Disleksia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Disleksia

Disleksia adalah suatu gangguan belajar pada anak-anak, yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, mengeja, atau berbicara dengan jelas. Gangguan belajar ini masuk ke dalam gangguan saraf pada bagian batang otak. Bagian otak inilah yang memproses bahasa.

Disleksia tak cuma bisa dialami oleh anak-anak saja, tapi orang dewasa juga bisa mengalami gangguan ini. Meski pengidapnya bisa mengalami kesulitan dalam bejalar, disleksia tidak memengaruhi tingkat kecerdasan seseorang.

 

Faktor Risiko Disleksia

Beberapa faktor risiko disleksia, antara lain:

  • Memiliki anggota keluarga dengan penyakit gangguan belajar.

  • Bayi lahir prematur atau bayi lahir dengan berat badan rendah.

  • Bayi yang lahir dari ibu pengguna obat-obatan, alkohol, perokok, atau pernah mengalami infeksi yang mempengaruhi perkembangan otak janin.

  • Memiliki kelainan pada struktur otak yang berperan dalam proses berpikir dan mengolah kata.

 

Penyebab Disleksia

Beberapa penyebab disleksia, antara lain:

  • Kelainan genetik.

  • Cedera otak, misalnya saat anak dilahirkan.

  • Cedera yang parah atau trauma pada otak

  • Penyakit lainnya, seperti stroke.

Baca juga: 7 Cara Membantu Proses Penyembuhan Disleksia pada Anak

 

Gejala Disleksia

Gejala disleksia bisa berbeda pada satu pengidap dengan pengidap lainnya. Gejala ini memang bisa timbul di usia berapapun, tapi umumnya muncul di usia anak-anak. Berikut beberapa gejala disleksia yang mungkin dialami pengidapnya.

  • Kesulitan belajar membaca, walaupun tingkat kecerdasannya normal. Anak disleksia terlihat lebih lamban dan berusaha keras dalam membaca, mempelajari huruf, mengucapkan atau menerka huruf atau angka, serta memposisikan mainan huruf.

  • Kesulitan dan memiliki kemampuan berbicara yang sangat lambat, sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk belajar berbicara. Pengidapnya sering salah saat menguncapkan kata atau membedakan bunyi kata yang berbeda.  

  • Perkembangan lebih lambat dibandingkan anak seusianya. Contohnya, membutuhkan waktu bejalar merangkak, berjalan, atau berbicara yang lebih lama ketimbang anak seusianya.

  • Kesulitan mengkoordinasikan gerak tubuh, sehingga sering terlihat lebih lemah dibandingkan anak lain seusianya. Contohnya, sulit mengkoordinasikan mata dengan gerakan tangan. Kondisi ini bisa diamati ketika mereka menangkap bola.

  • Sulit berkonsentrasi dan cenderung mudah sakit. Mereka juga cenderung lebih mudah terserang alergi, demam, eksim, atau asma.

 

Diagnosis Disleksia

Pada tahap awal, dokter akan melakukan wawancara medis untuk mendiagnosis disleksia. Wawancara ini seputar gejala, tes kemampuan bicara, riwayat penyakit dalam keluarga, hingga tes pengenalan huruf atau angka. Tak cuma itu, doket juga akan melakukan tes pemahanan makna dan isi bacaan. Dalam beberapa kasus, tes psikologi juga mungkin dilakukan. Tes ini bertujuan untuk memahami kondisi kejiwaan anak.

 

Komplikasi Disleksia

Dislakesia yang dibiarkan tanpa penanganan yang efektif, bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Contohnya:

  • Masalah belajar dan memahami materi pelajaran di sekolah yang berakibat pada jenjang pendidikan.

  • Masalah sosial akibat rasa rendah diri, masalah perilaku, kecemasan, agresi, dan penarikan dari teman, orangtua, dan guru.

  • Masalah sebagai orang dewasa akibat ketidakmampuan untuk membaca dan memahami sesuatu.

  • Masalah ekonomi di kemudian hari akibat jenjang pendidikan yang dicapai tidak memadai.

  • Mengalami Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), sehingga sulit mempertahankan perhatian, hiperaktif, serta berperilaku impulsif.

Baca juga: Anak Kesulitan Menghitung, Mungkin Saja Disleksia Matematika

 

Pengobatan Disleksia

Pada dasarnya, disleksia tidak dapat disembuhkan. Terapi yang dapat dilakukan bertujuan untuk melatih anak agar dapat berlaku normal di masyarakat. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain:

  • Membacakan buku untuk anak-anak.

  • Mengupayakan kerjasama yang baik dengan pihak sekolah anak.

  • Memperbanyak waktu membaca di rumah.

  • Membuat suasana membaca menjadi menyenangkan.

  • Memotivasi anak untuk senang membaca buku.

  • Mendiskusikan isi buku bersama-sama dengan anak.

  • Menghindari celaan jika anak melakukan kesalahan saat membaca agar anak dapat memiliki kepercayaan diri.

 

Pencegahan Disleksia

Sayangnya, hingga saat ini belum ada cara yang terbilang ampuh untuk mencegah terjadinya disleksia, khususnya disleksia yang disebabkan oleh kelainan genetik yang diturunkan dari anggota keluarga.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Disleksia biasanya tidak disadari pada saat masih kecil dan berlanjut hingga dewasa. Hubungi dokter bila anak memiliki kemampuan membaca yang lebih rendah dari anak-anak lain, atau jika anak memiliki tanda-tanda atau gejala yang disebutkan di atas.

Referensi:
Kids Health. Diakses pada 2019. For Kids. Dyslexia.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases & Conditions. Dyslexia.

Diperbarui pada 4 September 2019