• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Cek Feses

Cek Feses

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Cek Feses

Apa Itu Cek Feses?

Cek feses biasanya direkomendasikan dokter saat mengalami gangguan pencernaan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk membantu mendiagnosis kondisi tertentu yang terjadi pada sistem pencernaan. Misalnya infeksi parasit, virus, atau bakteri. 

Selain itu, cek feses juga sering dilakukan untuk memeriksa apakah terjadi masalah lain pada pencernaan. Misalnya gangguan penyerapan nutrisi atau bahkan adanya kanker.

Sampel feses biasanya diambil secara mandiri, lalu dibawa ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut. Analisis laboratorium yang akan dilakukan adalah pemeriksaan mikroskopis, tes kimia, dan tes mikrobiologis.

Sampel feses juga akan diperiksa dari segi warna, konsistensi, jumlah, bentuk, bau, adanya lendir, atau zat lain seperti darah, lemak, sel darah putih, dan gula. 

Kenapa Melakukan Cek Feses?

Cek feses dilakukan untuk membantu mengidentifikasi penyakit pada saluran pencernaan, hati, dan pankreas. Beberapa enzim seperti tripsin atau elastase dapat dievaluasi dalam feses. Enzim-enzim ini dapat menentukan seberapa baik pankreas berfungsi dalam pencernaan.

Tak hanya itu, cek feses juga bertujuan untuk menemukan penyebab gejala yang terjadi pada saluran pencernaan. Misalnya diare berkepanjangan, diare berdarah, perut kembung, mual, muntah, sakit perut dan kram.

Dokter juga dapat merekomendasikan cek feses untuk menetapkan diagnosis kanker usus besar. Dengan memeriksa darah yang ada di feses, atau mencari penyebab infeksi lain seperti parasit, bakteri, jamur, atau virus. 

Kapan Harus Melakukan Cek Feses?

Umumnya, cek feses perlu dilakukan jika mengalami gejala berikut ini:

  • Diare yang berlangsung lebih dari beberapa hari.
  • Feses yang mengandung darah atau lendir.
  • Nyeri perut atau kram.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Demam.

Beberapa kelompok orang juga direkomendasikan untuk menjalani cek feses segera, seperti:

  • Orang yang memiliki usia sangat muda atau sangat tua.
  • Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.
  • Orang yang sempat bepergian ke luar negeri, sehingga mungkin telah konsumsi makanan atau air yang tercemar.
  • Orang yang mengalami gejala penyakit yang cukup parah.

Bagaimana Melakukan Cek Feses?

Cek feses dimulai dengan pengambilan sampel feses. Ini bisa dilakukan di rumah ataupun di rumah sakit. Petugas medis akan menjelaskan cara pengambilan feses dan memberi wadah kedap udara untuk menampung sampel.

Sebelum menjalani cek feses, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:

  • Hindari melakukan cek feses jika sedang menstruasi atau mengalami perdarahan aktif yang disebabkan oleh wasir.
  • Beri tahu dokter jika dalam beberapa hari ke belakang menjalani pemeriksaan rontgen yang menggunakan zat kontras barium. Sebab, ini  dapat memengaruhi hasil tes.
  • Beri tahu dokter jika baru-baru ini bepergian, terutama bepergian ke luar negeri, selama beberapa minggu atau bulan.
  • Sebelum pemeriksaan, beri tahu dokter mengenai obat-obat yang sedang digunakan, termasuk obat resep, obat bebas, herbal, atau suplemen.

Berikut tahap yang perlu dilakukan saat pengambilan sampel:

  • Gunakan plastik pembungkus atau kertas koran yang diletakkan di kloset untuk mengambil sampel feses saat buang air besar.
  • Pastikan feses tidak berceceran atau menyentuh permukaan kloset, agar tidak terkontaminasi oleh air atau apapun.
  • Setelah feses selesai ditampung, gunakan sendok yang disediakan atau spatula untuk mengambil sampel feses dan memindahkannya ke dalam wadah. Tidak perlu terlalu banyak, kira-kira seukuran biji kurma saja.
  • Setelah sampel feses dikumpulkan di wadah, segera tutup rapat di dalam kantong plastik.
  • Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sampai bersih. 
  • Lalu, segera bawa wadah berisi sampel feses ke laboratorium. Disarankan untuk tidak lebih dari 24 jam, guna mencegah pertumbuhan bakteri dan mengaburkan hasil pemeriksaan.

Hasil Cek Feses

Hasil cek feses biasanya akan didapatkan dalam 1-3 hari. Adapun ciri feses yang dinyatakan normal adalah:

  • Berwarna cokelat, memiliki tekstur lembut, dan bentuknya konsisten.
  • Tidak terkandung bakteri, virus, jamur, parasit, lendir, nanah, darah, dan serat daging.
  • Mengandung sekitar 2-7 gram lemak dalam 24 jam.
  • Mengandung sedikit gula, atau kurang dari 0,25 gram/dL.
  • Memiliki pH atau tingkat keasaman 7,0–7,5.

Adanya darah pada sampe feses bisa menandakan adanya penyakit, seperti kanker usus besar, polip, wasir, atau peradangan. Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan tambahan, seperti kolonoskopi.

Sementara itu, jika ditemukan bakteri abnormal pada pemeriksaan kultur feses, bisa jadi merupakan tanda infeksi saluran pencernaan. Pemeriksaan lebih lanjut biasanya diperlukan untuk memastikannya.

Di Mana Melakukan Cek Feses?

Cek feses dapat dilakukan di rumah sakit, laboratorium, atau pusat layanan kesehatan yang menyediakan. Pengambilan sampel feses dapat dilakukan secara mandiri di rumah atau di pusat layanan kesehatan.

Kamu juga bisa bisa buat janji di rumah sakit melalui Halodoc untuk menjalani cek feses atau tes kesehatan lainnya. Jangan lupa download aplikasi Halodoc dulu, ya!

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2022. Stool Culture.
WebMD. Diakses pada 2022. Stool Sample Culture Test.
Kids Health. Diakses pada 2022. Stool Tests.
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Tests & Procedures. Fecal Occult Blood Test.
National Health Service UK. Diakses pada 2022. How Should I Collect and Store a Poo (Stool) Sample?
Diperbarui pada 18 Februari 2022