• Home
  • /
  • Jarang Buang Air Kecil, Waspada Hidronefrosis

Jarang Buang Air Kecil, Waspada Hidronefrosis

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Jarang Buang Air Kecil, Waspada Hidronefrosis

Halodoc, Jakarta - Buang air kecil adalah salah satu kegiatan yang pasti dilakukan oleh setiap orang agar tubuhnya tetap sehat. Hal tersebut terjadi karena tubuh membuang kelebihan air pada tubuh bersamaan dengan kotoran-kotoran yang dapat berbahaya jika bertumpuk.

Walau begitu, ternyata beberapa orang terbilang jarang untuk buang air kecil. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh hidronefrosis yang dapat menghambat aliran urine untuk ke luar. Hal ini dapat menyebabkan gagal ginjal jika dibiarkan. Berikut pembahasan lengkap tentang hidronefrosis!

Baca juga: Begini Cara Tepat untuk Diagnosis Penyakit Hidronefrosis

Apa Itu Hidronefrosis?

Hidronefrosis adalah kondisi yang menyebabkan seseorang kesulitan untuk buang air kecil dan disebabkan oleh pembengkakan ginjal. Hal tersebut membuat urine gagal mengalir dengan baik dari ginjal ke kandung kemih. Pembengkakan pada ginjal ini umumnya terjadi pada satu ginjal, walau tidak menutup kemungkinan terjadi pada keduanya.

Walau begitu, hidronefrosis yang terjadi tidak dapat disebut penyakit primer. Gangguan ini disebut sebagai kondisi sekunder karena disebabkan beberapa penyakit mendasar lainnya. Hidronefrosis bersifat struktural dan dapat terjadi pada 1 dari setiap 100 bayi.

Apa yang Menyebabkan Hidronefrosis?

Umumnya, urine akan mengalir dari ginjal ke saluran ureter, yang kemudian akan mencapai kandung kemih dan berakhir keluar dari tubuh dengan cara buang air kecil. Dalam kasus yang jarang, urine kembali atau tertinggal di dalam ginjal. Hal tersebut yang menyebabkan hidronefrosis terjadi.

Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab umum dari hidronefrosis adalah:

  • Terjadinya Sumbatan Sebagian di Saluran Kemih

Salah satu penyebab seseorang mengalami hidronefrosis adalah penyumbatan saluran kemih di persimpangan ureteropelvic, tempat bertemunya ginjal dengan ureter. Pada kasus yang jarang, sumbatan terjadi ketika ureter bertemu dengan kandung kemih.

  • Refluks Vesikoureteral

Refluks vesikoureteral dapat terjadi ketika urine mengalir mundur melalui ureter dari kandung kemih ke ginjal. Kesalahan cara mengalir tersebut membuat ginjal sulit untuk kosong, sehingga ginjal menjadi bengkak.

Penyebab hidronefrosis lainnya yang mungkin terbilang jarang adalah disebabkan oleh batu ginjal. Selain penyakit tersebut, tumor di perut atau panggul dan masalah dengan saraf juga dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan pada ginjal tersebut.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait gangguan yang disebabkan pembengkakan pada ginjal ini, dokter dari Halodoc dapat membantu. Kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang kamu gunakan! Selain itu, kamu juga dapat melakukan pemesanan pemeriksaan fisik secara online dengan aplikasi Halodoc.

Baca juga: Ketahui 4 Cara Mengatasi Hidronefrosis

Gejala yang Ditimbulkan Hidronefrosis

Gangguan pembengkakan pada ginjal ini dapat terjadi pada semua umur. Apabila kelainan ini terjadi pada anak-anak, umumnya dokter akan telah menemukannya saat dilakukan USG prenatal sebelum bayi lahir atau setelah bayi lahir. Hidronefrosis yang terjadi mungkin saja tidak menimbulkan gejala. Jika ada, berikut beberapa gejala yang dapat terjadi:

  • Nyeri di samping dan belakang pada panggul yang dapat menyebar ke perut bagian bawah hingga selangkangan.

  • Masalah pada kemih, seperti nyeri saat buang air kecil atau menjadi lebih sering ingin buang air kecil.

  • Mual dan muntah.

  • Demam.

Cara Diagnosis dan Pengobatan Hidronefrosis

Setelah memastikan gejalanya, dokter akan memastikan apabila gangguan tersebut disebabkan oleh hidronefrosis. Kamu mungkin akan mendapat pemeriksaan darah, urine, pencitraan ultrasonografi, hingga cystourethrogram. Setelah dipastikan penyebab gangguannya, dokter akan menentukan pengobatan yang terbaik untuk dilakukan.

Perawatan yang dilakukan untuk mengatasi gangguan ini dapat tergantung seberapa parah gangguan tersebut terjadi. Dokter akan melihat perkembangan penyakit tersebut dalam memilih pengobatan, karena hidronefrosis ini dapat sembuh dengan sendirinya. Walau begitu, terapi antibiotik dapat dilakukan untuk menurunkan risiko infeksi.

Baca juga: Hidronefrosis Dapat Sebabkan Gagal Ginjal, Ini Alasannya

Ketika seseorang mengidap hidronefrosis yang parah, hal tersebut dapat menyulitkan ginjal untuk berfungsi, yang mungkin terjadi ketika seseorang mengidap gangguan refluks. Maka dari itu, pembedahan mungkin dilakukan untuk menghilangkan sumbatan atau menyembuhkan refluks.

Apabila tidak diobati, pengidapnya mungkin akan mengalami kerusakan ginjal permanen. Walau begitu, komplikasi tersebut terbilang jarang terjadi. Pada kebanyakan kasus, kondisi ini dapat diatasi. Selain itu, hidronefrosis umumnya terjadi pada satu ginjal, sehingga ginjal lainnya tetap dapat melakukan fungsinya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Vesicoureteral reflux
Health Line. Diakses pada 2019. Hydronephrosis