Jangan Tertukar, Ini Bedanya PMS dan Dismenore

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Jangan Tertukar, Ini Bedanya PMS dan Dismenore

Halodoc, Jakarta - Masa-masa sebelum dan selama menstruasi kerap menjadi momok bagi sebagian besar wanita. Sebab, selama fase ini terjadi, ada berbagai gangguan fisik maupun psikis yang terjadi. Dua gangguan tersebut adalah PMS (Pre Menstrual Syndrome) dan dismenore, yang meski serupa tetapi sebenarnya berbeda. Lalu, apa bedanya PMS dan dismenore?

1. PMS Memiliki Gejala yang Lebih Beragam

Seperti namanya, PMS merupakan sindrom atau sekumpulan gejala yang dialami sebelum masa menstruasi, tepatnya sekitar 7-10 hari sebelumnya. Meski ada juga wanita yang mengalami sindrom ini pada hari pertama menstruasi. Gejala PMS pun terbilang cukup beragam, mencakup gangguan fisik dan psikologis. 

Gangguan fisik dan psikologis yang dialami ketika PMS adalah:

  • Munculnya jerawat. 

  • Mudah lelah. 

  • Nyeri pada perut bagian bawah.

  • Nyeri punggung.

  • Sakit kepala.

  • Nyeri pada payudara.

  • Perubahan nafsu makan, kadang disertai masalah pencernaan.

  • Insomnia.

  • Mood swing.

  • Sulit konsentrasi.

Baca Juga: Nyeri di Perut Bagian Bawah saat Haid, Ini Dismenore

Kompleksitas gejala PMS disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah kombinasi perubahan kondisi hormon estrogen, progesteron, dan serotonin. Kondisi ini terbilang wajar terjadi pada setiap wanita, dan tidak memerlukan pengobatan medis secara khusus. 

Nah, dibanding PMS, dismenore memiliki gejala yang lebih sedikit, dan umumnya hanya mencakup gejala fisik. Secara medis, dismenore dijelaskan sebagai nyeri haid, dengan gejala dan tingkat keparahan yang bisa berbeda-beda pada setiap wanita. 

Namun secara umum, gejala paling khas dari dismenore adalah:

  • Kram atau nyeri di perut bagian bawah yang bisa menyebar sampai ke punggung bawah, dan paha bagian dalam.

  • Nyeri haid muncul 1–2 hari sebelum menstruasi atau di awal-awal menstruasi.

  • Rasa sakit terasa intens atau konstan.

Pada beberapa wanita, ada juga beberapa gejala lain yang muncul bersamaan, sebelum, atau saat siklus menstruasi datang, yaitu: 

  • Perut kembung.

  • Diare.

  • Mual dan muntah.

  • Sakit kepala.

  • Pusing.

  • Lemah, lesu, dan tidak bertenaga.

Sama seperti PMS, dismenore sebenarnya merupakan kondisi yang normal dan wajar dialami oleh wanita. Namun, jika nyeri yang dialami terlampau parah, hingga tidak bisa beraktivitas apapun, sebaiknya diskusikan kondisi dengan dokter. Sekarang, diskusi dengan dokter juga bisa dilakukan di aplikasi Halodoc, lho. Lewat fitur Chat atau Voice/Video Call, kamu bisa obrolkan langsung apapun yang ingin kamu tanyakan seputar PMS dan dismenore.

Baca Juga: Datang Bulan Tanpa Alami Dismenore, Wajarkah?

2. Penyebab Dismenore Lebih Kompleks Ketimbang PMS

Penyebab PMS hingga kini belum diketahui dengan pasti. Namun, kondisi ini diduga kuat disebabkan oleh perubahan kerja hormon yang terjadi sebelum menstruasi. Kendati demikian, pada beberapa kasus, PMS juga bisa disebabkan oleh genetik dan kondisi medis tertentu yang berkaitan dengan rahim.

Sementara itu, dismenore dapat disebabkan oleh banyak faktor, tergantung jenisnya. Nyeri haid ini terbagi menjadi 2, yaitu primer dan sekunder. Dismenore primer tidak disebabkan oleh masalah pada organ-organ reproduksi. Kondisi ini umumnya terjadi karena peningkatan dari prostaglandin, yang diproduksi pada lapisan dari rahim, yang memicu kontraksi dari rahim. 

Secara alami, rahim cenderung memiliki kontraksi lebih kuat semasa haid, yang kemudian menimbulkan rasa nyeri. Selain itu, kontraksi rahim yang terlalu kuat dapat menekan pembuluh darah di sekitarnya dan menyebabkan kurangnya aliran darah ke jaringan otot dari rahim. Jika jaringan otot mengalami kekurangan oksigen akibat kekurangan suplai darah, nyeri dapat timbul.

Lalu jenis yang kedua, dismenore sekunder, disebabkan oleh patologi pada organ reproduksi. Berbagai kondisi medis yang dapat menimbulkan keluhan dismenore sekunder adalah:

  • Endometriosis.

  • Pelvic Inflammatory Disease (PID)/ penyakit radang panggul.

  • Kista atau tumor pada ovarium.

  • Pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).

  • Transverse vaginal septum.

  • Pelvic congestion syndrome.

  • Allen-Masters syndrome.

  • Stenosis atau sumbatan pada serviks.

  • Adenomiosis.

  • Fibroid.

  • Polip rahim.

  • Perlengketan pada bagian dalam rahim.

  • Malformasi kongenital (bicornuate uterus, subseptate uterus, dan sebagainya).

Baca Juga: Inilah yang Termasuk Dismenore yang Tidak Wajar

3. Perbedaan Penanganan

Satu lagi hal yang menjadi pembeda PMS dan dismenore adalah penanganan yang dapat dilakukan. PMS umumnya bukan kondisi serius dan cenderung dapat diatasi dengan mudah. Hal yang bisa dilakukan sebagai penanganan sekaligus pencegahan adalah menerapkan gaya hidup sehat seperti istirahat yang cukup, memiliki pola makan sehat, menghindari makanan tinggi garam dan gula, alkohol, kafein, olahraga teratur, dan mengelola stres.

Sementara itu, penanganan untuk dismenore umumnya akan tergantung pada kondisi yang mendasarinya. Pada dismenore yang ringan, biasanya cukup dengan mengonsumsi obat pereda nyeri dan istirahat yang cukup. Namun jika dismenore yang terjadi cukup parah, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter untuk mencari tahu kondisi kesehatan yang mungkin menjadi penyebabnya. Kemudian, penanganan akan dilakukan berdasarkan saran dari dokter. 

Referensi:
Deborah A. Booton, PhD, RN, and Ruth Young Seideman, PhD, RN. AAOHN Journal, August 1989, Vol 37 No 8. Diakses pada 2019. Relationship Between Premenstrual Syndrome and Dysmenorrhea
WebMD. Diakses pada 2019. What is PMS?
Cleveland Clinic. Diakses pad 2019. Dysmenorrhea