Dispareunia

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Dispareunia

Dispareunia adalah keluhan yang timbul ketika seseorang melakukan hubungan intim. Keluhan ini berupa rasa nyeri yang timbul secara terus-menerus, atau sewaktu-waktu di daerah kemaluan. Rasa nyeri ini bisa terjadi saat sebelum, selama, atau sesudah berhubungan intim. Dispareunia atau painful intercourse bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan

 

Faktor Risiko Dispareunia

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya dispareunia, antara lain:

  • Tidak menjaga kebersihan organ intim, sehingga memicu infeksi.

  • Masalah psikologis seperti depresi, stres, serta trauma karena pernah mengalami pelecehan seksual atau kekerasan seksual.

  • Penyakit atau kondisi tertentu seperti endometriosis.

  • Operasi atau tindakan medis tertentu, seperti operasi radang panggul atau perawatan medis untuk kanker seperti radiasi dan kemoterapi.

Baca juga: Berhubungan Intim Terasa Sakit, Mungkin Ini 4 Penyebabnya

 

Penyebab Dispareunia

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dispareunia ini bisa dialami oleh pria dan wanita. Namun, kebanyakan kasus dispareunia ini lebih banyak dialami oleh wanita. Berikut beberapa penyebabnya:

Pada pria:

  • Peradangan pada organ reproduksi pria, seperti radang penis, radang skrotum, atau prostatitis (peradangan kelenjar prostat).

  • Penggunaan obat antidepresan tertentu dapat menimbulkan nyeri pada pria ketika orgasme.

Pada wanita:

  • Anatomi wanita, seperti kondisi selaput dara tertutup, radang vulva, episiotomi, dan perlekatan klitoris.

  • Infeksi, seperti infeksi jamur maupun bakteri.

  • Obat antihistamin yang digunakan dalam jangka waktu yang lama.

  • Obat-obatan antibiotik yang digunakan dalam waktu lama, yang dapat meningkatkan risiko infeksi jamur.

  • Kondisi kejiwaan atau psikis seseorang, seperti trauma seksual pada masa lalu, perasaan cemas, masalah pernikahan, rasa bersalah, atau konflik dengan keluarga.

 

Gejala Dispareunia

Ketika seseorang mengalami dispareunia, maka gejala yang timbul bisa beragam. Berikut gejala-gejala yang mungkin dialami oleh pengidapnya. Beberapa gejala yang ditimbulkan oleh dispareunia, antara lain:

  • Rasa panas atau nyeri pada kemaluan.

  • Timbulnya rasa nyeri ketika penetrasi dimulai

  • Rasa nyeri yang timbul setiap terjadi penetrasi, bahkan ketika memasukkan tampon ke dalam vagina.

  • Rasa nyeri di dalam yang timbul ketika melakukan gerakan mendorong saat berhubungan seksual.

  • Rasa nyeri seperti berdenyut yang bertahan hingga berjam-jam setelah berhubungan seksual.

Baca juga: Berhubungan Intim Tanpa Foreplay Bisa Sebabkan Dispareunia

 

Diagnosis Dispareunia

Dokter mendiagnosis dispareunia dengan melakukan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Selain itu, dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan penunjang seperti USG panggul, tes urine, tes alergi, atau tes kultur cairan vagina. 

 

Komplikasi Dispareunia

Dispareunia yang tak dibiarkan berlarut-larut bisa menyebabkan perubahan fungsi seksual, misalnya keinginan, gairah, orgasme, dan kepuasan seksual.

 

Pengobatan Dispareunia

Pengobatan dispareunia adalah dengan mengatasi penyebabnya. Beberapa terapi yang dapat diberikan dokter, antara lain:

  • Infeksi jamur dapat diatasi dengan pemberian obat anti jamur.

  • Pemberian obat anestesi lokal.

  • Kontrasepsi oral untuk mengatasi vagina yang kering

  • Terapi penetration desensitization, untuk merelaksasi otot organ bagian bawah.

 

Pencegahan Dispareunia

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah dispareuni. Contohnya, menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim bila dispareunia disebabkan oleh faktor fisik. Sementara ini, ada pula cara mencegah dispareunia yang disebabkan oleh faktor psikis. Misalnya:

  • Menciptakan suasana hubungan intim yang mendukung.

  • Membina komunikasi timbal-balik yang baik antara pasangan.

  • Konseling dan terapi kesehatan seksual, untuk mengidentifikasi faktor risiko.

  • Menggunakan pelumas, untuk mengatasi vagina yang kering akibat kondisi atrophic vaginitis.

  • Menyeka area kemaluan dari depan ke belakang setelah buang air dan berkemih setelah selesai berhubungan intim, untuk mencegah infeksi.

  • Menghindari seks bebas dengan berganti-ganti pasangan seksual.

  • Menggunakan kondom setiap berhubungan seksual jika riwayat kesehatan pasangan meragukan atau tidak diketahui.

  • Menggunakan pakaian berbahan katun dan tidak terlalu ketat.

  • Menjaga kebersihan dengan sering mengganti pakaian ketika berkeringat atau berenang, serta mandi secara rutin.

  • Menghindari penetrasi dalam atau dengan melakukan hubungan seks dua minggu sebelum menstruasi untuk mengurangi rasa nyeri, bagi pengidap endometriosis.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila mersakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. What Causes Pain with Intercourse?
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Diseases and Conditions. Painful Intercourse (Dyspareunia).

Diperbarui pada 27 November 2019