trichobezoars atau terbentuknya gumpalan-gumpalan rambut di dalam perut. Komplikasi ini bisa terjadi apabila pengidap trikotilomania sering memakan rambut yang mereka cabuti atau sindrom Rapunzel.

Mau tahu lebih jauh mengenai gangguan mental di atas? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung ke dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!