Batu Kandung Kemih

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Batu Kandung Kemih

Batu kandung kemih atau yang dikenal juga dengan bladder calculi merupakan batu yang terbentuk dari endapan mineral yang ada dalam kandung kemih. Semua orang sebenarnya berisiko memiliki satu batu kandung kemih, tapi pria berusia lebih dari 50 tahun berisiko lebih tinggi mengalaminya, terutama bagi pria yang mengalami pembesaran prostat.

Batu kandung kemih bisa menyumbat saluran urine dan menyebakan nyeri saat buang air kecil, kesulitan berkemih atau tidak bisa berkemih sama sekali. Bila tidak segera ditangani, batu kandung kemih berpotensi menyebabkan infeksi dan komplikasi. Penanganan batu kandung kemih biasanya memerlukan bantuan dokter. Namun, batu kandung kemih berukuran kecil bisa saja keluar bersamaan dengan urine.

 

Faktor Risiko Batu Kandung Kemih

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang berisiko mengalami batu kandung kemih, antara lain:

  • Kerusakan Saraf. Atau yang disebut juga dengan neurogenic bladder, yaitu kondisi ketika saraf kandung kemih kamu tidak bisa berfungsi seperti biasanya. Kondisi ini bisa menyebabkan urine tertinggal dalam kandung kemih. Kerusakan saraf bisa disebabkan oleh beberapa kondisi medis, seperti diabetes cedera tulang belakang, dan stroke.

  • Memiliki prostat yang lebih besar dari ukuran normal. Prostat adalah organ yang hanya dimiliki pria. Fungsinya adalah membantu menghasilkan air mani. Seiring bertambahnya usia pria, prostat biasanya menjadi lebih besar dan bisa menekan uretra, yaitu tabung yang membawa urine keluar dari tubuh. Kondisi tersebut membuat aliran urine tidak bisa mengalir keluar, sehingga akhirnya kandung kemih sulit dikosongkan.

  • Batu kandung kemih juga bisa dipicu oleh membengkaknya kandung kemih. Pembengkakan ini disebabkan oleh infeksi saluran kemih dan terapi radiasi di area panggul.

  • Kondisi ini terjadi pada wanita, yaitu ketika salah satu area dinding kandung kemih melemah atau mengendur dan jatuh ke arah vagina. Sistokel bisa menyebabkan aliran urine terhambat, sehingga akhirnya urine mengendap membentuk batu kandung kemih.

  • Alat-alat medis. Penggunaan kateter urine atau alat KB kadang bisa menjadi penyebab terbentuknya batu kandung kemih. Mineral yang terkandung dalam urine seringkali ditemukan mengkristal di permukaan alat-alat medis tersebut.

  • Risiko terbentuknya batu kandung kemih akan lebih tinggi pada orang yang menjalani diet tinggi lemak, gula, atau garam, tapi hanya mengonsumsi sedikit asupan vitamin A dan B. Kurang minum air juga bisa meningkatkan risiko batu kandung kemih.

  • Batu ginjal. Batu ginjal tidak sama dengan batu kandung kemih, karena proses pembentukannya berbeda. Namun, biasanya batu ginjal berukuran kecil dan bisa turun dengan mudah ke dalam kandung kemih, sehingga menjadi batu kandung kemih.

Baca juga: Batu Kandung Kemih Vs Batu Ginjal, Lebih Bahaya Mana?

  • Divertikel kandung kemih, yaitu kantong yang terbentuk pada dinding kandung kemih saat lahir. Terbentuknya kantong kemih tambahan ini juga bisa disebabkan oleh infeksi atau pembesaran prostat. Akibatnya, pengidap divertikel kandung kemih akan kesulitan untuk mengosongkan urine dan mengalami batu kandung kemih.

  • Operasi pembesaran kandung kemih. Lima persen orang yang menjalani operasi pembesaran kandung kemih akan mengidap batu kandung kemih.

 

Penyebab Batu Kandung Kemih

Batu kandung kemih terjadi apabila urine tidak keluar seluruhnya. Tugas kandung kemih adalah untuk mengumpulkan urine dari ginjal sampai waktunya dibuang saat ingin buang air kecil. Setelah buang air kecil, kandung kemih seharusnya kosong. Namun, beberapa masalah kesehatan bisa mencegah hal itu terjadi dan menyebabkan urine tertinggal di dalam kandung kemih. Akhirnya, urine yang tersisa menjadi terkonsentrasi dan mineral di dalamnya akan mengkristal menjadi batu.

 

Gejala Batu Kandung Kemih

Gejala batu kandung kemih pada orang dewasa biasanya baru akan terasa apabila batu sudah menyumbat saluran urine atau melukai dinding kandung kemih. Gejalanya, antara lain:

  • Rasa nyeri saat buang air kecil.

