Sindrom Mallory Weiss

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Sindrom Mallory-Weiss

Sindrom Mallory-Weiss adalah kondisi saat lapisan jaringan esofagus (kerongkongan) bernama mukosa robek. Kondisi ini terjadi di tempat antara kerongkongan dan lambung. Mukosa lambung yang robek tidak menular dan biasanya akan sembuh dalam 10 hari tanpa perawatan khusus apapun.

 

Faktor Risiko Sindrom Mallory-Weiss

Faktor-faktor yang mungkin meningkatkan risiko sindrom Mallory-Weiss adalah:

  • Kecanduan alkohol.

  • Batuk atau mendengkur.

  • Bulimia.

  • Pernah menjalani operasi jantung atau paru-paru.

Tidak memiliki faktor risiko bukan berarti tidak mungkin terkena sindrom ini. Tanda-tanda ini hanya sebagai acuan. Diskusi dengan dokter spesialis untuk detail lebih lanjut.

Baca juga: Kebiasaan Menjadi Pemicu Terkena Varises Esofagus

 

Penyebab Sindrom Mallory-Weiss

Sindrom Mallory-Weiss umumnya disebabkan oleh kondisi yang membuat tekanan pada saluran cerna bagian atas meningkat, misalnya akibat muntah yang terjadi terus-menerus dan berlangsung lama. Muntah ini dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti gangguan pada lambung, konsumsi alkohol yang berlebih, ataupun bulimia.

Usia merupakan salah salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan munculnya sindrom Mallory-Weiss. Orang yang berumur 40–60 tahun memiliki potensi lebih tinggi untuk mengidap kondisi ini. Selain itu, faktor risiko yang juga dapat memicu robekan pada esofagus, antara lain:

  • Hernia hiatus.

  • Cegukan berat atau berlangsung lama.

  • Gastritis.

  • Batuk terus-menerus.

  • Kejang.

  • Sering mengangkat beban berat.

  • Menerima resusitasi jantung paru.

  • Penggunaan aspirin atau obat-obatan golongan antiinflamasi nonsteroid.

 

Gejala Sindrom Mallory-Weiss

Sindrom Mallory-Weiss tidak selalu menunjukkan gejala. Hal ini sering terjadi pada kasus ringan ketika robekan esofagus menyebabkan sejumlah kecil perdarahan yang membaik dengan sendirinya tanpa penanganan.

Namun pada sebagian besar kasus, dapat timbul tanda dan gejala berupa:

  • Nyeri perut.

  • Muntah darah.

  • Feses yang kehitaman atau disertai darah.

Darah yang terdapat pada muntahan ini biasanya hitam dan bergumpal, seperti bubuk kopi. Terkadang, darah juga dapat berwarna merah yang mengindikasikan darah segar. Darah yang tampak pada feses umumnya berwarna hitam seperti aspal, kecuali pada perdarahan besar saat darah masih berwarna merah.

Baca juga: Sulit Menelan Makanan, Waspada Gejala Awal Kanker Esofagus

 

Diagnosis Sindrom Mallory-Weiss

Diagnosis sindrom Mallory-Weiss biasanya ditentukan berdasarkan hasil wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan penunjang tertentu. Dokter dapat menanyakan riwayat masalah kesehatan yang dialami, termasuk asupan alkohol harian, dan keluhan lain yang terjadi untuk mengidentifikasi masalah yang menyebabkan timbulnya keluhan.

Apabila tanda dan gejala yang dialami menunjukkan kemungkinan terjadinya perdarahan aktif di esofagus, dokter dapat melakukan pemeriksaan yang disebut esofagogastroduodenoskopi (EGD). Pemeriksaan ini menggunakan sebuah pipa kecil dan fleksibel yang disertai kamera yang disebut sebagai endoskop, ke dalam esofagus menuju lambung. Langkah ini dapat membantu dokter mendapatkan gambaran tentang esofagus dan mengidentifikasi lokasi robekan.

Dokter juga dapat meminta pemeriksaan darah rutin untuk memastikan hitung sel darah merah. Hitung sel darah merah umumnya lebih rendah jika terdapat perdarahan esofagus. Dokter dapat menentukan adanya sindrom Mallory-Weiss atau tidak berdasarkan temuan dari berbagai pemeriksaan penunjang tersebut.

 

Komplikasi Sindrom Mallory-Weiss

Jika perdarahan yang terjadi tidak segera ditangani, maka hal tersebut dapat menyebabkan komplikasi, seperti anemia, syok hipovolemik, hipoksia, dan bahkan kematian. Selain itu, tindakan medis yang diambil juga memiliki risiko tersendiri. Berdiskusilah terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi.

 

Pengobatan Sindrom Mallory-Weiss

Pada sebagian besar kasus sindrom Mallory-Weiss bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, jika perdarahan yang terjadi tergolong parah dan telah berlangsung lama, maka perlu dilakukan tindakan lanjutan. Tindakan tersebut meliputi:

  • Konsumsi obat-obatan. Akibat robekan pada saluran cerna bagian atas disebabkan oleh muntah yang berlangsung secara terus-menerus, maka beberapa obat-obatan seperti famotidine atau lansoprazole dapat digunakan untuk mengurangi produksi asam di dalam lambung, sehingga meredakan muntah. Namun, risiko dan manfaatnya masih diperdebatkan.

  • Terapi endoskopi. Selain untuk pemeriksaan, endoskopi juga dapat dilakukan untuk mengatasi robekan pada saluran cerna bagian atas penyebab perdarahan. Prosedur ini dilakukan untuk membantu tindakan menghentikan perdarahan dan menutup robekan.

  • Operasi dapat dilakukan ketika tindakan medis lain tidak menghentikan perdarahan yang terjadi. Operasi bertujuan untuk menjahit robekan yang terjadi, sehingga perdarahan bisa segera berhenti. Salah satu teknik operasi yang dilakukan adalah laparoskopi, yaitu tindakan dengan menyayat kulit sebesar lubang kunci.

Baca juga: 6 Makanan yang Dianjurkan untuk Pengidap Kanker Esofagus

 

Pencegahan Sindrom Mallory-Weiss

Untuk mencegah sindrom Mallory-Weiss, penting untuk mengatasi berbagai kondisi yang dapat memicu muntah jangka panjang sejak dini. Konsumsi alkohol yang terlalu banyak serta kondisi sirosis hati dapat memicu episode berulang sindrom Mallory-Weiss. Pengidap sindrom ini disarankan untuk menghindari konsumsi alkohol dan berdiskusi dengan dokter.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

 

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Mallory-Weiss Syndrome.
Drugs. Diakses pada 2019. Mallory-Weiss Syndrome.

Diperbarui pada 19 September 2019