Gejala utama dari penyakit diabetes adalah naiknya kadar gula dalam darah. Namun perlu diketahui, melonjaknya kadar gula darah tidak selalu berarti bahwa seseorang mengidap penyakit ini.

Naiknya kadar gula dalam darah selalu dikaitkan dengan penyakit diabetes. Namun tahukah kamu, ada fase yang terlebih dahulu akan terjadi sebelum seseorang dinyatakan mengidap penyakit diabetes. Kondisi naiknya kadar gula darah sebelum diabetes disebut dengan prediabetes. Perbedaan dari kedua kondisi ini ada pada tingginya kadar gula dalam darah. Silakan kamu cek risiko kamu di sini.
Pada prediabetes, terjadi lonjakan kadar gula, sehingga berada di atas normal. Meski begitu, kenaikan kadar gula darah yang terjadi belum setinggi pengidap diabetes. Dengan kata lain, prediabetes sebenarnya adalah “penanda” bahwa seseorang berisiko mengidap penyakit diabetes. Jika ditangani dengan tepat dan segera, prediabetes bisa sembuh dan tidak akan berkembang menjadi penyakit diabetes.
Apa Itu Gula Darah Tinggi (Hiperglikemia)?
Gula darah tinggi atau hiperglikemia adalah kondisi medis yang terjadi ketika kadar glukosa dalam darah melebihi batas normal. Kondisi ini muncul saat tubuh tidak memiliki cukup hormon insulin atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif untuk mengubah gula menjadi energi.
Hiperglikemia yang tidak terkontrol dapat merusak pembuluh darah dan organ vital seiring berjalannya waktu. Pemantauan kadar glukosa secara rutin sangat disarankan bagi kelompok berisiko tinggi guna mencegah komplikasi serius.
Mengenal Perbedaan Prediabetes dan Diabetes
Prediabetes adalah kondisi ketika kadar gula darah seseorang berada di atas normal, namun belum mencapai kriteria untuk didiagnosis sebagai diabetes tipe 2. Sebaliknya, diabetes adalah kondisi kronis di mana kadar gula darah sudah mencapai ambang batas tinggi secara konsisten.
Perbedaan mendasar terletak pada tingkat keparahan resistensi insulin dan angka hasil tes laboratorium. Pada prediabetes, perubahan gaya hidup sehat masih memiliki peluang besar untuk mengembalikan kadar glukosa ke batas normal sebelum berkembang menjadi diabetes permanen.
Diabetes tipe 2 sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga banyak orang tidak menyadari adanya lonjakan glukosa. Pengawasan medis diperlukan untuk memastikan apakah kondisi tubuh masih dalam tahap prediabetes atau sudah memasuki fase diabetes mellitus.
Apa Saja Ciri Ciri Gula Darah Tinggi?
Ciri ciri gula darah tinggi meliputi peningkatan frekuensi buang air kecil, rasa haus yang ekstrem, dan nafsu makan yang meningkat tajam namun disertai penurunan berat badan. Selain itu, penderita sering merasakan kelelahan yang tidak hilang meski telah beristirahat dengan cukup.
Poliuri dan Polidipsi
Poliuri (sering buang air kecil) terjadi karena ginjal bekerja ekstra keras untuk menyaring dan membuang kelebihan gula melalui urine. Hal ini memicu hilangnya cairan tubuh dalam jumlah besar, yang kemudian menyebabkan polidipsi (rasa haus berlebihan) sebagai respons alami tubuh terhadap dehidrasi.
Polifagia dan Penurunan Berat Badan
Polifagia (cepat lapar) muncul karena sel-sel tubuh tidak mendapatkan asupan glukosa yang cukup untuk energi akibat masalah insulin. Meskipun asupan makanan meningkat, penurunan berat badan secara drastis tetap dapat terjadi karena tubuh mulai membakar cadangan lemak dan protein untuk menghasilkan energi.
Gangguan Penglihatan dan Syaraf
Kadar gula yang tinggi menyebabkan penumpukan cairan pada lensa mata, yang memicu pandangan kabur secara tiba-tiba. Selain itu, kerusakan saraf atau neuropati sering ditandai dengan sensasi kesemutan, mati rasa, atau nyeri pada area tangan dan kaki.
Masalah Kulit dan Penyembuhan Luka
Aliran darah yang terhambat akibat hiperglikemia membuat proses regenerasi sel terganggu. Kondisi ini menyebabkan luka lambat sembuh, kulit terasa sangat kering, gatal-gatal, atau munculnya bercak gelap pada area lipatan kulit (akantosis nigrikans).
Penyebab Utama Lonjakan Glukosa
Penyebab utama gula darah tinggi adalah ketidakmampuan hormon insulin untuk mengatur kadar glukosa dalam aliran darah secara optimal. Faktor risiko utama mencakup pola makan tinggi karbohidrat sederhana, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor genetik atau riwayat keluarga.
Stres yang berkepanjangan juga dapat memicu pelepasan hormon kortisol yang menghambat kerja insulin. Selain itu, kondisi medis tertentu seperti infeksi, efek samping obat-obatan steroid, atau gangguan pada pankreas dapat memperburuk kadar glukosa dalam tubuh.
