• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Difteri

Difteri

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
difteri-halodoc

Pengertian Difteri

Difteri adalah penyakit menular yang dapat disebarkan melalui batuk, bersin, atau luka terbuka. Gejalanya termasuk sakit tenggorokan dan masalah pernapasan. Penyebab utama difteri adalah infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae, yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta dapat memengaruhi kulit. 

Penyakit ini dapat menyerang orang-orang dari segala usia dan berisiko menimbulkan infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Pengobatannya meliputi antibiotik dan antitoksin untuk mematikan bakteri. Salah satu langkah pencegahan difteri yang paling efektif adalah mendapatkan vaksinasi difteri.

 Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh infeksi bakteri Corynebacterium diphteriae. Infeksi ini dapat menular melalui partikel di udara, benda pribadi, peralatan rumah tangga yang terkontaminasi, serta menyentuh luka yang terinfeksi kuman difteri. Selain penularan difteri juga bisa terjadi melalui air liur seseorang. Bahkan jika orang yang terinfeksi tidak menunjukkan tanda atau gejala difteri, mereka masih dapat menularkan bakteri hingga enam minggu setelah infeksi awal.

Bakteri paling sering menginfeksi bagian hidung dan tenggorokan. Setelah menginfeksi, bakteri melepaskan zat berbahaya yang disebut racun yang kemudian menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan lapisan abu-abu tebal. Lapisan ini umumnya terbentuk di area hidung, tenggorokan, lidah dan saluran udara. Dalam beberapa kasus, racun ini juga dapat merusak organ lain, termasuk jantung, otak, dan ginjal, sehingga berpotensi menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa.

Faktor Risiko Difteri

Risiko penularan difteri meningkat pada orang-orang yang belum mendapatkan vaksinasi. Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko penularan difteri yaitu:

  • Berkunjung ke daerah dengan cakupan imunisasi difteri yang rendah;
  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS;
  • Gaya hidup yang tidak sehat; 
  • Lingkungan dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk;
  • Anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang tua di atas usia 60 tahun;
  • Tinggal di pemukiman padat penduduk;
  • Bepergian ke daerah yang tinggi kasus difteri.

Gejala Difteri

Umumnya gejala penyakit difteri akan muncul 2–5 hari setelah seseorang terinfeksi bakteri Corynebacterium diphteriae. Setelah itu, bakteri menyebar ke aliran darah dan menimbulkan gejala di bawah ini:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan;
  • Demam dan menggigil;
  • Nyeri tenggorokan dan suara serak;
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat;
  • Pembengkakan kelenjar getah bening pada leher;
  • Lemas dan lelah;
  • Pilek yang awalnya cair, tetapi dapat sampai bercampur darah;
  • Batuk yang keras;
  • Rasa tidak nyaman;
  • Gangguan penglihatan;
  • Bicara melantur; dan
  • Tanda-tanda syok, seperti kulit yang pucat dan dingin, berkeringat, dan jantung berdebar cepat.

Pada beberapa orang difteri bersifat ringan atau tidak ada tanda dan gejala yang jelas sama sekali. Dalam kasus seperti ini, mereka tetap tidak menyadari penyakitnya dan masih bisa menularkannya ke orang lain. 

Diagnosis Difteri

Dokter akan mendiagnosis difteri dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik untuk melihat lapisan abu-abu di tonsil atau di tenggorokan serta pembesaran kelenjar getah bening pada leher. Apabila didapati lapisan abu-abu di area tenggorokan, dokter mungkin perlu mengambil sampel jaringan untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium.  

Pengobatan Difteri

Difteri adalah salah satu penyakit yang berpeluang fatal sehingga perlu diobati sesegera mungkin dan secara agresif. Pertama-tama, dokter perlu memastikan jalan napas tidak terhalang atau tersumbat. Dalam beberapa kasus, dokter perlu memasang tabung pernapasan di tenggorokan untuk menjaga jalan napas tetap terbuka sampai peradangan pada jalan napas berkurang. Setelah itu, dokter akan berfokus untuk membasmi bakteri penyebab difteri dengan memberikan perawatan berikut:

