Disfagia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Disfagia

Disfagia merupakan kondisi yang membuat pengidapnya mengalami kesulitan menelan. Kondisi ini bisa membuat pengidapnya membutuhkan waktu lama dan usaha ekstra untuk nenelan.  

Dalam kebanyakan kasus, disfagia juga bisa membuat nafsu makan seseorang menurun, bahkan malas untuk mengonsumsi makanan. Alhasil, tubuhnya tak mendapatkan nutrisi yang cukup. Jangan sepelekan kondisi ini, sebab jika terjadi berkepanjangan, ia bisa mengindikasikan kondisi medis yang serius dan memerlukan perawatan lanjutan.

 

Faktor Risiko Disfagia

Setidaknya ada beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan peluang terjadinya disfagia. Di antaranya:

  • Orang lanjut usia akibat beberapa kondisi seperti stroke atau Parkinson.

  • Orang dengan gangguan sistem saraf tertentu.

  • Cedera otak, cedera saraf tulang belakang, serta penyakit stroke.

  • Gangguan sistem saraf, seperti post-polio syndrome, multiple sclerosis, muscular dystrophy, atau penyakit Parkinson.

  • Gangguan sistem imun seperti dermatomyositis yang menyebabkan pembengkakan dan peradangan.

Baca juga: Sulit Menelan Karena Disfagia, Ubah Kebiasaan Ini

 

Penyebab Disfagia

Sebagian besar kasus disfagia terjadi pada lansia dan bayi, atau mereka yang memiliki gangguan pada otak dan sistem saraf. Penyebab utama penyakit ini adalah kelainan pada otot dan saraf di daerah tenggorokan atau benda yang menyumbat di daerah kerongkongan. Selain itu, beberapa kondisi berikut juga bisa menyebabkan disfagia:

  • Kontraksi atau kejang pada otot kerongkongan yang terjadi secara tiba-tiba.

  • Luka-luka atau penyempitan pada kerongkongan akibat asam lambung.

  • Peradangan pada kerongkongan arena asam lambun atau infeksi (esofaginitis).

  • Scleroderma atau pengerasan dan penyempitan jaringan pada kerongkongan, serta kelemahan otot bawah kerongkongan.

  • Divertikula atau kantung-kantung kecil pada dinding kerongkongan atau tenggorokan.

  • Tumor kerongkongan baik jinak maupun ganas.

 

Gejala Disfagia

Beberapa gejala disfagia, antara lain:

  • Sulit menelan makanan dan minuman.

  • Nyeri saat menelan.

  • Makanan terasa tersangkut pada tenggorokan atau dada.

  • Tersedak atau batuk ketika makan dan minum.

  • Mengeluarkan air liur terus-menerus.

  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

  • Makanan yang sudah ditelan dimuntahkan kembali.

  • Rasa asam lambung yang naik ke tenggorokan.

  • Sering nyeri ulu hati.

  • Suara menjadi serak.

  • Sulit bernapas pada saat sedang makan.

 

Diagnosis Disfagia

Dokter akan mendiagnosis penyebab disfagia dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang dapat menunjang diagnosis penyakit ini di antaranya adalah:

  • X-ray, untuk melihat ada tidaknya perubahan pada bentuk kerongkongan.

  • Dynamic swallowing study untuk mengetahui baik atau tidaknya koordinasi mulut dan otot tenggorokan saat pengidapnya menelan makanan.

  • Endoskopi untuk memeriksan lebih jauh kondisi kerongkongan.

  • Manometry atau tes otot kerongkongan.

  • CT scan untuk mengetahui penyebab disfagia.

Baca juga: Sulit Menelan Bikin Susah Makan, Coba Atasi dengan Terapi Ini

 

Komplikasi Disfagia

Disfagia yang tak ditangani dengan tepat bisa menimbulkan berbagai masalah lainnya. Berikut beberapa komplikasi yang bisa muncul akibat disfagia.

  • Malnutrisi dan dehidrasi.

  • Turunnya berat badan.

  • Gangguan pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan atas dan pneumonia akibat makanan atau minuman yang masuk ke dalam saluran pernapasan saat menelan.

 

Pengobatan Disfagia

Beberapa upaya untuk mengatasi disfagia, antara lain:

  • Mengganti makanan yang dikonsumsi.

  • Melebarkan area kerongkongan dengan alat khusus (dilasi).

  • Operasi jika terdapat sumbatan pada kerongkongan, seperti tumor atau divertikula.

  • Bila disfagia disebakan oleh asam lambung, dokter akan memberikan obat-obatan untuk mencegah naiknya asam lambung.

  • Obat-obatan antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri pada kerongkongan.

 

Pencegahan Disfagia

Setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya disfagia, seperti:

  • Mengubah pola makan dalam porsi kecil tetapi sering.

  • Memotong makanan menjadi kecil-kecil dan makan dengan perlahan.

  • Mencoba makanan dengan berbagai tekstur untuk melihat makanan yang menyebabkan disfagia.

  • Menghindari alkohol, rokok, dan kafein yang dapat memperparah heartburn.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter untuk mendapatkan saran terbaik jika mengalami gejala kesulitan menelan. Apalagi jika disertai dengan gejala-gejala di atas.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Health A-Z. Dysphagia (Swallowing Problems).  
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Dysphagia.  

Diperbarui pada 3 September 2019