• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Abses Paru

Abses Paru

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Abses Paru

Pengertian Abses Paru

Abses paru adalah dan pembentukan kavitas (lubang) pada jaringan paru yang berukuran lebih dari 2 sentimeter. Lubang ini berisi kumpulan jaringan paru yang mati (nekrosis) akibat infeksi bakteri. Kondisi ini merupakan bagian dari infeksi paru.

Menurut waktu terjadinya, abses paru dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni abses paru akut dan kronis. Abses paru akut terjadi kurang dari 6 minggu dan abses paru dikatakan kronis apabila terjadi lebih dari 6 minggu.

Baca juga: Ini 5 Penyakit pada Paru-Paru yang Perlu Diwaspadai

Gejala Abses Paru

Tanda dan gejala awal dari kondisi ini biasanya tidak terlalu berbeda dengan infeksi paru pada umumnya. Beberapa gejala abses paru, antara lain:

  • Demam;
  • Menggigil;
  • Batuk;
  • Keringat terutama pada malam hari;
  • Sesak napas;
  • Penurunan berat badan dan lemas;
  • Nyeri dada;
  • Anemia.

Batuk yang terjadi pada abses paru biasanya awalnya tidak berdahak, tetapi kemudian menjadi berdahak dan terkadang disertai dengan batuk darah.

Penyebab Abses Paru

Berdasarkan penyebabnya, abses paru terbagi menjadi dua, yaitu:

  • Abses Paru Primer

Kondisi ini terjadi akibat proses di dalam paru itu sendiri dan terjadi pada hampir 60 persen dari seluruh kasus. Penyebab dari dari abses paru primer, antara lain aspirasi (masuknya benda selain udara ke saluran pernapasan), misalnya akibat adanya infeksi gigi, hidung, gangguan kesadaran, gangguan menelan, penyakit refluks lambung, muntah yang sering, infeksi paru (pneumonia), ataupun pada kondisi daya tahan tubuh yang sangat rendah (immunocompromised

  • Abses Paru Sekunder

Kondisi ini terjadi sebagai akibat dari proses di tempat lain. Beberapa penyebab yang dapat menimbulkan kondisi ini, yaitu sumbatan saluran pernapasan, misalnya oleh tumor, benda asing, atau pembesaran kelenjar getah bening, dengan disertai adanya penyakit paru (seperti penyakit bronkiektasis, emfisema bulosa, fibrosis kistik, infark paru, ataupun kontusio paru).

Selain itu, jenis sekunder dapat merupakan hasil penyebaran melalui darah dari tempat lain, seperti pada keadaan sepsis, endokarditis infektif, infeksi pada kateter vena sentral, dan sebagainya. Penyebab lainnya dari jenis sekunder adalah hasil penyebaran langsung. Hal ini dapat terjadi jika ada lubang yang menyambungkan antara bronkus dan esofagus dan pada abses subfrenikus.

Baca juga: Adakah Perbedaan Penyakit Paru-Paru antara Pria dan Wanita?

Faktor Risiko Abses Paru

Orang dengan gangguan penggunaan alkohol atau yang baru saja sakit (terutama dengan pneumonia) memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit ini. Orang lain yang juga berisiko termasuk mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah akibat mengalami:

  • Transplantasi organ;
  • Kanker;
  • HIV;
  • Penyakit autoimun.

Risikonya tinggi bagi orang-orang yang baru saja dibius dan mereka yang tidak sadarkan diri akibat cedera atau sakit. Menghirup benda asing yang menghalangi jalan napas besar juga merupakan faktor risikonya.

Diagnosis Abses Paru

Selain wawancara yang mendalam dan pemeriksaan fisik, biasanya dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Pemeriksaan darah 
  • Tes pencitraan

Ada beberapa jenis pencitraan yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis abses paru, seperti CT (Computed Tomography) scan dan rontgen. Selain itu, kemungkinan akan perlu dilakukan pemeriksaan langsung pada saluran pernapasan (bronkus) dengan bronkoskopi untuk dapat mengambil material untuk pemeriksaan mikrobiologi dan memastikan penyebab keluhan yang dialami.

Pengobatan Abses Paru

Terapi standar yang biasanya digunakan untuk mengobati abses paru adalah antibiotik. Beberapa jenis antibiotika yang dapat digunakan untuk mengobati abses paru, yaitu:

  • Klindamisin;
  • Metronidazol;
  • Kombinasi golongan betalaktam;
  • Makrolida;
  • Aminoglikosida.

Dokter akan melakukan pemeriksaan yang lengkap untuk menentukan jenis antibiotik apa yang tepat. Perbaikan kondisi biasanya akan terjadi dalam 4–7 hari, tetapi penyembuhan yang disertai perbaikan hasil pencitraan dapat dilihat setelah paling tidak 2 bulan.

Pada abses yang berukuran lebih dari 6 sentimeter atau gejala dirasakan lebih dari 12 minggu dengan telah mengonsumsi antibiotik, kemungkinan dibutuhkan terapi pembedahan. Terapi pembedahan yang dapat dilakukan adalah drainase dengan selang atau reseksi (pemotongan) abses paru dan sedikit jaringan di sekitarnya.

Efek samping yang dapat terjadi pada terapi antibiotik bergantung pada jenis antibiotik yang digunakan. Sedangkan untuk terapi pembedahan, efek samping yang dapat terjadi adalah dapat terjadi perdarahan, infeksi, atau dapat terjadi hal yang fatal bila tidak dilakukan bukan oleh ahlinya, ataupun pada keadaan kondisi umum yang berisiko, seperti pada pengidap yang berusia lanjut, malnutrisi, atau pecandu alkohol. 

Baca juga: Paru-Paru Bermasalah, Kapan Sebaiknya Menemui Dokter?

Komplikasi Abses Paru

Dalam kasus yang jarang terjadi, abses paru dapat pecah. Jika terjadi, kondisi ini adalah masalah medis yang serius. Perawatan bedah juga dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi potensial setelah ruptur atau perawatan bedah abses, antara lain: 

  • Empiema. Pada empiema, kumpulan besar cairan yang terinfeksi terakumulasi di sekitar paru-paru dekat abses. Kondisi ini bisa mengancam nyawa. Perawatan medis segera diperlukan agar cairan dapat dikeluarkan.
  • Fistula Bronkopleural. Fistula bronkopleural adalah koneksi abnormal yang berkembang antara saluran udara besar di dalam paru-paru dan ruang di lapisan di sekitar bagian luar paru-paru. Pembedahan atau bronkoskopi dapat memperbaikinya. Dalam bronkoskopi, bronkoskop dan sealant dapat menutup fistula.
  • Pendarahan dari Paru-Paru atau Dinding Dada. Ini bisa berupa sejumlah kecil darah atau banyak darah, yang mengancam nyawa.
  • Infeksi Menyebar ke Bagian Tubuh Lain. Jika infeksi meninggalkan paru-paru, maka ia dapat menghasilkan abses di bagian lain dari tubuh, termasuk otak.

Pencegahan Abses Paru

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya abses paru, yaitu:

  • Makan makanan yang bergizi.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat.
  • Berhenti konsumsi alkohol.
  • Berobat ke dokter jika ada masalah medis yang dialami terkait pernapasan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami keluhan, seperti demam, batuk, sesak napas, nyeri dada ataupun gangguan medis lain, segera periksakan diri ke dokter di rumah sakit agar bisa mendapatkan pengobatan yang sesuai. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit sesuai domisili kamu melalui aplikasi Halodoc

This image has an empty alt attribute; its file name is Banner_Web_Artikel-01.jpeg

Referensi:
Annals of Translational Medicine. Diakses pada 2021. Lung Abscess-Etiology, Diagnostic and Treatment Options.
British Medical Journal. Diakses pada 2021. Lung Abscess.
Healthline. Diakses pada 2021. Lung Abscess.
WebMD. Diakses pada 2021. Lung Abscess: Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment.
Diperbarui pada 3 November 2021.