Difteri

Pengertian Difteri

Difteri adalah penyakit yang menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan dan terkadang dapat memengaruhi kulit. Ini merupakan jenis penyakit yang sangat menular dan termasuk infeksi serius yang dapat berakibat fatal apabila tidak ditangani dengan serius.

Penularan Difteri

Difetri dapat dengan mudah menyebar melalui udara saat pengidapnya batuk atau bersin. Namun ada beberapa metode penularan yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Melalui barang yang sudah terkontaminasi bakteri seperti, handuk.
  • Melalui sentuhan langsung dengan pengidap difteri.
  • Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, misalnya sapi.
  • Minum susu atau konsumsi makanan yang belum melalui proses pasteurisasi atau sterilisasi.

Komplikasi Difteri

Difteri harus ditangani segera, terutama yang terjadi pada anak-anak untuk menghindari komplikasi serius. Satu dari lima pengidap difteri balita dan orang dewasa di atas usia 40 tahun diperkirakan meninggal dunia akibat komplikasi difteri. Komplikasi difteri antara lain:

  • Masalah pernapasan.
  • Kerusakan jantung.
  • Kerusakan saraf.
  • Difteri hipertoksik.

Gejala Difteri

  • Terbentuknya membran abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfa pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Hidung beringus. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang berdarah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan bisul yang dapat sembuh dalam beberapa bulan namun dapat meninggalkan bekas. Sebaiknya segera hubungi dokter untuk mencegah komplikasi.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri yang menginfeksi selaput lendir pada hidung serta tenggorokan.

Faktor Risiko Difteri

Faktor yang meningkatkan risiko terkena difteri, yaitu:

  • Lokasi yang ditinggali.
  • Tidak mendapat vaksinasi difteri terbaru.
  • Memiliki gangguan sistem imun, seperti AIDS.
  • Memiliki sistem imun lemah, misalnya anak-anak atau orangtua.
  • Tinggal di kondisi yang padat penduduk atau tidak higienis.

Diagnosis Difteri

Diagnosis difteri dilakukan dengan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami Pengambilan sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit akan dilakukan untuk diperiksa di laboratorium.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, pengobatan akan langusng dimulai, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lamanya difteri diidap.

Pengobatan Difteri

Umumnya pengobatan difteri dilakukan dengan dua jenis obat yakni antibiotik dan antitoksin. Sebagian besar pengidap difteri tidak menularkan bakteri setelah meminum antibiotik selama dua hari. Sedangkan antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh.

Pencegahan Difteri

Langkah pencegahan paling efektif untuk difteri adalah vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DPT. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan solusi terbaik jika mengalami gejala-gejala di atas.