Diagnosis Medis Prediabetes dan Diabetes
Diagnosis medis dilakukan melalui serangkaian tes darah laboratorium untuk mengukur kadar glukosa secara akurat. Prosedur ini sangat penting dilakukan untuk membedakan antara prediabetes dan diabetes agar penanganan yang diberikan tepat sasaran.
- Tes Gula Darah Puasa (GDP): Mengukur kadar glukosa setelah pasien berpuasa selama minimal 8 jam.
- Tes Gula Darah Sewaktu (GDS): Dilakukan kapan saja tanpa perlu berpuasa untuk melihat flukosa harian.
- Tes HbA1c: Mengukur rata-rata kadar gula darah dalam periode 2 hingga 3 bulan terakhir.
- Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO): Mengukur respons tubuh terhadap larutan gula pekat yang diberikan secara medis.
Mencegah Prediabetes Berkembang Menjadi Diabetes
Gejala utama dari penyakit diabetes adalah naiknya kadar gula dalam darah. Namun perlu diketahui, melonjaknya kadar gula darah tidak selalu berarti bahwa seseorang mengidap penyakit ini. Dalam keadaan normal, kadar gula darah puasa orang dewasa adalah kurang dari 100 mg/dl.
Pada prediabetes, kadar gula darah puasa mengalami kenaikan dan bisa mencapai 100–125 mg/dl. Jika kadar gula darah puasa sudah lebih dari 125 mg/dl, maka seseorang sudah dikatakan mengidap penyakit diabetes.
Prediabetes terjadi saat glukosa yang berasal dari makanan, mulai menumpuk dalam aliran darah. Sayangnya, tubuh tidak bisa mengolah glukosa makanan tersebut, sehingga terjadi penumpukan.
Seharusnya, tubuh mengolah glukosa menjadi energi dengan bantuan hormon insulin yang dihasilkan pankreas. Meski masih tahap awal, prediabetes tidak boleh diabaikan begitu saja. Penanganan segera bisa mencegah kondisi ini berkembang menjadi penyakit diabetes.
Prediabetes tidak menyebabkan kenaikan kadar gula yang cukup tinggi untuk dikatakan sebagai diabetes. Namun, jika kondisi ini diabaikan begitu saja, bisa menyebabkan kondisi ini berkembang menjadi diabetes tipe 2.
Penyakit diabetes bersifat kronis dan tidak bisa diobati. Orang yang mengidap penyakit diabetes harus selalu mendapat pengobatan dan wajib memantau kadar gula darah agar selalu stabil dan tidak berlebih. Selain pada kadar gula darah, prediabetes dan penyakit diabetes juga memiliki gejala yang khas.
Prediabetes umumnya tidak menunjukkan gejala tertentu, tetapi secara umum kondisi ini bisa memicu gejala berupa mudah lelah, sering merasa haus dan lapar, gangguan penglihatan, buang air kecil, serta berat badan menurun secara drastis.
Kabar buruknya, banyak orang yang sering tidak menyadari bahwa ia mengidap prediabetes, bahkan hingga berkembang menjadi diabetes. Hal ini terjadi karena gejala penyakit yang muncul tidak spesifik dan sering diabaikan.
Ada beberapa gejala yang bisa menjadi tanda bahwa seseorang sudah mengalami penyakit diabetes, seperti mulut kering, rasa terbakar dan nyeri di kaki, gatal-gatal, perubahan mood atau suasana hati, hingga mudah tersinggung.
Penyakit ini juga memicu gejala hipoglikemia reaktif dan munculnya bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan bagian tubuh lain.
Kapan Harus ke Dokter?
Konsultasi medis harus segera dilakukan jika seseorang mengalami ciri ciri gula darah tinggi yang menetap atau semakin parah.
Gejala darurat seperti sesak napas, mual hebat, muntah, atau bau napas yang terasa manis seperti buah (ketoasidosis) memerlukan penanganan segera di rumah sakit.
Pemeriksaan rutin juga diperlukan bagi individu dengan faktor risiko seperti obesitas atau usia di atas 45 tahun meskipun belum merasakan gejala.
Deteksi dini pada tahap prediabetes dapat mencegah kerusakan permanen pada organ jantung, ginjal, dan mata.
Masih penasaran dan butuh informasi seputar prediabetes dan komplikasi apa saja yang bisa terjadi? Tanya dokter di aplikasi Halodoc saja! Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat kapan dan di mana saja. Dapatkan informasi seputar kesehatan dan tips hidup sehat dari dokter terpercaya. Dengan aplikasi Halodoc, kamu juga bisa mengetahui seberapa besar risikomu terhadap diabetes tipe 2 dengan menggunakan fitur Kalkulator Risiko Diabetes. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! Nah, buat kamu yang ingin mendapatkan kebutuhan medis secara rutin, kamu bisa menggunakan Halodoc Langganan! Beli berbagai macam kebutuhan seperti obat jantung, obat diabetes, obat asma hanya perlu satu kali pesan dan dapat dikirim secara berkala mingguan atau bulanan sesuai keinginan kamu, lho! Informasi lebih lengkap cek di sini, ya!



