• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Alergi Makanan

Alergi Makanan

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Alergi Makanan

Pengertian Alergi Makanan

Alergi makanan adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menganggap suatu zat seperti protein dalam makanan tertentu berbahaya bagi tubuh. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi terhadap zat makanan yang dianggap berbahaya tersebut, atau alergen. Bahkan sejumlah kecil makanan penyebab alergi dapat memicu tanda dan gejala seperti masalah pencernaan, gatal-gatal atau saluran udara bengkak. 

Pada sebagian orang, alergi ini dapat menyebabkan gejala parah atau bahkan reaksi yang mengancam jiwa yang dikenal sebagai anafilaksis. Selain itu, kondisi ini dapat bersifat akut atau tiba-tiba, tetapi dapat juga bersifat kronis atau berlangsung dalam waktu yang lama.

Alergi makanan sering kali tertukar dengan kondisi kesehatan lain yaitu intoleransi makanan. Meski begitu, keduanya merupakan kondisi kesehatan yang berbeda. Sebab intoleransi makanan merupakan reaksi dari sistem pencernaan. Tidak ada kaitannya dengan antibodi seperti alergi pada makanan.

Penyebab Alergi Makanan

Tak sedikit orang yang kesulitan menemukan penyebab yang dialaminya. Namun, kondisi tersebut biasanya disebabkan oleh hal berikut:

  1. Sistem kekebalan tubuh

Antibodi adalah protein khusus yang diproduksi oleh sistem kekebalan untuk melindungi tubuh. Nah, antibodi bekerja dengan mengidentifikasi potensi berbahaya yang mengancam tubuh, seperti bakteri dan virus. Antibodi memberi sinyal ke sistem kekebalan untuk melepaskan bahan kimia untuk membunuh ancaman dan mencegah penyebaran infeksi.

Pada jenis alergi yang paling umum, antibodi yang dikenal sebagai imunoglobulin E (IgE), secara keliru menargetkan protein tertentu yang ditemukan dalam makanan sebagai ancaman. IgE dapat menyebabkan beberapa bahan kimia dilepaskan, yang paling penting adalah histamin.

  1. Histamin

Sebagian besar gejala khas yang muncul selama reaksi alergi disebabkan oleh histamin. Nah, zat ini dapat menyebabkan gejala berupa:

  • Pelebaran pembuluh darah kecil, sehingga kulit menjadi merah dan membengkak.
  • Mempengaruhi saraf di kulit, sehingga menyebabkan gatal.
  • Meningkatkan jumlah lendir yang diproduksi di lapisan hidung yang menyebabkan gatal dan sensasi terbakar.

Pada sebagian besar kasus, pelepasan histamin terbatas pada bagian tubuh tertentu, seperti mulut, tenggorokan, atau kulit.

  1. Alergi yang tidak diperantarai IgE

Ada jenis alergi makanan lain yang dikenal sebagai alergi pada makanan yang tidak diperantarai IgE, yang disebabkan oleh sel-sel yang berbeda dalam sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini jauh lebih sulit untuk didiagnosis karena tidak ada tes yang akurat untuk mengkonfirmasi alergi pada makanan yang tidak diperantarai IgE.

Jenis reaksi ini sebagian besar terbatas pada kulit dan sistem pencernaan, menyebabkan gejala seperti mulas, gangguan pencernaan dan eksim. Pada bayi, alergi pada makanan yang tidak diperantarai IgE juga dapat menyebabkan diare dan refluks, di mana asam lambung naik ke tenggorokan.

  1. Makanan Tertentu

Pada anak-anak, makanan yang paling sering menyebabkan reaksi alergi adalah telur, susu dan produk turunannya, kedelai, gandum serta kacang-kacangan. Pada orang dewasa, makanan yang paling sering menyebabkan reaksi alergi adalah kacang-kacangan, ikan, dan seafood. 

