Benjolan Payudara

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Benjolan Payudara

Benjolan payudara adalah suatu jaringan abnormal yang tumbuh di dalam payudara. Konsistensi benjolan ini tergantung pada jenisnya, dapat teraba padat atau berisi cairan. Umumnya, sebagian besar benjolan payudara bersifat jinak. Meskipun demikian, benjolan juga dapat merupakan suatu tanda kanker payudara. Sebaiknya segera memeriksakan diri, jika terdapat benjolan yang awalnya tidak pernah ada di payudara sebelumnya.

 

Gejala Benjolan Payudara

Beberapa tanda dan gejala umum dari benjolan payudara, antara lain:

  • Benjolan berukuran kurang atau lebih dari 5 sentimeter, tetapi dapat makin membesar.
  • Benjolan membesar sebelum menstruasi dan kembali ke ukuran semula setelah menstruasi selesai.
  • Benjolan teraba lunak, kenyal, atau padat.
  • Benjolan timbul tunggal atau banyak, di satu atau kedua payudara.
  • Bentuk benjolan bulat atau lonjong, dapat digerakkan atau terfiksasi.
  • Demam.
  • Payudara membengkak.
  • Payudara teraba keras.
  • Payudara terasa keras dan hangat bila disentuh.
  • Perubahan bentuk pada kedua payudara.
  • Puting mengeluarkan cairan yang dapat terlihat bening atau keruh.
  • Puting terasa gatal atau sensitif.

 

Sedangkan gejala benjolan payudara yang yang mengarah pada keganasan dan perlu diwaspadai, sehingga harus segera diperiksakan ke dokter, antara lain:

  • Benjolan makin membesar.
  • Benjolan teraba padat dan tidak bergeser jika digerakkan.
  • Benjolan tidak hilang setelah menstruasi, atau lebih dari 4 atau 6 minggu.
  • Kulit payudara memerah, mengeras, atau mengkerut seperti kulit jeruk.
  • Payudara memar tanpa sebab yang jelas.
  • Puting masuk ke dalam atau posisinya tidak normal.
  • Puting mengeluarkan darah.
  • Timbul benjolan baru.
  • Timbul benjolan di ketiak.

 

Penyebab dan Faktor Risiko Benjolan Payudara

Beberapa penyebab dan faktor risiko dari benjolan payudara, antara lain:

 

  • Fibroadenoma, merupakan tumor jinak pada payudara yang paling sering dialami wanita berusia 20-30 tahun. Fibroadenoma terbentuk dari jaringan payudara dan jaringan ikat, dan dapat timbul pada satu atau kedua payudara. Kondisi ini diduga terkait dengan hormon estrogen atau penggunaan pil KB sebelum usia 20 tahun.
  • Fibrokistik payudara, merupakan pertumbuhan jaringan fibrosa yang abnormal di payudara, sehingga lebih menonjol dibanding jaringan lemak. Kondisi ini terbanyak dialami wanita berusia 30-50 tahun. Penyebabnya berkaitan dengan perubahan hormon estrogen dalam siklus menstruasi.
  • Kista, merupakan benjolan berisi cairan, dapat timbul satu atau lebih pada satu atau kedua payudara, umumnya berbentuk bulat atau lonjong, umumnya lunak, dan kadang teraba padat. Kista terbentuk akibat penumpukan cairan di dalam kelenjar payudara, yang diduga terkait perubahan hormon wanita pada siklus menstruasi.
  • Lipoma, merupakan benjolan lemak yang tumbuh secara perlahan di bawah kulit, serta dapat tumbuh di bagian tubuh mana pun seperti leher, bahu, punggung, perut, termasuk payudara. Lipoma lebih sering dialami orang yang berusia 40-60 tahun. Penyebab pasti lipoma belum diketahui dan cenderung dialami seseorang yang memiliki riwayat lipoma dalam keluarga.
  • Mastitis, merupakan peradangan pada jaringan payudara, yang dapat disertai infeksi. Mastitis menyebabkan terbentuknya abses (kumpulan nanah) pada jaringan payudara. Kondisi ini umumnya dialami ibu menyusui. Penyebabnya adalah infeksi bakteri pada jaringan payudara dan penyumbatan di duktus (saluran yang membawa ASI dari kelenjar payudara ke puting) yang memicu peradangan serta infeksi.
  • Nekrosis lemak, merupakan kerusakan kelenjar lemak di payudara, yang umumnya terjadi akibat cedera, setelah menjalani operasi, atau setelah mendapat terapi radiasi pada payudara.
  • Papiloma intraduktal, merupakan tumor jinak yang terbentuk di duktus, yaitu saluran yang membawa susu dari kelenjar susu (lobulus) ke puting payudara. Tumor ini terbentuk dari jaringan fibrosa, kelenjar, dan pembuluh darah, serta banyak menyerang wanita usia 35-55 tahun. Penyebabnya belum diketahui.

