Persalinan

Ditinjau oleh: dr. Fitrina Aprilia

Pengertian Persalinan

Persalinan diartikan sebagai proses pengeluaran hasil konsepsi atau yang biasa kita sebut sebagai janin atau kandungan. Umumnya, seorang ibu akan merasa bahagia dan senang sebelum proses persalinan setelah penantian panjang. Sebagian akan merasa takut dan gelisah, baik senang maupun gelisah hal tersebut merupakan hal yang normal setelah seorang ibu mengandung 9 bulan.

Proses persalinan juga menjadi proses yang melelahkan, baik bagi sang ibu maupun sang ayah karena diperlukan kesabaran dalam menjalani prosesnya. Ada banyak hal yang harus diketahui dan dilakukan untuk memastikan bahwa sang ibu dan si kecil berada dalam kondisi sehat sebelum dan setelah persalinan. Tak hanya itu saja, metode persalinan juga harus diketahui agar ibu bisa mempersiapkan segala hal dengan baik nantinya.

 

Metode Persalinan

Terdapat beberapa metode atau model persalinan yang bisa dilakukan ketika seorang ibu sudah siap untuk menjalani proses persalinan. Umumnya, metode persalinan yang biasa dilakukan adalah lotus birth, water birth, vaginal birth, gentle birth, dan juga caesar.  

Baca juga: Macam-macam Metode Melahirkan yang Perlu Ibu Tahu

 

Faktor Risiko Persalinan

Setiap kehamilan dan proses persalinan pasti memiliki faktor risiko yang bisa membahayakan nyawa ibu maupun nyawa kandungannya. Faktor usia dan kesehatan merupakan faktor yang bisa meningkatkan risiko seorang ibu untuk bisa mengalami komplikasi, baik selama kehamilan maupun saat persalinan. Berikut ini beberapa faktor yang dapat memengaruhi gangguan dalam proses persalinan, yaitu:

  • Adanya anomali pada alat kelamin. Anomali struktur organ bisa terjadi kepada siapa saja, dan hal tersebut tentu bisa memengaruhi proses persalinan. Umumnya, perbedaan bentuk pada uterus atau serviks bisa meningkatkan risiko keguguran, fetus yang memiliki posisi abnormal. Selain itu, kesulitan saat melahirkan juga bisa terjadi. Masalah tersebut bisa diatasi dengan persalinan caesar untuk menghindari risiko tersebut.

  • Usia ibu terlalu muda. Jika seorang wanita berumur di bawah 20 tahun akan menjalani proses persalinan, umumnya memiliki risiko lebih tinggi bila dibandingkan dengan wanita yang berumur di atas 20 tahun. Wanita remaja memiliki risiko untuk melahirkan secara prematur, memiliki bayi dengan berat badan di bawah rata-rata, dan juga mengalami preeclampsia.

  • Ibu mengidap PMS. Jika seorang wanita mengidap penyakit menular seksual saat kehamilan, maka kandungannya memiliki risiko untuk tertular. Saat persalinan, bayi bisa saja menderita pneumonia, kebutaan. Hal itu merupakan dampak dari penyakit menular seksual yang di derita oleh sang ibu dan memiliki dampak yang berbeda. Contoh penyakit menular seksual tersebut adalah HIV/AIDS, sifilis, gonorrhea, dan lain-lain.

Baca juga: Kurang Populer, Ini Manfaat Kurma Bagi Ibu Usai Melahirkan

 

Gejala yang Muncul Sebelum Persalinan

Proses persalinan bukanlah proses yang bisa dilakukan sebelum waktunya. Umumnya,  usia kandungan di dalam perut ibu adalah 9 bulan. Sebagian orang melakukan persalinan sebelum usia kandungan belum mencapai 9 bulan, hal ini disebut sebagai kelahiran prematur karena terlalu cepat. Terdapat beberapa hal yang menunjukan gejala bahwa sang ibu sudah harus melahirkan anaknya. Berikut ini beberapa tanda bahwa seorang ibu akan segera menjalani proses persalinan, yaitu:

  • Kesulitan untuk tidur;

  • Merasakan nyeri pada punggung, kram atau sakit perut, seperti mulas ingin buang air besar atau seperti saat sedang dalam masa pramenstruasi;

  • Meningkatnya frekuensi untuk buang air kecil;

  • Vagina mengeluarkan lendir kental bercampur darah;

  • Adanya kontrakasi rahim yang semakin lama semakin sering;

  • Terjadi perubahan pada serviks; dan

  • Air ketuban pecah.