Faktor Risiko Alergi Makanan

Siapa pun dapat mengalaminya, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, seperti:

  • Riwayat keluarga. Alergi dapat diturunkan dalam keluarga. Jika anggota keluarga dekat mengidap asma atau penyakit alergi apa pun, termasuk alergi makanan, eksim, dan alergi musiman, orang tersebut lebih mungkin mengembangkan kondisi tersebut.
  • Riwayat alergi makanan lainnya. Jika kamu sudah memiliki alergi terhadap satu makanan, kamu mungkin berisiko lebih tinggi menjadi alergi terhadap makanan lain. Demikian pula, jika kamu memiliki jenis reaksi alergi lain, seperti demam atau eksim, risiko untuk mengalami alergi pada makanan lebih besar.
  • Usia. Bayi dan anak-anak lebih rentan mengidap alergi makanan. Namun, seiring pertambahan usia, saluran cerna akan menjadi lebih matang dalam mencerna makanan yang dapat memicu alergi.
  • Bakteri usus.  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang alergi kacang atau musiman dapat mengubah kondisi bakteri usus.

Gejala Alergi Makanan

Seseorang yang mengalami kondisi ini bisa mengalami berbagai gejala pada tubuhnya, antara lain: 

  • Ruam kemerahan yang tampak timbul pada permukaan kulit.
  • Gatal-gatal.
  • Kesemutan pada rongga mulut.
  • Sulit menelan.
  • Bengkak pada mulut, wajah, dan bagian tubuh lain.
  • Mual dan muntah.
  • Mata gatal.
  • Bersin.
  • Napas pendek atau sesak.
  • Pusing.
  • Sakit perut atau diare.
  • Kulit kering dan pecah-pecah, kemerahan, dan gatal.
  • Area kelamin dan anus tampak kemerahan.
  • Sembelit.
  • Nyeri ulu hati.
  • Lebih sering buang air besar.
  • Terdapat lendir atau darah pada kotoran saat buang air besar.
  • Kulit pucat.
  • Tampak lebih rewel pada bayi.

Di samping itu, alergi makanan dalam beberapa kasus bisa menyebabkan anafilaksis, gejalanya bisa berupa: 

  • Jantung berdebar cepat.
  • Sesak napas.
  • Cemas dan ketakutan yang tiba-tiba.
  • Tekanan darah turun drastis.
  • Tidak sadarkan diri atau pingsan.

Diagnosis Alergi Makanan

Untuk melakukakn diagnosis, dokter perlu menanyakan sejumlah pertanyaan dan melakukan tes. Jika gejalanya berkembang dengan cepat, kamu mungkin direkomendasikan untuk menjalani tes tusuk kulit atau tes darah. Namun, bila gejalanya berkembang lebih lambat, dokter mungkin menyarankan kamu untuk tes eliminasi makanan.

  1. Mengajukan pertanyaan

Pertama-tama, dokter akan akan menanyakan beberapa pertanyaan tentang pola dan gejala yang kamu alami, seperti:

  • Berapa lama gejala muncul setelah terpapar makanan?
  • Berapa lama gejala berlangsung?
  • Seberapa parah gejalanya?
  • Apakah ini pertama kalinya gejala ini terjadi? Jika tidak, seberapa sering gejala terjadi?
  • Makanan apa yang mungkin menjadi penyebab dan berapa banyak yang dimakan ?
  • Apakah kamu memiliki alergi atau kondisi alergi lain?
  • Apakah ada riwayat alergi dalam keluarga?
  • Apakah (atau sedang) anak disusui atau diberi susu botol?

Pada anak-anak, dokter mungkin perlu menilai berat dan ukuran anak untuk memastikan pertumbuhannya sesuai dengan usianya. 

  1. Tes tusuk kulit

Selama tes tusuk kulit, tetesan dari ekstrak makanan akan ditempatkan di lengan. Kulit kemudian ditusuk dengan lanset kecil, sehingga memungkinkan alergen bersentuhan dengan sel-sel sistem kekebalan. Gatal, kemerahan dan bengkak adalah tanda yang menunjukkan reaksi positif. Tes ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.