  • Antibiotik. Pemberian antibiotik, seperti penisilin atau eritromisin dapat membantu membunuh bakteri dan membersihkan infeksi. Antibiotik juga dapat mencegah penularan dari pengidap difteri ke orang lain.
  • Antitoksin. Dokter juga akan memberikan obat untuk menetralkan racun difteri dalam tubuh (antitoksin). Obat ini diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah atau otot. Sebelum memberikan antitoksin, dokter perlu melakukan tes alergi kulit untuk memastikan  orang yang terinfeksi tidak memiliki alergi terhadap antitoksin. Jika seseorang memiliki alergi, kemungkinan besar dokter tidak akan memberikan antitoksin dan mencari pengobatan alternatif lain.

Anak-anak dan orang dewasa yang mengidap difteri sering kali perlu dirawat di rumah sakit dan disolasi di unit perawatan intensif. Ini karena, difteri dapat menyebar dengan mudah kepada siapa saja yang tidak divaksinasi penyakit tersebut. 

Komplikasi Difteri

Sebagian besar kasus difteri menimbulkan gejala yang signifikan dan perlu diobati untuk mencegah komplikasi yang mengancam nyawa. Jika tidak diobati difteri dapat menyebabkan:

  • Masalah pernapasan. Bakteri penyebab difteri dapat menghasilkan toksin atau racun. Racun ini mampu merusak jaringan di area infeksi, biasanya di hidung dan tenggorokan. Di area tersebut infeksi menghasilkan lapisan abu-abu yang terdiri dari sel-sel mati, bakteri, dan zat lainnya. Jika dibiarkan, selaput ini dapat menghambat pernapasan.
  • Kerusakan jantung. Racun yang dihasilkan oleh bakteri pun berisiko menyebar melalui aliran darah dan merusak jaringan lain di dalam tubuh. Misalnya dapat merusak otot jantung sehingga menimbulkan komplikasi seperti radang otot jantung (miokarditis). Kerusakan jantung akibat miokarditis dapat berkisar ringan atau berat. Dalam kasus yang paling parah, miokarditis dapat menyebabkan gagal jantung dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf. Racun juga dapat menyebabkan kerusakan saraf pada tenggorokan. Saraf yang mengalami masalah ini bisa menyebabkan kesulitan menelan. Racun juga bisa memengaruhi saraf bagian lengan dan kaki dan menyebabkan kelemahan otot. Ketika racun merusak saraf yang mengontrol otot pernapasan, otot-otot ini dapat menjadi lumpuh dan pengidapnya berisiko mengalami gagal napas. 

Dengan pengobatan pengidap difteri berpeluang selamat dari komplikasi ini, meskipun pemulihannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Sekitar 5-10 persen kasus difteri berakibat fatal dan tingkat kematiannya lebih tinggi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun atau lansia.

Pencegahan Difteri

Satu-satunya pencegahan difteri yang paling efektif adalah mendapatkan vaksinasi difteri. Di Indonesia, vaksin difteri adalah salah satu vaksinasi yang wajib diberikan untuk balita. Vaksinasi difteri umumnya dikombinasikan dengan vaksin tetanus dan batuk rejan (pertusis). Nah, vaksin ini lebih dikenal sebagai imunisasi DPT (Difteri, Tetanus, Pertusis). 

Imunisasi DPT diberikan sebanyak lima kali saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4–6 tahun. Setelah ini, anak-anak perlu mendapatkan booster yang diberikan lewat imunisasi Td atau Tdap untuk anak usia di atas 7 tahun dan harus diulang setiap 10 tahun sekali, termasuk untuk orang dewasa. Selain mendapatkan vaksin, kebersihan lingkungan pun perlu diperhatikan, terutama pada pemukiman padat penduduk dan sanitasi yang kurang bersih. 

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila mengalami gejala difteri, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter guna mendapat diagnosis yang tepat. Agar lebih mudah dan praktis, buat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Segera periksakan diri sebelum kondisinya semakin buruk dan menular ke orang lain, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
WHO. Diakses pada 2022. Diphtheria.
Medical News Today. Diakses pada 2022. Diphtheria: Causes, symptoms, and treatment .
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Diphtheria.
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Diphtheria.
Diperbarui pada 14 Maret 2022