Atelektasis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Atelektasis

Pada keadaan normal, pernapasan yang efektif berlangsung sejak hidung menghirup udara, hingga udara masuk ke saluran pernapasan, yaitu bronkus, bronkiolus, dan mencapai alveoli. Kemudian dari alveoli, udara akan masuk ke dalam pembuluh darah dan kandungan oksigen dari udara akan dialirkan ke seluruh tubuh. Untuk dapat berfungsi normal, alveoli perlu untuk selalu dapat dalam keadaan terbuka, sehingga udara yang mengandung oksigen dapat masuk dan mengalir ke pembuluh darah. Kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti cairan surfaktan (untuk mempertahankan tegangan permukaan), aktivitas bernapas yang kontinyu (untuk mempertahankan alveoli tetap terbuka), pernapasan dalam (untuk mendorong pelepasan surfaktan ke alveoli), dan batuk (untuk membersihkan saluran napas dari lendir).

Atelektasis merupakan suatu kondisi ketika paru-paru gagal atau tidak dapat mengembang sempurna. Asal nama atelektasis diambil dari bahasa Yunani, yaitu “ateles” yang berarti tidak sempurna dan “ektasis” yang berarti pengembangan. Atelektasis dapat menyerang sebagian paru saja atau seluruhnya, seperti pada satu atau lebih lobus, segmen, atau subsegmen. Atelektasis sebenarnya bukanlah sebuah penyakit, tapi merupakan gambaran radiologis yang disebabkan oleh adanya suatu penyakit. Apabila tidak ditangani, maka kondisi ini dapat mengakibatkan kekurangan oksigen di dalam tubuh dan infeksi, seperti pneumonia.

Baca juga: Waspadai 5 Penyakit Paru yang Umum Terjadi

 

Faktor Risiko Atelektasis

Atelektasis dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin maupun ras. Faktor risiko terjadinya atelektasis, antara lain:

  • Berusia 60 tahun atau lebih.

  • Bayi lahir prematur.

  • Selesai menjalani operasi.

  • Memiliki penyakit paru.

 

Penyebab Atelektasis

Atelektasis dapat disebabkan oleh banyak hal. Berdasarkan penyebabnya, atelektasis dapat dibagi menjadi lima, yaitu atelektasis obstruktif, pasif, kompresif, adhesif dan sikatrisasi.

  • Atelektasis Obstruktif

Tipe ini merupakan jenis atelektasis paling sering. Penyebabnya dapat merupakan sumbatan, baik di dalam maupun diluar saluran napas yang mengganggu mengembangan alveoli. Penyebab atelektasis obstruktif, di antaranya adalah sumbatan oleh benda asing, tumor, sekret yang kental, dan infeksi.

  • Atelektasis Pasif

Atelektasis jenis ini disebut juga atelektasis relaksasi. Kondisi ini disebabkan oleh adanya suatu massa di luar paru yang menghambat pengembangan paru. Massa ini dapat berupa tumpukan cairan di pleura (misalnya, berupa darah, transudat, ataupun eksudat) atau udara (pneumotoraks) yang menyebabkan paru kolaps. Selain itu, elevasi diafragma atau hernia organ-organ perut juga dapat menekan paru.

  • Atelektasis Kompresif

Atelektasis ini mirip dengan atelektasis pasif, tetapi massanya berada di dalam paru. Penyebabnya dapat berupa bula yang besar, keganasan, abses, ataupun lesi lain yang menyebabkan kompresi pada paru.

  • Atelektasis Adhesif

Atelektasis adhesif merupakan jenis atelektasis non-obstruktif dan non-kompresif akibat berkurangnya produksi surfaktan oleh pneumosit tipe II. Penyebab kerusakan pneumosit bisa bermacam-macam, antara lain gangguan genetik, anestesi umum, iskemia, dan kerusakan akibat radiasi. Tipe ini jarang terjadi dan biasanya didapatkan pada anak yang mengidap penyakit membran hialin. Selain itu, atelektasis adhesif juga dapat disebabkan oleh sindrom distres respirasi akut, inhalasi asap, pembedahan bypass jantung, uremia, dan napas dangkal yang berkepanjangan.