  • Darah dalam urine.

  • Urine terlihat lebih pekat dan gelap.

  • Kesulitan buang air kecil.

  • Keinginan buang air kecil semakin sering.

  • Buang air kecil tidak lancar atau tersendat-sendat

  • Perut bagian bawah terasa nyeri.

  • Penis terasa tidak nyaman atau sakit.

Sedangkan pada anak-anak, ada dua gejala batu kandung kemih lainnya yang bisa menyertai yaitu ereksi kuat dan menyakitkan yang tidak ada hubungannya dengan rangsangan seksual pada anak laki-laki dan mengompol.

Umumnya, batu kandung kemih yang berukuran cukup kecil bisa keluar dengan sendirinya bersama dengan urine, sehingga gejalanya kadang tidak muncul. Namun, bicarakan dengan dokter apabila ada perubahan frekuensi buang air kecil, darah pada cairan urine, dan rasa sakit yang kuat di bagian perut.

Baca juga: Susah Buang Air Kecil, Mungkin Kena Penyakit Ini

 

Diagnosis Batu Kandung Kemih

Diagnosis batu kandung kemih memerlukan

  • Pemeriksaan fisik. Dokter mungkin akan meletakkan tangannya di perut bagian bawah pengidap untuk merasakan apabila kandung kemih membesar.

  • Sampel urine mungkin diperlukan untuk mengetahui apakah ada tanda-tanda darah, bakteri dan mineral yang terkristalisasi.

  • CT Scan. Pemindaian ini menggabungkan beberapa gambar X-ray untuk menunjukkan organ internal secara detail.

  • Ultrasonografi: Menghasilkan gambar dengan memantulkan suara dari organ internal.

  • X-ray. Sayangnya, tidak semua jenis batu kandung kemih muncul pada X-ray.

  • Pielogram intravena. Prosedur ini dilakukan dengan cara menyuntikkan cairan khusus ke dalam pembuluh darah yang akan mengalir ke ginjal dan kandung kemih. Kemudian sinar X dilakukan untuk mencari tanda-tanda batu ginjal.

 

Pengobatan Batu Kandung Kemih

Apabila ukuran batu kandung kemih cukup kecil, maka pengobatannya cukup dengan minum air putih sebanyak 1200 mililiter per hari. Tujuannya untuk membantu batu kandung kemih keluar bersama urine. Namun, apabila ukurannya cukup besar, maka diperlukan tindakan medis berikut:

  • Cystolitholapaxy. Dalam prosedur ini, dokter akan menghancurkan batu di dalam kandung kemih hingga menjadi serpihan kecil dengan laser, ultrasound, atau alat mekanis. Setelah menjadi serpihan kecil, batu akan lebih mudah dikeluarkan bersamaan dengan urine. Namun, metode ini dapat berisiko membuat pengidap terinfeksi dan cedera pada kandung kemih. Untuk itu, biasanya dokter akan memberikan antibiotik sebelum prosedur dimulai untuk mengurangi risiko infeksi.

  • Operasi. Prosedur ini dilakukan jika batu kandung kemih terlalu besar dan terlalu keras untuk dikeluarkan dengan cara cystolitholapaxy.

 

Komplikasi Batu Kandung Kemih

Meskipun beberapa kasus kandung kemih tidak menimbulkan gejala, bukan berarti kondisi kesehatan ini boleh disepelekan. Pasalnya, bila tidak ditangani dengan baik, batu kandung kemih bisa menyebabkan dua komplikasi utama berikut:

  • Disfungsi kandung kemih kronis. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air kecil yang disertai dengan rasa nyeri saat buang air kecil. Terkadang, batu kandung kemih benar-benar bisa memblokir urin keluar dari tubuh.

  • Infeksi saluran kemih. Infeksi ini bisa terjadi berulang.

 

Pencegahan Batu Kandung Kemih

Pengidap batu kandung kemih disarankan untuk minum banyak air putih agar bisa membantu melarutkan endapan mineral dalam kandung kemih. Apabila terkena batu kandung kemih, disarankan untuk meminta bantuan dokter agar mengetahui jumlah konsumsi air yang cukup karena jumlah air tergantung pada ukuran tubuh, aktivitas, usia, dan tingkat kesehatan masing-masing orang.

Baca juga: Hati-Hati, Makanan Ini Bisa Berbahaya untuk Kandung Kemih

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala di atas, segera berbicara dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Referensi:
WebMd. Diakses pada 2019. Bladder Stones: Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment.
Medical News Today. Diakses pada 2019. Bladder Stones: Causes, Symptoms, and Treatments.

Diperbarui pada 2 September 2019.