Cek Urine

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Apa Itu Cek Urine?

Cek urine atau yang dalam istilah medis disebut urinalisis merupakan pemeriksaan kesehatan melalui media urine atau air seni. Prosesnya melibatkan pemeriksaan penampilan, konsentrasi, dan zat-zat yang terkandung di dalam urine.

Baca juga : 4 Penyakit yang Bisa Dideteksi Melalui Cek Urine

 

Kenapa Melakukan Cek urine?

Pemeriksaan urine dilakukan karena beberapa alasan berikut ini.

  • Memeriksa kesehatan secara keseluruhan. Dokter dapat merekomendasikan tes urine sebagai bagian dari pemeriksaan medis rutin, pemeriksaan kehamilan, dan persiapan menjelang proses pembedahan atau operasi. Selain itu, pemeriksaan ini juga membantu mendeteksi adanya gangguan kesehatan, seperti diabetes, penyakit yang berhubungan dengan ginjal, dan penyakit hati.

  • Mendiagnosis kondisi medis. Dokter juga mungkin menyarankan untuk melakukan cek urine jika pasien mengalami sakit perut, sakit punggung, sering buang air kecil, terdeteksi darah pada urine, atau segala gangguan kesehatan yang berkaitan dengan urine. Tes urine umumnya dilakukan untuk membantu diagnosis penyebab dari gejala penyakit yang dirasakan oleh pasien. Contohnya, urine terlihat keruh (bukan jernih) saat terkena infeksi saluran kemih. Terjadinya peningkatan kadar protein pada urine juga bisa memberikan indikasi adanya penyakit pada ginjal.

  • Memantau kondisi medis. Jika seseorang telah didiagnosis mengalami suatu kondisi medis, misalnya penyakit ginjal atau gangguan pada saluran kemih, dokter akan merekomendasikan untuk melakukan cek urine secara teratur untuk memantau kondisi dan pengobatan yang dilakukan.

 

Kapan Harus Melakukan Cek Urine?

Cek urine bisa dilakukan kapan saja. Namun, beberapa kondisi medis mengharuskan seseorang melakukan pemeriksaan ini secara rutin. Seperti pada ibu hamil, yang bisa menggunakan tes urine untuk mendeteksi kehamilan positif atau negatif melalui alat test pack. Ibu yang sudah mengandung juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan ini secara teratur.

Jika seseorang mengalami gejala tertentu pada urine, seperti adanya darah pada urine, warna urine yang lebih pekat, atau segala gejala yang mengindikasikan adanya penyakit tertentu pun diwajibkan untuk melakukan tes urine. Biasanya, tes ini lebih sering dilakukan pada pasien yang memiliki gangguan atau penyakit ginjal dan saluran kemih.

Baca juga : Ini Prosedur Cek Urine untuk Mengetahui Napza dalam Tubuh

 

Bagaimana Melakukan Cek Urine?

Sebelum dilakukan pengecekan, petugas akan meminta pasien untuk menampung urine dalam wadah cangkir spesimen. Tidak dianjurkan untuk berpuasa jika hanya melakukan tes ini, tetapi jika cek urine dibarengi dengan pemeriksaan medis lainnya, biasanya pasien akan diminta untuk berpuasa atau memperbanyak konsumsi air putih.

Cara pengumpulan urine pada wanita dan pria ternyata berbeda. Pada wanita, diperlukan pembersihan pada area sekitar uretra. Sapukan tisu pembersih kering pada organ intim dari depan hingga ke belakang secara searah. Sedangkan pada pria, area ujung kepala penis harus dipastikan kebersihannya sebelum dilakukan pengumpulan urine.

Buang aliran awal urine ke toilet, dan tampung sisanya sebanyak 10 hingga 15 mililiter pada cangkir yang steril. Setelah itu, buang sisa urine yang masih keluar langsung ke toilet. Cara ini disebut dengan pengumpulan sampel urine secara mid-stream bersih catch. Sampel yang sudah ditampung harus langsung segera diperiksa (antara 1 sampai 2 jam setelah pengambilan). Namun, jika pemeriksaan tidak bisa segera dilakukan, maka simpan sampel dalam lemari pendingin.

Baca juga : Begini Prosedur Tes Urine untuk Mendiagnosis Diabetes

 

Di mana Melakukan Cek Urine?

Cek urine bisa dilakukan di fasilitas kesehatan mana saja, mulai dari klinik atau puskesmas, rumah sakit, bagian unit gawat darurat (UGD), hingga laboratorium kesehatan. 

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2019. What is Urynalisis

Diperbarui pada 19 September 2019