  1. Tes darah

Alternatif untuk tes tusuk kulit adalah tes darah, untuk mengukur jumlah antibodi alergi dalam darah.

  1. Tes eliminasi makanan

Dalam tes eliminasi makanan, makanan yang diduga menyebabkan reaksi alergi akan dihindari selama 2-6 minggu. Makanan kemudian diperkenalkan kembali setelahnya. Jika gejala hilang saat makanan dihentikan, tetapi muncul kembali setelah makanan dikonsumsi, maka kondisi ini biasanya menunjukkan alergi pada makanan atau intoleransi.

Komplikasi 

Alergi makanan jarang menimbulkan komplikasi serius. Namun, pada kasus yang parah juga dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Nah, berikut adalah beberapa komplikasi alergi makanan yang perlu kamu waspadai, yaitu: 

1. Anafilaksis

Pada beberapa orang, alergi dapat memicu reaksi alergi parah yang disebut anafilaksis. Kondisi ini dapat menyebabkan tanda dan gejala yang mengancam jiwa, seperti:

  • Penyempitan dan pengetatan saluran udara.
  • Tenggorokan bengkak atau sensasi benjolan di tenggorokan yang membuat seseorang sulit bernapas.
  • Syok dengan penurunan tekanan darah yang parah.
  • Denyut nadi cepat.
  • Pusing, sakit kepala ringan, atau kehilangan kesadaran,

Segera minta bantuan medis atau pergi ke unit gawat darurat bila kamu atau orang di sekitarmu mengalami tanda-tanda di atas.

2. Dermatitis atopik

Eksim atau dermatitis atopik adalah komplikasi lain dari alergi makanan. Kondisi ini dapat menimbulkan reaksi kulit gatal-gatal dan kulit kemerahan (eksim). 

Pengobatan Alergi Makanan

Satu-satunya cara untuk mengobati reaksi alergi sepenuhnya adalah dengan menghindari makanan yang menyebabkan alergi. Kendati demikian, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meringankan reaksinya. Untuk reaksi alergi ringan, antihistamin yang dijual bebas atau diresepkan dapat membantu mengurangi gejala. 

Obat ini dapat diminum setelah terpapar makanan penyebab alergi untuk membantu meredakan gatal atau gatal-gatal. Namun, antihistamin tidak dapat mengobati reaksi alergi yang parah. Untuk reaksi alergi yang parah, kamu mungkin memerlukan suntikan epinefrin darurat. 

Para peneliti telah mempelajari penggunaan imunoterapi oral sebagai pengobatan untuk alergi makanan. Terapi ini dilakukan dengan memberikan dosis kecil makanan yang membuat alergi, dengan cara ditelan atau diletakkan di bawah lidah (sublingual). Kemudian dosisnya akan ditingkatkan secara bertahap.

Pencegahan 

Cara yang paling tepat untuk mencegah reaksi alergi adalah dengan mengetahui dan menghindari makanan yang menyebabkan alergi. Selalu baca label makanan dan minuman dengan cermat apakah ada kandungan yang bisa membuat tubuh alergi. 

Jika sedang mengunjungi tempat makan, tanyakan pada pelayan tentang bahan-bahan pada menu yang dipilih. Tujuannya untuk memastikan tidak ada bahan yang bisa memicu alergi. Bila ada bahan makanan dan minuman yang dapat  memicu alergi, minta juru masak untuk menghilangkan bahan tersebut. Pada anak-anak, jangan lupa beritahu guru atau petugas penitipan anak bila Si Kecil punya alergi makanan tertentu. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami salah satu atau sejumlah gejala alergi setelah mengonsumsi makanan tertentu, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Terutama jika reaksi alergi yang kamu rasakan membuatmu sesak napas. 

Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji rumah sakit dengan dokter spesialis. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu lama. Jadi tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang! 

Referensi:

WebMD. Diakses pada 2022. Food allergy.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Food allergy.
National Health Services. Diakses pada 2022. Food allergy.
Medical News Today. Diakses pada 2022. Food allergy.

FDA.gov. Diakses pada 2022. Food Allergies.