Alergi Makanan

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Alergi Makanan

Alergi makanan adalah reaksi alergi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengira bahwa protein dari beberapa makanan dianggap sebagai suatu ancaman yang berbahaya. Alergi makanan ini dapat bersifat akut atau tiba-tiba, tetapi dapat juga bersifat kronis atau berlangsung dalam waktu yang lama.

 

Faktor Risiko Alergi Makanan

Faktor risiko pada alergi makanan, antara lain:

  • Riwayat keluarga. Jika salah anggota keluarga ada yang mengidap asma, eksim, alergi debu, atau alergi lainnya, seseorang lebih beresiko mengalami alergi makanan.

  • Riwayat alergi makanan. Jika pernah mengalami alergi makanan, dapat terjadi kekambuhan di kemudian hari.

  • Usia. Bayi dan anak-anak lebih umum mengidap alergi makanan. Namun, seiring pertambahan usia, saluran cerna akan menjadi lebih matang dalam mencerna makanan yang dapat memicu alergi.

 

Penyebab Alergi Makanan

Sistem kekebalan tubuh secara salah mengidentifikasi protein pada makanan tertentu sebagai sesuatu yang mengancam dan berbahaya. Sistem kekebalan ini memicu pelepasan Imunoglobulin E (IgE) ke dalam darah untuk menetralisir makanan yang diduga berbahaya tadi. Akibatnya, timbul gejala alergi.

Makanan pemicu utama dari alergi, antara lain makanan yang berasal dari laut, seperti lobster, udang, kepiting ikan, dan protein dalam kerang. Sementara itu, kacang kenari, pala, telur merupakan makanan yang juga berpotensi memicu alergi. Sedangkan pada anak-anak, alergi makanan umumnya dipicu oleh protein dalam telur, susu, kacang-kacangan, dan gandum.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Orang Bisa Mengalami Alergi

 

Lihat  Juga Alergi Kacang 

 

Gejala Alergi Makanan

Berdasarkan jangka waktu timbulnya, gejala, serta zat pemicunya, alergi makanan terbagi dalam tiga jenis yaitu:

  1. Imunoglobulin E

Zat antibodi dalam tubuh manusia salah satunya berasal dari imunoglobulin E atau IgE. Gejala yang ditimbulkan umumnya tidak lama setelah pengidap mengonsumsi makanan tertentu. Gejalanya meliputi:

  • Ruam kemerahan yang tampak timbul pada permukaan kulit.

  • Gatal-gatal.

  • Kesemutan pada rongga mulut.

  • Sulit menelan.

  • Bengkak pada mulut, wajah, dan bagian tubuh lain.

  • Mual dan muntah.

  • Mata gatal.

  • Bersin.

  • Napas pendek atau sesak.

  • Pusing.

  • Sakit perut atau diare.

  1. Non Imunoglobulin E

Gejala yang timbul membutuhkan waktu lebih lama, umumnya berjam-jam setelah pengidap mengonsumsi makanan tertentu. Gejalanya meliputi:

  • Ruam kemerahan yang tidak tampak timbul pada permukaan kulit.

  • Gatal.

  • Kulit kering dan pecah-pecah, kemerahan, dan gatal.

  • Area kelamin dan anus tampak kemerahan.

  • Sembelit.

  • Nyeri ulu hati.

  • Lebih sering buang air besar.

  • Terdapat lendir atau darah pada kotoran saat buang air besar.

  • Kulit pucat.

  • Tampak lebih rewel pada bayi.

  1. Kombinasi Imunoglobulin E dan Non Imunoglobulin E

Pengidap alergi akan mengalami gejala dari kedua jenis alergi makanan. Sedangkan reaksi alergi yang berat (anafilaksis) gejalanya adalah sebagai berikut:

  • Jantung berdebar cepat.

  • Sesak napas.

  • Cemas dan ketakutan yang tiba-tiba.

  • Tekanan darah turun drastis.

  • Tidak sadarkan diri atau pingsan.

 

Diagnosis Alergi Makanan

Dalam mendiagnosis alergi makanan, umumnya dokter akan melakukan langkah-langkah berikut.

  • Menanyakan gejala dan riwayat penyakit.

  • Menanyakan riwayat penyakit alergi pada keluarga pengidap.

  • Pemeriksaan darah dilakukan untuk mengukur kadar imunoglobulin E dalam darah.

  • Pemeriksaan tes tusuk kulit (skin prick test)selalu diskusikan. Cara kerja tes ini adalah mengoleskan suatu makanan yang dapat memicu alergi kepada pengidap.

  • Setelah itu, kulit pengidap ditusuk dengan jarum steril, agar zat tadi masuk ke dalam kulit dan diamati reaksi alergi yang timbul. Selanjutnya, ditentukan zat mana yang menjadi pemicu alerginya.

  • Tes eliminasi makanan. Pengidap akan diminta untuk menghindari suatu jenis makanan yang diduga menjadi pemicu alergi selama setengah sampai satu setengah bulan. Jika memang pengidap alergi terhadap makanan itu, gejala tidak akan timbul dalam kurun waktu tersebut. Gejala baru akan timbul jika mengonsumsi makanan itu kembali.

Komplikasi yang dapat terjadi pada alergi makanan berat adalah anaphylaxis, yang umumnya terjadi karena makanan, obat seperti penicillin, dan serangga. Apabila alergi terjadi, segera diskusikan dengan dokter untuk diberikan obat epinephine (Adreniclick, Auvi-Q, EpiPen atau Symjepi) untuk keadaan darurat.

 

 Lihat Juga Alergi Telur

 

Pengobatan Alergi Makanan

Pengobatan pada alergi makanan bertujuan untuk mengurangi gejala. Obat alergi makanan yang umum digunakan adalah:

  • Antihistamin. Obat-obatan antihistamin dapat digunakan untuk alergi makanan dengan gejala ringan sampai sedang. Selalu diskusikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat-obatan antihistamin.

  • Adrenalin. Pada gejala alergi berat atau reaksi anafilaksis, obat-obatan diberikan dengan kandungan adrenalin. Obat ini diberikan dengan cara disuntikkan oleh dokter. Jika terdapat gejala alergi yang berat, pengidap harus segera dilarikan ke rumah sakit.

 

Pencegahan Alergi Makanan

Cara untuk mencegah alergi makanan adalah dengan menghindari makanan tertentu yang dapat menyebabkan gejala alergi pada diri seseorang.

Baca juga: Ini Dampak Alergi Makanan Paling Fatal

 

Lihat Juga Alergi Susu

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami tanda dan gejala alergi makanan tersebut, segera bicarakan dengan dokter untuk mengetahui penyebab dan mendapat penanganan yang tepat.

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. Food allergy
Diperbarui pada tanggal 21 Agustus 2019