7 Kebiasaan untuk Mencegah Emboli

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
 Emboli, penyumbatan pembuluh darah,

Halodoc, Jakarta - Apabila terjadi kondisi ketika benda atau zat asing seperti gumpalan darah atau gelembung gas tersangkut pada pembuluh darah dan menyebabkan penyumbatan pada aliran darah, kondisi tersebut dikenal dengan emboli. Emboli pada setiap orang menimbulkan gejala yang berbeda, tergantung pada tipe dan lokasi pembuluh darah yang tersumbat.

Secara umum, setiap tubuh manusia memiliki tiga tipe pembuluh darah di seluruh organ tubuh, yaitu arteri, vena, dan kapiler. Arteri bertugas sebagai penyuplai oksigen dari jantung ke seluruh tubuh, vena bertugas mengembalikan oksigen ke jantung, sementara kapiler adalah pembuluh darah terkecil yang menghubungkan arteri dari vena sekaligus mengatur pasokan oksigen ke jaringan tubuh.

Saat salah satu atau lebih pembuluh darah suatu organ mengalami penyumbatan, fungsi organ tersebut bisa terganggu. Penyumbatan pembuluh darah yang mengganggu fungsi organ bisa menyebabkan kerusakan pada organ tersebut secara permanen jika tidak ditangani secara tepat.

Baca juga: 5 Negara yang sering Jadi Tujuan untuk Operasi Plastik

Ada beberapa kebiasaan yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi risiko terjadinya emboli. Kebiasaan tersebut antara lain:

  1. Hindari dehidrasi dengan menjaga asupan cairan tubuh.

  2. Rutin berolahraga.

  3. Menerapkan diet dengan gizi seimbang dan menjaga berat badan ideal.

  4. Tidak merokok atau mengonsumsi alkohol.

  5. Hindari duduk terlalu lama atau kurang aktif bergerak.

  6. Hindari penggunaan pakaian ketat.

  7. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Pencegahan memang perlu dilakukan. Namun, akan lebih baik juga kamu mengetahui penyebab-penyebab terjadinya emboli, supaya kamu dapat menghindarinya. Berikut merupakan beberapa zat yang bisa mengakibatkan terjadinya emboli:

  1. Gas

Gelembung gas atau udara menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah. Kondisi ini umumnya terjadi pada penyelam. Gelembung gas atau udara bisa muncul dalam pembuluh saat seorang penyelam mengalami penyakit dekompresi, akibat terlalu cepat kembali ke permukaan.

Baca juga: Seperti Ini Prosedur Operasi Plastik di Wajah

  1. Gumpalan Darah

Tubuh manusia memiliki proses pembekuan darah alami saat terluka. Proses pembekuan tersebut berfungsi untuk mencegah terjadinya perdarahan. Pembekuan darah terjadi berlebihan meski tidak adanya sayatan atau luka pada seseorang dengan kondisi seperti obesitas, penyakit jantung, kanker, atau ibu hamil. Pembekuan darah yang berlebihan berpotensi menyebabkan gumpalan darah dan mengganggu sistem peredarah darah pada tubuh.

  1. Kolesterol

Orang yang mengalami atau memiliki riwayat aterosklerosis berpotensi mengidap emboli. Aterosklerosis merupakan kondisi ketika pembuluh darah menyempit akibat adanya penimbunan kolesterol. Pada kondisi yang berat, timbunan kolesterol yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah pada pengidap aterosklerosis, bisa terlepas dan mengalir di dalam pembuluh darah, serta tersangkut dan menyumbat pembuluh darah di lokasi lain.

  1. Lemak

Terjadinya patah tulang bisa membuat lemak yang ada dalam tulang terlepas dan masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga menyebabkan penyumbatan.

Baca juga: Sebelum Coba, ketahui 4 Fakta Tentang Facelift

Perlu kamu ketahui pula bahwa emboli dapat membawa komplikasi yang berbeda-beda pada pengidap, tergantung pada tipe dan lokasi pembuluh darah yang tersumbat, serta kondisi pengidap secara keseluruhan. Beberapa komplikasi emboli yang perlu diwaspadai yaitu:

  • Pembengkakan.

  • Kulit kering dan mengelupas.

  • Stroke atau serangan jantung.

  • Kerusakan otak.

  • Perubahan warna kulit.

Itulah yang perlu kamu ketahui mengenai emboli agar kamu dapat mencegah atau menyadari kemunculannya. Saat kamu mencurigai adanya gejala emboli, sebaiknya segera lakukan komunikasi dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan dokter di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dokter dapat diterima dengan praktis dengan cara download aplikasi Halodoc di Google.