Berdasarkan beberapa gejala di atas, saat air ketuban pecah menunjukan bahwa seorang ibu sudah harus melahirkan anaknya dan memulai proses persalinan.

Baca juga: Kondisi Mata Bayi Prematur Bisa Dideteksi dengan Screening Retina, Benarkah?

 

Pencegahan Komplikasi Persalinan

Meskipun komplikasi bisa terjadi kepada setiap orang, tetapi ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan oleh ibu untuk mengurangi risiko terjadinya komplikasi sebelum dan saat proses persalinan. Berikut ini beberapa tindakan yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Selalu mengonsumsi makanan sehat;

  • Berhenti minum alkohol dan merokok;

  • Rutin olahraga khusus ibu hamil;

  • Mengurangi stres yang dirasakan;

  • Tidak bepergian terlalu jauh yang bisa menyebabkan kelelahan; dan

  • Sering memeriksakan kesehatan diri dan kandungan ke dokter.

Referensi:
Medline Plus.(DIakses pada 2019). Childbirth
Pregnancy Birth Baby. (Diakses pada 2019). What happens to your body during childbirth
 

Pertanyaan Seputar Persalinan

Kenapa air ketubahn saya sewaktu melahirkan secara SC kemarin sangat keruh dok?

Ditanyakan oleh: bobskitchen

Dijawab oleh: dr Rizal Fadli

Beberapa penyebab air ketuban seorang wanita hamil bisa berubah menjadi keruh, antara lain:

  • Air ketuban berubah keruh bisa jadi gejala infeksi Chorioamnionitis yang terjadi pada plasenta. Infeksi tersebut juga bisa menyebabkan terjadinya air ketuban pecah dini. Jika kondisi tersebut terjadi, janin harus segera dikeluarkan. 
  • Usia kehamilan. Hal ini juga bisa menyebabkan air ketuban berubah menjadi keruh, saat usia kehamilan melebihi waktu normal yaitu lebih dari 42 minggu. Air ketuban akan mengalami perubahan warna menjadi keruh, karena feses yang dikeluarkan oleh bayi akan tercampur dengan cairan tersebut.
  • Perubahan warna pada air ketuban juga bisa menjadi pertanda terjadinya kelainan kongenital pada bayi. Selain itu, perubahan warna air ketuban juga bisa menjadi pertanda munculnya kondisi serius yang harus segera ditangani.

Air ketuban keruh bisa dideteksi sebelum persalinan terjadi. Supaya bisa terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya ibu segera berdiskusi dengan dokter. Perlu ibu ketahui bahwa air ketuban yang keruh saat proses persalinan bisa sangat berbahaya jika tertelan oleh janin.

 

Cara turunin bb pasca secar dok?

Ditanyakan oleh: banianantasari

Dijawab oleh: dr Fadhli Rizal Makarim

Prinsip penurunan berat badan sebenarnya sama, yaitu energi yang dikeluarkan harus lebih besar dari jumlah energi yang dimasukkan (dimakan). Oleh karena itu, meningkatkan sejumlah latihan dan olahraga serta membatasi asupan kalori yang masuk merupakan cara paling efektif untuk menurunkan berat badan dalam berbagai kondisi. Masalah yang mungkin muncul pasca tindakan operasi caesar adalah munculnya kulit bergelambir di sekitar perut. Nah, untuk masalah ini biasanya dapat diselesaikan dengan latihan tertentu yang melibatkan otot perut, seperti sit up, atau squat yang dapat mengembalikan elastisitas dari kulit di perut.