• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kecanduan Alkohol Tingkatkan Risiko Sindrom Mallory Weiss

Kecanduan Alkohol Tingkatkan Risiko Sindrom Mallory Weiss

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kecanduan Alkohol Tingkatkan Risiko Sindrom Mallory Weiss

Halodoc, Jakarta - Apakah kamu pernah mendengar penyakit sindrom Mallory-Weiss? Sindrom Mallory-Weiss adalah kondisi yang ditandai dengan robekan pada kerongkongan yang berbatasan dengan lambung. Nah, kondisi ini disebabkan oleh kondisi yang membuat tekanan pada saluran cerna bagian atas meningkat. Contohnya, akibat muntah parah dan berkepanjangan. 

Hati-hati, robekan ini menimbulkan perdarahan hebat pengidapnya, sehingga perlu segera ditangani. Lantas, apa yang dapat memicu muntah parah? Benarkah kecanduan alkohol dapat meningkatkan risiko sindrom Mallory-Weiss? Simak penjelasan berikut ini.

Baca juga: Komplikasi yang Disebabkan oleh Sindrom Mallory Weiss


Kecanduan Alkohol Picu Sindrom Mallory Weiss, Kok Bisa?

Menurut National Organization for Rare Disorder, sindrom Mallory-Weiss umumnya dipicu oleh muntah parah akibat alkoholisme kronis. Nah, itulah sebabnya pecandu alkohol berisiko mengalami sindrom Mallory-Weiss. Pasalnya, konsumsi alkohol yang berlebihan bisa memicu berbagai masalah pada tubuh, salah satunya muntah-muntah yang berkepanjangan. 

Ada pula studi mengenai sindrom Mallory-Weiss berjudul “The Mallory-Weiss syndrome as an unrecognized cause of death” yang bisa dipahami. Menurut ahli dalam studi ini, sindrom Mallory-Weiss sering ditemui pada pecandu alkohol, dan dikaitkan dengan episode muntah yang berlebihan. Kondisi ini yang bisa menjadi perdarahan eksternal atau internal yang masif dan parah. 

Melalui studi ini, peneliti menyajikan kasus seorang peminum kronis (pria, 54 tahun), yang ditemukan tewas di tempat tinggalnya. Berdasarkan temuan otopsi dan mikroskopis, serta data klinis, penyebab pasti dari kematiannya akibat sindrom Mallory-Weiss.

Selain kecanduan alkohol, sindrom Mallory-Weiss juga bisa terjadi akibat trauma parah pada dada atau perut, cegukan kronis, mendengkur yang intens, mengangkat dan mengejan, radang selaput perut (peritonitis) atau kerongkongan (esofagitis). 

Di samping itu, sindrom Mallory-Weiss juga bisa dipicu oleh hernia hiatus, kejang atau pasca menerima tindakan CPR (resusitasi kardiopulmoner). Pasien kanker yang menjalani kemoterapi dapat mengalami kelainan ini sebagai komplikasi dari kemoterapi.


Kenali Gejala Sindrom Mallory Weiss

Pada kasus yang masih ringan, umumnya sindrom Mallory-Weiss mungkin tidak menimbulkan gejala. Akan tetapi, lain lagi ceritanya bila kondisi pengidapnya semakin parah. Dalam kondisi ini sindrom Mallory-Weiss bisa menimbulkan gejala seperti: 

  • Sakit perut;
  • Muntah darah (hematemesis);
  • Muntah dengan tidak sengaja;
  • Feses berdarah atau hitam.

Muntah darah biasanya menjadi berwarna gelap dan membeku, serta mungkin terlihat seperti bubuk kopi. Kadang-kadang muntah juga berwarna merah segar. 

Sementara itu, darah yang muncul di feses juga bisa menjadi gelap. Namun, ketika pengidap mengalami perdarahan besar, feses mungkin akan berwarna merah segar. 

Baca juga: Ini Dampak Negatif Kecanduan Alkohol pada Tubuh


Diagnosis dan Pengobatan Sindrom Mallory Weiss

Untuk mendiagnosis penyakit ini, biasanya dokter akan melakukan wawancara medis. Di sini dokter bisa langsung bertanya apakah kamu sering mengonsumsi alkohol atau mengidap penyakit baru-baru ini. Jika gejala yang yang dialami menunjukkan perdarahan aktif di kerongkongan, dokter mungkin akan melakukan prosedur esophago gastro duodenoscopy (EGD). Sebelum menjalani prosedur ini, pasien harus minum obat penenang dan penghilang rasa sakit, untuk mencegah ketidaknyamanan selama prosedur diagnosis.

Setelah itu, dokter akan memasukkan tabung kecil yang fleksibel yang dilengkapi kamera (endoskop), turun ke kerongkongan dan ke dalam perut. Prosedur ini dapat membantu dokter melihat kerongkongan dan mengidentifikasi lokasi robekannya. 

Lalu, bagaimana sih cara mengobati sindrom Mallory Weiss? Bila sindrom ini masih bersifat ringan biasanya tidak memerlukan pengobatan karena perdarahan bisa berhenti dengan sendirinya.  

Namun, jika perdarahan berlanjut, dokter mungkin akan melakukan pengobatan berupa penutupan lesi dengan melakukan kauterisasi pada lokasi luka. Tindakan transfusi darah atau penggunaan obat vasopressin, pitressin, juga dapat digunakan dalam kasus ini.  

Selain itu, tindakan pembedahan biasanya tidak diperlukan, kecuali perdarahan tidak dapat dikendalikan oleh tindakan konservatif. Sementara itu, embolisasi juga dapat diperlukan ketika perdarahan kerongkongan tidak terkendali. Prosedur ini terdiri dari memasukkan bahan, seperti gelfoam, bucrylate, atau alkohol (etanol) dan gulungan stainless steel ke area yang terkena.

Baca juga: Gaya Hidup Sehat untuk Mencegah Sindrom Mallory Weiss

Nah, bagi dirimu yang mengalami keluhan-keluhan di atas, atau penyakit lainnya, bisa memeriksakan diri ke rumah sakit pilihan. Sebelumnya, buat janji dengan dokter di aplikasi Halodoc sehingga tidak perlu mengantre sesampainya di rumah sakit.

Referensi: 
National Organization for Rare Disorder. Diakses pada 2021. Mallory Weiss Syndrome. 
Healthline. Diakses pada 2021. Mallory-Weiss Syndrome.
US National Library of Medicine National Institutes of Health - Pub Med. Diakses pada 2021. The Mallory-Weiss syndrome as an unrecognized cause of death