Jenis Penyakit yang Bisa Dideteksi Lewat Tes Imunitas

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Jenis Penyakit yang Bisa Dideteksi Lewat Tes Imunitas

Halodoc, Jakarta – Banyak tes tersedia untuk diagnosis penyakit, salah satunya tes imunitas. Tes ini bertujuan untuk diagnosis dini infeksi patogen, mengukur sistem imun, dan memantau respons tubuh setelah mendapatkan vaksinasi. Berikut hal tentang tes imunitas yang perlu diketahui.

Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat untuk Lakukan Tes Imunologi?

Bagaimana Tes Imunitas Dilakukan?

Substansi atau patogen dalam tubuh dicek dengan tes imunologi, tujuannya untuk deteksi virus, hormon, dan pigmen hemoglobin dalam darah. Tes ini dilakukan dengan memproduksi antibodi buatan yang cocok dengan substansi atau bakteri penyakit. Saat kontak dengan sampel darah, urine, atau feses, antibodi buatan saling berikatan dengan patogen dalam tubuh. Reaksi ini bisa terlihat kasat mata, tapi ada yang memerlukan alat khusus.

Tes imunologi terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Tes laboratorium. Alat khusus digunakan untuk mengukur jumlah antibodi yang berikatan menggunakan cahaya atau reaksi warna. Semakin besar reaksi, semakin banyak keberadaan patogen dalam tubuh. Tes laboratorium berlangsung lebih lama dan lebih akurat dibanding tes cepat.

  • Tes cepat. Tes cepat menggunakan kertas (paper strips) atau kaca. Metode ini mudah dilakukan dan memberikan hasil instan. Namun, tes ini tidak seakurat hasil tes laboratorium dan tidak bisa mengukur jumlah patogen dalam tubuh.

Apa Saja Penyakit yang Dideteksi Lewat Tes Imunitas?

Ada banyak penyakit yang bisa dideteksi lewat tes imunitas, berikut di antaranya:

  • Deteksi kanker usus. Tes imunitas mengidentifikasi keberadaan darah dalam feses. Caranya dengan mengukur pigmen hemoglobin darah. Hasilnya bisa digunakan untuk deteksi dini penyakit hemoroid, polip, dan kanker usus.

  • Tes alergi, caranya dengan deteksi keberadaan antibodi alergi dalam tubuh.

  • Deteksi keberadaan bakteri dan virus. Misalnya deteksi bakteri Streptococcus penyebab demam Scarlet, bakteri Borrelia penyebab penyakit Lyme, serta virus hepatitis C, HIV, dan HPV. Wanita hamil bisa melakukan tes imunitas untuk deteksi keberadaan parasit toksoplasma, penyebab infeksi toksoplasmosis yang membahayakan ibu hamil dan janin dalam kandungan.

  • Diagnosis serangan jantung dan trombosis. Pasalnya, beberapa saat setelah serangan jantung atau saat seseorang memiliki trombosis, akan ditemukan protein jenis tertentu dalam darah.

  • Tes urine. Keberadaan gula, darah, protein, atau sel tertentu dalam urine bisa dideteksi lewat tes cepat. Hal ini mampu mendeteksi penyakit diabetes, infeksi saluran kemih, hingga kerusakan ginjal.

  • Tes kehamilan, karena tes bisa mendeteksi keberadaan beta-hCG pada wanita hamil.

  • Manfaat lainnya. Tes imunitas bisa dilakukan untuk diagnosis penyakit autoimun, menentukan jenis rheumatoid arthritis, dan memantau perkembangan sel tumor.

Kapan Tes Imunitas Dilakukan?

Tes imunitas biasanya dianjurkan saat kamu mengalami ruam kulit, alergi, sakit setelah bepergian, diare terus - menerus, penurunan berat badan tanpa sebab, dan demam. Selain itu, tes imunitas dipertimbangan jika kamu mengalami keguguran lebih dari 2 kali, kegagalan bayi tabung, endometriosis, dan ada anggota keluarga yang mengidap penyakit autoimun.

Itulah hal yang perlu diketahui tentang tes imunitas. Kalau kamu ingin melakukan tes kesehatan, gunakan fitur Lab Service yang ada di aplikasi Halodoc. Kamu hanya perlu menentukan waktu, lokasi, dan jenis pemeriksaan medis yang dibutuhkan, lalu petugas lab datang sesuai jadwal yang ditentukan. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!