 

 

 

 

 

Diagnosis Benjolan Payudara

Dokter akan mendiagnosis penyebab benjolan payudara dengan diawali suatu wawancara medis lengkap, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik di daerah payudara serta di seluruh tubuh. Selanjutnya, dokter akan meminta untuk dilakukan beberapa pemeriksaan penunjang untuk membantu penegakan diagnosis, seperti:

  • Mammografi, yang merupakan foto Rontgen pada payudara. Saat pemeriksaan berlangsung, payudara akan ditekan supaya gambaran jaringan payudara dapat terlihat lebih jelas. Mammografi dapat menilai beberapa kelainan pada payudara, seperti tumor, penumpukan kalsium, atau jaringan yang padat di payudara.
  • Ultrasonografi, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara, untuk menghasilkan gambar. USG payudara berguna untuk memeriksa benjolan payudara, terutama dalam membedakan benjolan padat dan benjolan yang berisi cairan.
  • MRI, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan medan magnet dan gelombang suara, untuk menampilkan gambar bagian dalam tubuh. MRI dilakukan ketika terdapat benjolan payudara yang ditemukan pada pemeriksaan fisik, namun tidak terlihat pada mammografi atau USG.
  • Duktografi atau galaktografi, yaitu prosedur pengambilan gambar kelenjar payudara dengan menggunakan foto Rontgen, untuk mengetahui penyebab keluarnya cairan dari puting. Prosedur ini diawali dengan pemberian suntikan kontras ke puting.
  • Biopsi, yaitu prosedur pengambilan sampel jaringan dari benjolan atau seluruh benjolan, untuk diperiksa di laboratorium. Beberapa metodenya, antara lain:
  • Aspirasi jarum halus (fine-needle aspiration biopsy)
  • Biopsi bedah (surgical biopsy)
  • Biopsi dengan bantuan vakum (vacuum-assisted biopsy)
  • Biopsi jarum inti (core needle biopsy)

 

Pencegahan Benjolan Payudara

Pada sebagian kasus, benjolan payudara tidak dapat dicegah, oleh karena diakibatkan perubahan hormon yang tidak dapat dikontrol. Meski demikian, semua wanita diharapkan dapat menyadari jika terjadi perubahan pada payudaranya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan SADARI (periksa payudara sendiri), untuk mendeteksi adanya benjolan pada payudaranya sejak dini. SADARI dilakukan satu bulan sekali, pada 7-10 hari setelah hari pertama menstruasi, dengan cara sebagai berikut:

  • Berdiri di depan cermin dan amati jika terdapat perubahan pada bentuk, ukuran, warna kulit, serta permukaan kulit payudara. Umumnya bentuk payudara kanan dan kiri memang tidak simetris, sehingga tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
  • Angkat kedua tangan ke atas, lalu tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala (tengkuk). Dorong siku ke depan dan ke belakang sambil mengamati bentuk dan ukuran payudara.
  • Raba payudara menggunakan tiga jari (telunjuk, tengah, manis) yang dirapatkan, lalu dengan tekanan lembut, lakukan gerakan memutar mulai dari sisi luar payudara hingga ke dalam dan menyentuh puting. Rasakan dengan baik jika terdapat penebalan atau benjolan.
  • Saat mandi, posisikan tangan kanan di belakang kepala. Kemudian setelah disabuni, periksa payudara kanan dengan tangan kiri dengan gerakan melingkar, dari puting ke sisi luar payudara. Lakukan langkah yang sama pada payudara kiri.
  • Saat berbaring, letakkan tangan kiri di bawah kepala. Kemudian, periksa payudara kiri dengan tangan kanan. Lakukan hal yang sama pada payudara kanan.
  • Pencet kedua puting dan amati apakah ada cairan tidak normal keluar dari puting.

Langkah pencegahan lain adalah dengan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis), yang dilakukan oleh petugas medis terlatih. Setiap wanita disarankan menjalani SADANIS secara berkala, untuk menemukan benjolan atau kelainan payudara sedini mungkin. Dokter menyarankan SADANIS dilakukan tiap 3 tahun pada wanita usia 20-40 tahun dan setahun sekali bagi wanita di atas usia 40 tahun.

 

Pengobatan Benjolan Payudara

Pada sebagian besar kasus, benjolan payudara tidak perlu ditangani karena tidak berbahaya dan mengganggu. Pada beberapa kasus, benjolan payudara dapat menghilang dengan sendirinya. Pengobatan medis akan dilakukan jika benjolan makin besar atau menimbulkan keluhan. Prosedur yang akan dilakukan untuk mengatasi benjolan payudara tergantung pada jenis benjolannya, beberapa diantaranya:

 

  • Pemberian obat-obatan, seperti pil KB untuk menurunkan kadar hormon estrogen.
  • Pemberian antibiotik dan obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen, pada benjolan akibat mastitis. Proses menyusui harus tetap dilanjutkan, karena tidak membahayakan bayi dan dapat membantu penyembuhan mastitis.
  • Lumpektomi. Lumpektomi dimulai dengan memberi bius lokal pada pengidap. Selanjutnya, dokter akan membuat irisan di sekitar area tumor, kemudian mengangkat tumor dan sedikit jaringan di sekitarnya. Prosedur ini dapat dilakukan pada wanita dengan satu benjolan dengan diameter kurang dari 5 sentimeter.
  • Krioterapi. Krioterapi atau terapi beku dilakukan untuk menghancurkan sel abnormal dengan cara dibekukan. Pada prosedur ini, jarum khusus akan dimasukkan langsung ke area tumor. Selanjutnya, dokter akan menyuntikkan nitrogen cair untuk membekukan tumor.
  • Aspirasi jarum halus. Aspirasi jarum halus adalah prosedur pengeluaran cairan dari benjolan payudara dengan menggunakan jarum khusus. Prosedur ini dilakukan dengan bantuan USG, agar penempatan jarum tepat pada benjolan.
  • Prosedur bedah, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, atau kombinasi dari beberapa prosedur tersebut, jika benjolan payudara merupakan kanker payudara. Pemilihan prosedur ini tergantung pada ukuran kanker, stadium kanker, serta usia dan kondisi kesehatan pengidap.

 

 

 

 

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika menemukan benjolan yang abnormal pada pemeriksaan SADARI atau jika mengalami beberapa gejala di atas secara terus-menerus dan tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu di sini.