Kekurangan Dopamin Bisa Sebabkan Halusinasi, Kok Bisa?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Dopamin, Halusinasi, kekurangan dopamin

Halodoc, Jakarta - Tahukah kamu bahwa tubuh mengandung hormon dopamin yang penting sebagai pendukung metabolisme tubuh? Dopamin merupakan senyawa alami tubuh yang memiliki peran penting saat proses pengiriman sinyal menuju otak berlangsung. Pemberian hormon yang satu ini juga dapat dijadikan penanganan beberapa kondisi medis penting, seperti gagal jantung, serangan jantung, dan gagal ginjal. Hormon dopamin akan bekerja dengan meningkatkan kekuatan pompa jantung dan aliran darah menuju ginjal.

Baca juga: Selama Kehamilan, 3 Fungsi Otak Ini Akan Menurun

Kekurangan Dopamin Bisa Sebabkan Halusinasi, Benarkah?

Ketika seseorang mengalami kekurangan hormon dopamin, halusinasi merupakan salah satu gejala yang dialami oleh pengidap. Hal ini dikarenakan terganggunya proses pengiriman sinyal ke dalam otak. Selain halusinasi, gejala lain yang mungkin dirasakan pengidap kondisi ini, meliputi:

  • Mengalami kram, kejang otot, atau tremor.

  • Mengalami nyeri otot.

  • Mengalami sembelit atau konstipasi.

  • Berkurangnya keseimbangan motorik dalam tubuh.

  • Otot terasa kaku.

  • Mengalami perubahan berat badan tanpa sebab.

  • Mengalami kesulitan dalam menelan dan mencerna makanan.

  • Mengalami penurunan gairah seksual.

  • Mengalami gejala, seperti ingin bunuh diri atau melukai diri sendiri.

  • Kehilangan konsentrasi dan daya ingat.

Kekurangan hormon dopamin dalam tubuh akan sulit untuk dikenali gejalanya. Selain pemeriksaan gejala yang mendasari, biasanya dokter akan memeriksa gaya hidup, serta penyakit yang mungkin mendasari kurangnya dopamin dalam tubuh. Untuk lebih jelasnya mengenai prosedur apa yang dilakukan, kamu bisa ngobrol langsung dengan dokter ahli di aplikasi Halodoc. Penanganan yang tepat dilakukan, akan meminimalisir terjadinya komplikasi.

Baca juga: Yang Terjadi pada Tubuh saat Kecanduan

Kekurangan Dopamin Dalam Tubuh, Apa yang Menjadi Penyebabnya?

Saat seseorang mengalami kekurangan hormon dopamin, saraf otak tidak dapat bekerja dengan efektif dalam mengirimkan sinyal. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas otak dalam mengatur berbagai fungsi kognitif dan motorik dalam tubuh tubuh. Terjadinya kondisi ini dapat dipengaruhi oleh sejumlah kondisi, seperti depresi, skizofrenia, gangguan psikosis dan penyakit Parkinson. Selain kondisi medis yang mendasari, penyalahgunaan obat-obatan juga akan memengaruhi. 

Baca juga: Harus Tahu, 6 Penyakit yang Disebabkan oleh Gangguan Hormon

Adakah Cara yang Dapat Dilakukan untuk Menangani Kondisi Ini?

Hal-hal yang dapat dilakukan guna menangani defisiensi hormon dopamin dalam tubuh, yaitu:

  • Kurangi konsumsi asupan tinggi gula. Konsumsi gula berlebihan dapat mengubah susunan kimia dalam otak dan menurunkan kadar dopamin. Jika hal ini sering dilakukan, tubuh akan mengalami ketergantungan terhadap gula. Mengurangi asupan gula dapat membantu melawan penurunan kadar dopamin dan kecanduan tubuh terhadap asupan gula.

  • Kurangi asupan kafein. Konsumsi banyak kafein dapat menurunkan kadar produksi hormon dopamine dalam tubuh. Pasalnya, kafein yang dikonsumsi secara berlebihan dapat mengganggu keseimbangan kadar dopamin pada otak.

  • Kelola stres dengan baik. Stres merupakan salah satu kondisi yang dapat mengganggu keseimbangan hormon tubuh. Mengelola stres dengan baik dapat dilakukan dengan melakukan relaksasi dengan yoga, mendengarkan musik, menonton film, membaca buku, atau melakukan hal-hal yang disukai.

Selain hal-hal tersebut, melakukan aktivitas fisik, seperti olahraga secara teratur dapat menjaga sirkulasi darah. Jika malas, kamu dapat melakukannya tiga kali dalam seminggu. Hal ini dapat membantu mengatur berbagai hormon otak dan kadar dopamin dalam tubuh agar tetap seimbang. Jangan lupa untuk tidur cukup waktu, selama delapan jam dalam sehari. Waktu tidur juga sangat diperlukan tubuh untuk memproduksi ulang dopamin.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2019. Dopamine Deficiency: What You Need to Know.
Healthline. Diakses pada 2019. What Is Dopamine Deficiency Syndrome?