
DAFTAR ISI
Apa Itu Dihydrostreptomycin?
Dihydrostreptomycin adalah obat golongan antibiotik aminoglikosida yang merupakan turunan langsung dari streptomycin. Obat ini bekerja dengan cara menghambat sintesis protein pada bakteri, sehingga mencegah perkembangbiakan dan membunuh bakteri penyebab infeksi. Pada masa lalu, obat ini secara luas digunakan untuk menangani berbagai infeksi bakteri gram negatif yang berat, khususnya tuberkulosis (TBC).
Meskipun memiliki efektivitas yang tinggi dalam membunuh bakteri, penggunaan dihydrostreptomycin pada manusia saat ini sudah sangat dibatasi atau bahkan dihentikan di banyak negara. Hal ini dikarenakan tingginya risiko efek samping berupa ototoksisitas, yaitu kerusakan pada saraf pendengaran yang dapat menyebabkan tuli permanen. Namun, dalam dunia kedokteran hewan, varian obat ini masih terkadang digunakan dengan pengawasan ketat.
Jika kamu sedang menjalani perawatan medis untuk infeksi bakteri berat dan membutuhkan obat-obatan, vitamin, atau produk kesehatan lainnya sesuai resep dokter, pastikan untuk mendapatkan produk yang terjamin keasliannya. Kamu bisa beli obat online di Halodoc, di mana produk dijamin 100% asli, aman, dan akan diantar langsung ke rumahmu.
Penyebab Penggunaan Dihydrostreptomycin
Dalam konteks medis, “penyebab” merujuk pada kondisi yang mendasari mengapa antibiotik ini diresepkan. Obat ini umumnya diindikasikan untuk kondisi infeksi bakteri spesifik, antara lain:
- Infeksi Mycobacterium tuberculosis: Penyebab utama penyakit tuberkulosis yang tidak merespons pengobatan lini pertama.
- Infeksi Bakteri Gram Negatif: Termasuk infeksi parah seperti tularemia, pes (plague), dan brucellosis.
- Endokarditis Bakterial: Infeksi pada lapisan dalam jantung yang sering kali memerlukan kombinasi antibiotik aminoglikosida dan penisilin.
Faktor Risiko Efek Samping
Tidak semua pasien yang menerima obat turunan aminoglikosida akan mengalami komplikasi, namun beberapa faktor risiko dapat meningkatkan peluang terjadinya efek samping fatal:
- Gangguan Fungsi Ginjal: Ginjal yang tidak sehat memperlambat pembuangan obat, menyebabkan penumpukan racun dalam darah.
- Usia Lanjut: Pasien lanjut usia memiliki penurunan fungsi organ alami yang membuat mereka rentan terhadap ototoksisitas (kerusakan pendengaran).
- Dehidrasi Berat: Kurangnya cairan tubuh dapat meningkatkan konsentrasi obat dalam darah hingga mencapai tingkat beracun.
- Penggunaan Obat Ototoksik Lain: Mengonsumsi obat ini bersamaan dengan diuretik loop (seperti furosemide) sangat meningkatkan risiko ketulian.
Jenis dan Sediaan
Pada praktiknya, dihydrostreptomycin tidak tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul oral karena penyerapannya di saluran cerna sangat buruk. Jenis dan sediaannya meliputi:
- Injeksi Intramuskular (IM): Bentuk cairan yang disuntikkan langsung ke dalam otot (biasanya otot bokong atau paha) oleh tenaga medis profesional.
- Injeksi Intravena (IV): Diberikan melalui infus secara perlahan di rumah sakit untuk infeksi sistemik yang mengancam nyawa.
- Sediaan Kombinasi (Veteriner): Sering dikombinasikan dengan penisilin untuk pengobatan hewan ternak.
Gejala Penyakit yang Membutuhkan Pengobatan Ini
Penggunaan antibiotik kuat ini diindikasikan saat pasien menunjukkan gejala infeksi berat yang tidak kunjung membaik, seperti:
- Batuk kronis berdahak, kadang disertai darah, yang berlangsung lebih dari 3 minggu (gejala khas TBC).
- Demam tinggi yang menetap, menggigil, dan keringat berlebih di malam hari.
- Penurunan berat badan yang drastis tanpa sebab yang jelas.
- Sesak napas parah atau nyeri dada akibat peradangan paru-paru.
Tips Menghindari Resistensi Antibiotik
- Selalu gunakan antibiotik sesuai dosis dan durasi yang diresepkan dokter.
- Jangan menghentikan pengobatan lebih awal meskipun gejala sudah menghilang.
- Jangan pernah berbagi antibiotik dengan orang lain atau menggunakan sisa resep sebelumnya.
Diagnosis Sebelum Pemberian Obat
Mengingat potensi toksisitasnya, dokter tidak akan memberikan dihydrostreptomycin tanpa diagnosis yang pasti. Proses diagnosis meliputi:
- Kultur Sputum (Dahak): Untuk mengidentifikasi bakteri *Mycobacterium tuberculosis* atau bakteri gram negatif lainnya.
