• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jenis Persalinan yang Aman untuk Ibu yang Mengidap HIV
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jenis Persalinan yang Aman untuk Ibu yang Mengidap HIV

Jenis Persalinan yang Aman untuk Ibu yang Mengidap HIV

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 27 Juni 2022

“Ibu yang mengidap HIV perlu memilih jenis persalinan yang aman. Metode persalinan pun akan bergantung pada viral load dalam tubuh ibu.”

Jenis Persalinan yang Aman untuk Ibu yang Mengidap HIV

Halodoc, Jakarta – HIV masih jadi salah satu penyakit yang ditakuti. Seseorang dapat menularkan HIV melalui darah dan beberapa cairan tubuh. Ibu yang sedang hamil bahkan juga bisa menularkan virus tersebut kepada janin yang dikandungnya. Lantas, adakah jenis persalinan yang aman untuk ibu yang mengidap HIV?

Sebab, tak hanya saat dalam kandungan, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi bisa terjadi selama proses persalinan. Ingin tahu lebih lanjut? Yuk simak pembahasannya berikut ini!

Jenis Persalinan dan Risiko HIV

Ibu hamil dapat menularkan HIV kepada bayinya yang belum lahir kapan saja selama kehamilan, persalinan, dan saat menyusui. Ini dikenal sebagai transmisi perinatal. 

Komplikasi potensial untuk bayi dengan HIV yang tidak diobati dapat mencakup infeksi berulang, masalah jantung dan organ tubuh lainnya, keterlambatan pertumbuhan, serta IQ rendah.

Namun, banyak ibu hamil dapat memiliki bayi yang negatif HIV yang sehat dengan pemeriksaan dan pemeriksaan kehamilan yang baik. Dengan bekerja sama dengan dokter dan mengikuti pedoman, ibu hamil yang mengidap HIV tidak akan menularkan virus ke bayi mereka.

Namun, memilih jenis persalinan yang tepat adalah hal yang paling penting. Sebab HIV dapat menular ke bayi selama kelahiran, dan metode persalinan dapat memengaruhi risikonya. Namun, jika ibu hamil memiliki viral load rendah atau viral load tidak terdeteksi, persalinan pervaginam aman dilakukan.

Sementara jika ibu hamil memiliki viral load yang tidak diketahui atau tinggi, jenis persalinan caesar yang dijadwalkan adalah pilihan terbaik. Persalinan caesar dilakukan dengan membuat sayatan di perut dan rahim untuk melahirkan bayi.

Meski begitu, melahirkan secara caesar juga membawa risiko lain. Ibu yang mengidap HIV mungkin memiliki jumlah CD4 (jenis sel darah putih atau limfosit) yang rendah, yang menunjukkan sistem kekebalan yang lemah. 

Oleh karena itu, mereka mungkin memiliki risiko infeksi yang lebih besar setelah persalinan caesar.

Apakah Bayi Memerlukan Perawatan?

Bayi yang lahir dari ibu yang mengidap HIV perlu menjalani tes HIV berkali-kali dalam beberapa bulan pertama kehidupan. Tes akan mencari keberadaan HIV dalam darah bayi. 

Jika dua dari hasil tes positif, ini menunjukkan adanya infeksi HIV. Sebaliknya, bayi tidak terinfeksi HIV jika dua hasil tes menyatakan negatif. Dokter biasanya akan melakukan tes HIV lain ketika bayi berusia 12-18 bulan.

Selain memilih jenis persalinan yang tepat, penting juga untuk memahami bahwa HIV bisa menular dari proses menyusui. Ibu yang mengidap HIV tidak disarankan untuk menyusui bayinya, karena berpotensi menularkan virus melalui ASI.

Bisakah Menurunkan Risiko Penularan HIV pada Bayi?

Saat ini, belum tersedia obat untuk mengatasi infeksi HIV. Namun, pengidapnya dapat mengelola HIV dengan pengobatan. Selain memilih jenis persalinan yang tepat, penting bagi ibu untuk memahami bahwa HIV dapat menular ke janin melalui plasenta. 

Plasenta adalah organ di dalam rahim yang menyediakan nutrisi bagi janin dan membuang produk-produk limbah. Nah, konsumsi obat antiretroviral dapat mengurangi viral load HIV dalam tubuh ibu dan dapat mengurangi risiko penularan virus ke janin.

Lebihh jelasnya, berikut ini pedoman yang bisa diikuti untuk mengurangi risiko menularkan HIV kepada bayi:

  • Mengonsumsi kombinasi antiretroviral selama kehamilan.
  • Melahirkan bayi dengan jenis persalinan caesar jika tingkat HIV dalam tubuh tinggi.
  • Minum obat HIV selama persalinan dan melahirkan.
  • Memberikan obat HIV kepada bayi setelah lahir.
  • Memilih untuk tidak menyusui.

Sejauh ini, menjalani terapi dengan obat antiretroviral masih jadi cara terbaik untuk mengurangi risiko penularan HIV pada bayi. Bahkan, seperti dijelaskan tadi, ibu hamil yang menjalani terapi obat antiretroviral dan memiliki viral load yang rendah, memiliki peluang untuk memilih jenis persalinan pervaginam. 

Viral load mengacu pada jumlah virus per mililiter (ml) darah pada seseorang. Obat antiretroviral dapat menekan jumlah HIV dalam tubuh, bahkan sampai pada titik di mana viral load tidak terdeteksi pada tes. 

Untuk lebih jelasnya, sebaiknya diskusikan langsung masalah ini pada dokter. Ibu bisa download Halodoc untuk membuat janji rumah sakit dan menemui dokter untuk berkonsultasi lebih lanjut.

Referensi:
National Institute of Allergy and Infectious Disease. Diakses pada 2022. Preventing Perinatal Transmission of HIV.
Pregnancy Birth & Baby. Diakses pada 2022. HIV and Pregnancy.
Medical News Today. Diakses pada 2022. What To Know About Hiv and Giving Birth.