Kenapa Lansia Rentan Alami Aneurisma Otak?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Kenapa Lansia Rentan Alami Aneurisma Otak?

Halodoc, Jakarta - Aneurisma otak adalah tonjolan yang terletak pada pembuluh darah di otak. Jika diibaratkan, aneurisma otak mirip seperti berry yang tergantung pada batang pohon. Saat mengalami kebocoran atau pecah, aneurisma otak menyebabkan perdarahan di otak yang kondisinya disebut dengan stroke hemoragik. Biasanya, aneurisma otak pecah di ruang antara otak dan jaringan tipis yang menutupi otak. Jenis stroke hemoragik ini disebut perdarahan subaraknoid.

Baca Juga: Dapatkah Stroke Hemoragik Disembuhkan?

Aneurisma yang pecah dengan cepat menjadi mengancam jiwa, sehingga membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin. Namun, sebagian besar kasus aneurisma otak tidak pecah, tidak menimbulkan masalah kesehatan atau menyebabkan gejala. Aneurisma otak sering terdeteksi ketika seseorang menjalani tes untuk kondisi lain.

Gejala yang Ditimbulkan Aneurisma Otak

Meskipun aneurisma otak biasanya tidak menunjukkan gejala, kondisi ini dapat menekan otak dan saraf ketika ukurannya menjadi semakin besar. Periksakan ke dokter, apabila kamu mengalami gejala berikut ini, yaitu:

  • Sakit kepala;
  • Pembesaran pupil;
  • Penglihatan menjadi kabur atau penglihatan ganda;
  • Nyeri di atas dan di belakang mata;
  • Kelopak mata terkulai;
  • Sulit berbicara;
  • Kelemahan dan mati rasa di satu sisi wajah.

Jika kamu berencana memeriksakan diri ke dokter, jangan lupa untuk buat janji terlebih dahulu melalui aplikasi Halodoc. Lewat Halodoc, kamu bisa tahu estimasi waktu bertemu dokter, sehingga enggak perlu ngantre lama-lama. Aneurisma otak yang mengalami kebocoran atau pecah menimbulkan gejala berupa sakit kepala yang menyakitkan hingga kehilangan kesadaran. Segera cari bantuan medis jika mengalami kondisi-kondisi berikut ini:

  • Mual dan muntah;
  • Mengalami kantuk;
  • Kehilangan keseimbangan seperti berjalan dan koordinasi normal;
  • Leher menjadi kaku;
  • Pelebaran pupil;
  • Sensitif terhadap cahaya;
  • Penglihatan kabur atau penglihatan ganda;
  • Kelopak mata terkulai;
  • Kebingungan atau masalah dengan kesadaran mental.

Baca Juga: Foto Heboh di Rumah Sakit, Emilia Clarke Idap Brain Aneurysm

Lansia Lebih Rentan Mengidap Aneurisma Otak

Aneurisma otak bisa memengaruhi siapa pun, tetapi lansia berisiko lebih tinggi mengidapnya ketimbang orang dewasa yang lebih muda dan anak-anak. Alasannya, aneurisma otak berkembang seiring bertambahnya usia. Ini terbentuk pada cabang pembuluh darah yang cenderung lebih lemah. Itulah mengapa, aneurisma sering ditemukan di dasar otak.

Aneurisma otak paling umum terjadi pada orang berusia antara 35-60 tahun. Wanita lebih mungkin mendapatkan aneurisma daripada pria akibat perubahan kadar estrogen yang terjadi setelah menopause. Ini juga bisa diperoleh orang-orang yang memiliki cacat pembuluh darah sejak lahir. Seseorang juga berpeluang mengidapnya jika ada keluarga dekat yang mengidap kondisi ini.

Bagaimana Cara Mengobati Aneurisma Otak?

Perawatan untuk aneurisma dapat bervariasi berdasarkan ukuran, lokasi, dan tingkat keparahan aneurisma serta apakah kondisinya telah pecah atau bocor. Obat nyeri dapat dikonsumsi untuk meredakan sakit kepala dan sakit mata. Jika letak aneurisma dapat terjamah, pembedahan dapat dilakukan untuk memperbaiki atau memotong aliran darah ke aneurisma. 

Baca Juga: 5 Makanan yang Berbahaya bagi Kesehatan Otak

Hal ini bisa mencegah agar aneurisma tidak bertambah besar, bocor bahkan pecah. Beberapa opsi pembedahan yang dapat dilakukan yaitu kliping bedah, di mana aneurisma ditutup menggunakan klip logam atau endovaskular melingkar dengan memasukkan kateter dimasukkan melalui arteri ke aneurisma dan aliran darah tersumbat untuk menutup aneurisma. 

Referensi :
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Brain aneurysm.
WebMD. Diakses pada 2019. What Is a Brain Aneurysm?.
Healthline. Diakses pada 2019. Brain Aneurysm.