- Uji Sensitivitas (Antimicrobial Susceptibility Testing): Memastikan bakteri tersebut benar-benar rentan terhadap dihydrostreptomycin.
- Tes Fungsi Ginjal: Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk menyesuaikan dosis yang aman.
- Tes Audiometri dasar: Mengukur kemampuan pendengaran pasien sebelum memulai terapi untuk memantau potensi penurunan pendengaran selama masa pengobatan.
Pengobatan dan Dosis
Pengobatan dengan dihydrostreptomycin harus selalu dilakukan di bawah pengawasan ketat tenaga medis. Dosis ditentukan berdasarkan berat badan pasien, tingkat keparahan infeksi, dan fungsi ginjal. Obat ini biasanya diberikan melalui suntikan satu atau dua kali sehari. Dokter akan memantau kadar obat dalam darah (therapeutic drug monitoring) untuk memastikan kadarnya cukup untuk membunuh bakteri namun tidak melewati ambang batas beracun.
Komplikasi Penggunaan Obat
Alasan utama pembatasan penggunaan dihydrostreptomycin adalah komplikasinya yang serius, di antaranya:
- Ototoksisitas (Kerusakan Saraf Pendengaran): Komplikasi paling terkenal. Hal ini sering tidak terdeteksi sejak awal dan dapat menyebabkan tuli sensorineural yang ireversibel (tidak dapat disembuhkan).
- Nefrotoksisitas (Kerusakan Ginjal): Ditandai dengan penurunan produksi urine dan peningkatan kadar limbah dalam darah. Biasanya bersifat reversibel jika obat segera dihentikan.
- Blokade Neuromuskular: Dapat menyebabkan kelemahan otot yang parah hingga kelumpuhan pernapasan, terutama jika diberikan pada pasien myasthenia gravis.
Pencegahan Komplikasi
Pencegahan efek samping selama menjalani terapi aminoglikosida sangatlah krusial:
- Pemantauan Rutin: Melakukan tes darah dan tes pendengaran secara berkala selama masa pengobatan.
- Hidrasi Optimal: Pasien dianjurkan untuk minum air dalam jumlah yang cukup untuk membantu kerja ginjal dalam menyaring obat.
- Penyesuaian Dosis: Dokter akan menurunkan dosis segera jika ditemukan indikasi awal gangguan fungsi ginjal atau telinga berdenging (tinnitus).
Studi Terkait
Berdasarkan riset terbaru dalam *Journal of Antimicrobial Chemotherapy* (2026), meskipun dihydrostreptomycin memiliki risiko ototoksisitas yang tinggi, pengembangan analog aminoglikosida terbaru terus dilakukan. Studi tersebut berfokus pada modifikasi struktur molekul streptomycin dan dihydrostreptomycin untuk mempertahankan efikasi antibakteri terhadap tuberkulosis yang kebal obat (MDR-TB), sekaligus meminimalkan kemampuan obat tersebut untuk berikatan dengan sel rambut di telinga bagian dalam, sehingga menurunkan risiko ketulian secara signifikan.
Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.
Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
Keluhan kesehatan bisa datang kapan saja. Daripada bingung mencari informasi sendiri, konsultasikan langsung dengan dokter umum dan spesialis di Halodoc:
Tunggu apa lagi? Yuk hubungi dokter di Halodoc sekarang!
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu sedang menjalani pengobatan infeksi berat dan tiba-tiba mengalami telinga berdenging, penurunan pendengaran, atau berkurangnya frekuensi buang air kecil, segera hentikan pengobatan dan lakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Halodoc.
Referensi
-
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Guidelines on the Management of Drug-Resistant Tuberculosis.
-
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Aminoglycosides: Mechanisms, Efficacy, and Toxicity Profiles.
-
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Tuberkulosis.
-
PubMed. Diakses pada 2026. Ototoxicity in Aminoglycoside Therapy: A Review on Dihydrostreptomycin.
FAQ
- Apa bedanya streptomycin dan dihydrostreptomycin?
Keduanya adalah antibiotik aminoglikosida, namun dihydrostreptomycin memiliki struktur kimia yang sedikit dimodifikasi. Dihydrostreptomycin ditemukan memiliki efek samping berupa ketulian yang lebih parah dibandingkan streptomycin biasa. - Apakah obat ini masih diresepkan untuk manusia?
Di sebagian besar negara modern, penggunaannya pada manusia telah dihentikan karena tingginya risiko kerusakan saraf pendengaran yang ireversibel, kecuali dalam kasus yang sangat mendesak di mana tidak ada alternatif lain. - Apa tanda awal efek samping ototoksisitas?
Tanda awalnya meliputi telinga berdenging (tinnitus), rasa penuh di telinga, dan kesulitan mendengar percakapan bernada tinggi. Gejala ini harus segera dilaporkan ke dokter. - Bagaimana cara pemberian obat ini?
Karena tidak dapat diserap dengan baik oleh usus, obat ini hanya diberikan melalui suntikan intramuskular (ke dalam otot) atau intravena (melalui pembuluh darah) oleh tenaga medis.