  • Atelektasis Sikatrisasi

Atelektasis tipe ini menggambarkan kondisi jaringan parut dan kontraktur pada jaringan paru yang terjadi setelah infeksi paru (misalnya, pneumokoniosis), skleroderma, radiasi, dan fibrosis paru idiopatik. Kondisi ini dapat terjadi secara lokal, misalnya infeksi tuberkulosis pada bagian atas paru atau secara umum, misalnya pada fibrosis paru interstisial)

Baca juga: Cegah Fibrosis Paru dengan Menerapkan Gaya Hidup Sehat

 

Gejala Atelektasis

Keluhan yang mungkin dialami oleh pengidap atelektasis dapat bervariasi, mulai dari tidak ada keluhan sama sekali, hingga keluhan yang berat tergantung pada jumlah alveoli yang terkena. Jika banyak alveoli yang terkena atelektasis, dapat timbul gejala-gejala sebagai berikut:

  • Sesak napas.

  • Nyeri dada, terutama saat bernapas dalam atau batuk.

  • Napas menjadi cepat.

  • Detak jantung meningkat.

  • Kulit pada tubuh, bibir, ujung jari tangan, dan kaki menjadi kebiruan.

Apabila atelektasis disertai dengan infeksi paru, bisa terjadi gejala tambahan berupa batuk produktif dan demam.

 

Diagnosis Atelektasis

Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis atelektasis, meliputi:

  • Pemeriksaan riwayat penyakit dan keluhan.

  • Pemeriksaan fisik.

  • Pemeriksaan penunjang, seperti:

    • Pemeriksaan kadar oksigen darah dengan menggunakan oksimeter. Alat ini akan dipasangkan pada ujung jari.

    • Pemeriksaan kadar oksigen, karbondioksida, dan kimia darah dengan pemeriksaan gas darah.

    • Pemeriksaan rontgen dada. Pemeriksaan ini dapat melihat kondisi atelektasis secara umum.

    • Pemeriksaan CT Scan. Melalui pemeriksaan ini, kemungkinan penyebab atelektasis, seperti tumor atau massa lainnya bisa diketahui.

    • Pemeriksaan bronkoskopi. Pemeriksaan ini untuk melihat adanya sumbatan pada jalan napas. Dokter akan memasukkan kamera dengan menggunakan alat khusus melalui hidung atau mulut, hingga ke paru-paru.

 

Pengobatan dan Efek Samping Atelektasis

Pengobatan atelektasis diberikan berdasarkan penyebabnya. Secara umum, pengobatan atelektasis meliputi terapi non-bedah dan terapi dengan pembedahan.

1. Terapi Non-bedah

Sebagian besar kasus atelektasis dapat diterapi dengan:

  • Fisioterapi dada. Terapi ini dilakukan dengan menggerakkan tubuh untuk membantu melancarkan jalan napas. Terapi ini sering digunakan untuk menyembuhkan pengidap atelektasis obstruktif, post tindakan bedah, dan fibrosis kistik.

  • Bronkoskopi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kamera dan alat khusus ke dalam jalan napas untuk membuang sumbatan.

  • Latihan pernapasan. Latihan pernapasan dapat dilakukan dengan bantuan fisioterapi atau dengan alat khusus, seperti spirometer insentif untuk membantu bernapas dalam dan membuka alveoli. Biasanya terapi ini dilakukan pada pengidap atelektasis pascapembedahan.

  • Drainase. Tindakan ini dilakukan bila atelektasis disebabkan oleh pneumotoraks atau efusi pleura. Dalam proses drainase, dokter akan memasukkan jarum khusus dan memasangkan selang khusus untuk mengalirkan udara, cairan atau darah ke dalam kantung khusus.

  • Pemberian Antibiotika dan Obat-Obatan Lainnya. Tindakan ini diberikan sesuai dengan penyebab atelektasis.

2. Terapi Bedah

Pada kondisi tertentu, mungkin dibutuhkan untuk membuang sebagian jaringan paru. Untuk itu, dibutuhkan tindakan pembedahan.

Baca juga: Ketahui Prosedur Operasi Transplantasi Paru

 

Pencegahan Atelektasis

Pencegahan atelektasis dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, antara lain:

  • Mengonsumsi makanan yang sehat.

  • Minum air yang cukup.

  • Olahraga teratur.

  • Menghindari merokok.

  • Menghindari menghirup asap yang berlebihan.

  • Melakukan pengobatan yang teratur dengan dokter jika memiliki penyakit paru.

Bila mengalami gangguan paru dan berencana melakukan operasi paru, sebaiknya diskusikan kepada dokter agar dapat menghindari terjadinya atelektasis pasca tindakan pembedahan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila ada keluarga atau kerabat yang mengalami gejala atelektasis, segera hubungi dokter. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

Referensi:

WebMD. Diakses pada 2019. Atelectasis: Symptoms, Causes, Treatments of a Collapsed Lung.

Healthline. Diakses pada 2019. Atelectasis: Definition, Symptoms, Type, Causes, and Treatment

Diperbarui pada tanggal 30 Agustus 2019.