01 November 2018

Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Batu Kandung Kemih

Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Batu Kandung Kemih

Halodoc, Jakarta – Batu kandung kemih adalah batu yang terdiri dari mineral yang ditemukan pada kandung kemih, yaitu tempat penampungan urine sebelum dikeluarkan dari tubuh melalui uretra. Penyakit ini bisa terjadi akibat terganggunya proses pengosongan kandung kemih sehingga urine masih tertinggal di dalamnya. Akibatnya, mineral dalam urine saling menempel dan mengeras, lalu membentuk kristal dan batu.

Kebiasaan yang Meningkatkan Risiko Batu Kandung Kemih

Ada beberapa kebiasaan yang meningkatkan seseorang rentan mengidap batu kandung kemih dan harus kamu ketahui. Berikut ini di antaranya:

1. Jarang Minum Air Putih

Jarang minum air putih bisa menyebabkan urine pekat sehingga meningkatkan risiko terjadinya batu kandung kemih. Maka itu, kamu dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan cairan dengan perbanyak minum air putih, setidaknya 8 gelas sehari atau disesuaikan dengan kebutuhan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Internal Medicine menyebutkan meningkatkan asupan air bisa mengurangi infeksi kandung kemih hingga setengahnya. Alasannya karena air putih membantu mengeluarkan bakteri pada kandung kemih dan mencegah pembentukan batu kandung kemih.

2. Diet Kurang Sehat

Risiko terbentuknya batu kandung kemih cenderung lebih tinggi ketika diet tinggi lemak, gula atau garam dilakukan. Risiko ini rentan terjadi pada seseorang yang kurang mendapat asupan vitamin A dan B. Maka itu, kamu tetap perlu memenuhi nutrisi penting bagi tubuh (seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral) meskipun sedang menjalani diet.

3. Penyebab Lainnya

Selain dua kebiasaan tersebut, risiko batu kandung kemih juga meningkat saat seseorang mengalami masalah kesehatan berikut ini:

  • Operasi pembesaran kandung kemih.

  • Infeksi kandung kemih atau terapi radiasi di area panggul.

  • Batu ginjal berukuran kecil karena bisa masuk ke dalam kandung kemih dan menjadi batu kandung kemih.

  • Pembesaran prostat karena bisa menekan saluran kemih dan menghalangi aliran normal urine dari kandung kemih.

  • Sistokel, yaitu kondisi saat jaringan penyokong antara kandung kemih dan Miss V melemah sehingga sebagian kandung kemih turun dan menonjol ke arah Miss V. Kondisi ini menjebak aliran urine sehingga urine mengendap dan membentuk kandung kemih.

  • Rusaknya saraf kandung kemih sehingga urine tidak sepenuhnya dibuang ke luar tubuh. Kerusakan bisa disebabkan oleh cedera serius pada tulang belakang atau penyakit saraf, seperti spina bifida.

  • Divertikel kandung kemih, yaitu terbentuknya kantong pada dinding kandung kemih. Penyakit ini menyebabkan gangguan pengosongan kandung kemih sehingga berisiko terkena batu kandung kemih akibat endapan urine.

  • Penggunaan alat medis, seperti kateter. Alasannya karena penggunaan kateter bisa menyebabkan urine mengkristal di permukaan alat medis tersebut.

Diagnosis dan Pengobatan Batu Kandung Kemih

Diagnosis batu kandung kemih dilakukan dengan pemeriksaan fisik berupa foto rontgen, analisis urine, USG, dan spiral CT scan. Setelah diagnosis ditetapkan, penyakit ini diobati dengan tindakan medis untuk mengangkat batu kandung kemih. Di antaranya dengan cystolitholapaxy untuk menghancurkan batu kandung kemih hingga menjadi kepingan kecil, serta pembedahan jika ukuran batu kandung kemih terlalu besar dan keras untuk dikeluarkan dengan prosedur cystolitholapaxy.

Itulah kebiasaan yang meningkatkan risiko batu kandung kemih. Kalau kamu mengalami nyeri saat buang air kecil, segera berbicara dengan dokter Halodoc untuk mencari tahu penyebab dan mendapat penanganan yang tepat. Kamu bisa menghubungi dokter Halodoc kapan saja dan di mana saja melalui fitur Contact Doctor via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca Juga: