• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Alergi

Alergi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
penyakit alergi

Pengertian Alergi

Alergi adalah reaksi dari sistem kekebalan tubuh yang timbul akibat suatu zat atau substansi yang dianggap berbahaya saat memasuki tubuh, padahal sebenarnya tidak membahayakan. Saat sistem imun bereaksi, efek sampingnya dapat timbul berupa reaksi alergi atau alergen. Beberapa alergen ini dapat berasal dari makanan tertentu, obat-obatan, serbuk sari, gigitan serangga atau tungau, dan lainnya.

Alergi terjadi saat seseorang mengalami paparan dari alergen, sehingga tubuhnya memproduksi antibodi karena menganggap zat tersebut dapat membahayakan tubuh. Setiap kali tubuh terpapar dengan alergen yang sama, tubuh dapat meningkatkan produksi antibodi. Saat produksi antibodi mengalami peningkatan, histamin menjadi terpicu dan dilepaskan ke dalam darah yang akhirnya menimbulkan gejala alergi.

Baca juga: Inilah Perbedaan Ruam Popok dan Alergi

 

Faktor Risiko Alergi

Beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang lebih rentan untuk mengidap alergi adalah sebagai berikut:

  • Faktor keturunan. Terdapat riwayat anggota keluarga atau orang tua yang memiliki alergi. Hal ini umumnya terjadi pada anak-anak yang memiliki ayah atau ibu dengan riwayat penyakit alergi.
  • Faktor lingkungan. Semakin sering dan semakin lama seseorang terpapar dengan alergen tertentu, kemungkinan untuk menderita alergi semakin tinggi.

 

Penyebab Alergi

Reaksi alergi yang timbul dapat disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang salah mengidentifikasi alergen. Zat ini dianggap menimbulkan bahaya pada tubuh, tetapi faktanya tidak begitu. Saat tubuh terpapar alergen, antibodi yang disebut dengan Imunoglobulin E (IgE) akan terbentuk. Adanya kontak di dalam tubuh dengan alergen, produksi IgE akan meningkat yang merupakan reaksi dari tubuh. Hal ini dapat memicu pelepasan histamin yang akhirnya gejala alergi dapat dirasakan atau timbul.

Beberapa pemicu alergi atau alergen yang umum menimbulkan gangguan, antara lain:

  • Makanan tertentu, seperti makanan laut, susu, telur, dan kacang-kacangan;
  • Bulu hewan, tungau, serbuk sari, atau debu;
  • Gigitan serangga, misalnya sengatan lebah;
  • Obat-obatan tertentu; dan
  • Bahan kimia tertentu, seperti sabun, sampo, parfum, atau bahan lateks.

 

Gejala Alergi

Gejala alergi umumnya timbul beberapa saat hingga beberapa jam setelah tubuh terpapar dengan alergen. Gejala alergi yang umum dirasakan, antara lain:

  • Ruam kemerahan pada kulit;
  • Gatal pada kulit yang mengalami ruam;
  • Bersin dan batuk;
  • Sesak napas;
  • Hidung berair;
  • Bengkak pada bagian tubuh yang terpapar dengan alergen, misalnya pada wajah, mulut, lidah, dan tenggorokan;
  • Mata merah, berair, dan gatal; dan
  • Mual, muntah, sakit perut, atau diare.

Beberapa gejala yang disebutkan di atas adalah gejala yang intensitasnya ringan sampai sedang. Gejala yang berat dapat memicu reaksi anafilaksis yang bisa meningkatkan risiko kematian. Pada seseorang yang mengalami gejala berat, pengidapnya harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera. Gejala yang dapat timbul, antara lain:

  • Sesak napas yang berat;
  • Pusing;
  • Tekanan darah turun drastis;
  • Mual dan muntah;
  • Ruam kemerahan yang meluas pada kulit;
  • Denyut nadi cepat tapi lemah; dan
  • Pingsan atau tidak sadarkan diri.

Baca juga: Alergi Dapat Sebabkan Infeksi Telinga, Ini Sebabnya

 

Diagnosis Alergi

Diagnosis yang dilakukan untuk mendeteksi alergi beserta alergen yang menjadi penyebabnya harus dengan bantuan dari dokter. Beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh ahli medis, antara lain:

  • Pertama, dokter akan memeriksa riwayat penyakit yang pernah dialami secara rinci, termasuk juga riwayat penyakit alergi pada keluarga terdekat.
  • Kedua, pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk mendapatkan tanda-tanda alergi pada tubuh pengidap.
  • Ketiga, dokter juga akan melakukan Tes Tempel (Patch Test). Tes ini merupakan suatu pemeriksaan yang cukup aman untuk mendiagnosis alergi. Caranya adalah dengan meletakkan satu jenis alergen pada sebuah plester yang kemudian ditempelkan pada permukaan kulit pengidap selama dua hari. Kemudian, reaksi kulit yang timbul akan diamati.
  • Keempat, Tes Tusuk Kulit (Skin Prick Test). Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui alergi pada makanan, obat-obatan, udara, atau racun serangga. Permukaan kulit kamu akan ditetesi cairan alergen, kemudian ditusuk secara perlahan dengan jarum halus dan diamati reaksi yang timbul. Jika muncul benjolan merah dan gatal dalam waktu 15 menit pada permukaan kulit, pengidap dinyatakan positif alergi terhadap alergen tersebut.
  • Kelima, Pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengukur kadar IgE tertentu dalam darah.
  • Keenam, Tes Eliminasi Makanan. Tes ini dilakukan dengan cara menghindari jenis makanan tertentu yang diduga sebagai pemicu alergi, kemudian diamati perbedaan reaksi dan gejala yang dialami pengidap. Tes ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter, karena dapat memicu timbulnya gejala alergi yang cukup berat.


Pengobatan Alergi

Pengobatan utama pada seseorang yang mengalami alergi adalah menghindari alergen yang dapat memicu kekambuhan. Selain itu, beberapa obat-obatan juga dapat dikonsumsi yang bisa mengendalikan gejala alergi yang muncul, seperti obat penghambat efek penyebab dari alergi, obat yang mengatasi peradangan, dan obat yang menghambat efek leukotrien penyebab pembengkakan pada saluran pernapasan saat terjadi gejalanya timbul. 

Selain itu, kamu dapat melakukan terapi desensitisasi melalui suntikan, tetesan, maupun tablet yang dilakukan selama beberapa tahun dan bertujuan untuk membiasakan tubuh terpapar alergen tersebut, sehingga tidak memberikan reaksi yang berlebihan. 

 

Pencegahan Alergi

Pencegahan alergi tergantung pada jenis alergen yang menjadi pemicunya agar tubuh tidak terpapar alergen. Kamu dapat menggunakan gelang atau kalung penanda alergi saat bepergian, sehingga orang di sekitar dapat menolong pengidap jika terjadi gejala alergi sewaktu-waktu.

Baca juga: Alergi dengan Kosmetik? Ini yang Akan Terjadi pada Kulit

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala alergi di atas, segera bicarakan dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan yang tepat. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter pilihan di rumah sakit sesuai domisili kamu di sini.

 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2021. Allergies.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Allergies

Diperbarui pada 22 Maret 2021

 

Pertanyaan Seputar Alergi


Waktu hamil, bibir saya alergi dengan beberapa merek lipstik dan keterusan sampai sekarang. Kenapa ya?

Ditanyakan oleh: chtiaraa

Dijawab oleh: dr. Verury Verona Handayani

Beberapa orang dapat tidak cocok dengan bahan-bahan tertentu yang terkandung di dalam lipstik. Beberapa gejala yang timbul akibat alergi lipstik, antara lain:

  • Bengkak pada bibir bagian atas maupun bawah.
  • Bibir menjadi merah, tetapi bukan karena memakai lipstik.
  • Bibir terasa panas atau terbakar.
  • Hidung dan mata berair serta bengkak.
  • Kebas atau mati rasa pada bibir bagian atas maupun bawah.
  • Rasa gatal pada bibir.
  • Rasa nyeri dan tidak nyaman (perih) pada bibir.
  • Mual, nyeri perut, dan diare.
  • Bengkak pada tenggorokan dan kesulitan bernapas.

Beberapa bahan yang umumnya memicu alergi lipstik, antara lain parfum atau fragrance, parabens, imidazolidinyl, quaternium-15, DMDM hyndation, phenoxyethanol, talc, formaldehid, dan methylchloroisothiazolinone,

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi alergi lipstik, antara lain:

  • Mengoleskan gel lidah buaya (aloe vera), untuk mengurangi bengkak pada bibir.
  • Mengompres bibir dengan es batu yang telah dibungkus kain selama beberapa menit untuk mengurangi bengkak pada bibir.
  • Mengompres bibir dengan kantung teh yang didinginkan di kulkas, untuk mengatasi rasa gatal dan bengkak pada bibir.
  • Mengunjungi dokter jika gejala yang dirasakan tidak membaik, meskipun telah dilakukan beberapa langkah penanganan.

 

Dok kenapa sih bisa ada alergi makanan?

Ditanyakan oleh: mitamatiala

Dijawab oleh: dr Fadhli Rizal Makarim

Alergi makanan disebabkan oleh adanya salah satu kandungan protein atau senyawa dalam makanan tersebut yang tidak dapat diterima oleh tubuh hingga menimbulkan suatu reaksi peradangan yang berlebihan. Reaksi peradangan yang berlebihan ini yang biasanya kita definisikan sebagai reaksi alergi. Reaksi alergi dapat mengenai siapa saja, dengan target organ yang berbeda, misalnya beberapa orang timbul bentol setelah makan seafood, atau timbul sesak napas atau asma.