• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Dispareunia

Dispareunia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Dispareunia

Pengertian Dispareunia

Dispareunia adalah keluhan yang timbul ketika seseorang melakukan hubungan intim. Keluhan ini berupa rasa nyeri yang timbul secara terus-menerus, atau sewaktu-waktu di daerah kemaluan. Rasa nyeri ini bisa terjadi saat sebelum, selama, atau sesudah berhubungan intim. Dispareunia atau painful intercourse bisa terjadi baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Kendati demikian dispareunia lebih sering terjadi pada wanita ketimbang pria.

Pada wanita, dispareunia dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan lokasi nyeri yang timbul, yaitu: 

  • Nyeri masuk (dispareunia intraorbital atau superfisial): Nyeri ini dirasakan di pintu masuk vagina selama penetrasi awal. Beberapa faktor yang terkait dengan nyeri masuk dapat berupa kurangnya pelumasan, cedera, atau infeksi.
  • Nyeri dalam atau (collision dyspareunia): Ini adalah nyeri yang terjadi pada penetrasi yang dalam dan dapat terasa lebih buruk pada posisi seksual tertentu. Pengidap dispareunia akan merasakan nyeri ini di leher rahim atau perut bagian bawah. Kondisi medis atau operasi sebelumnya biasanya menyebabkan nyeri seksual yang terjadi lebih dalam.

Penyebab Dispareunia

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, dispareunia ini bisa dialami oleh pria dan wanita. Namun, kebanyakan kasus dispareunia ini lebih banyak dialami oleh wanita. Pada wanita, seseorang dapat mengalami rasa sakit saat berhubungan seks jika tidak ada pelumasan vagina yang cukup. Dalam kasus ini, rasa sakit dapat diatasi jika seorang wanita menjadi lebih rileks, meningkatkan foreplay, atau menggunakan pelumas seksual. 

Kendati demikian, terdapat beberapa kondisi kesehatan serius yang dapat menjadi penyebab akan dispareunia, antara lain: 

  • Atrofi vagina: lapisan vagina dapat kehilangan kelembapan dan ketebalan normalnya dan menjadi kering, tipis, dan meradang. Hal ini dapat disebabkan oleh obat-obatan, menopause, atau perubahan hormonal lainnya.
  • Infeksi vagina: kondisi ini umum terjadi dan termasuk infeksi jamur.
  • Masalah dengan serviks (pembukaan ke rahim): penis dapat mencapai serviks pada penetrasi maksimum. Oleh karena itu, masalah pada serviks (seperti infeksi) dapat menyebabkan rasa sakit saat penetrasi dalam.
  • Masalah dengan rahim: ini mungkin termasuk fibroid yang dapat menyebabkan rasa sakit saat berhubungan intim.
  • Masalah dengan ovarium: masalah tersebut mungkin termasuk kista ovarium.
  • Penyakit radang panggul: jaringan jauh di dalam menjadi meradang parah, dan tekanan hubungan seksual menyebabkan rasa sakit yang dalam.
  • Kehamilan ektopik: kehamilan di mana sel telur yang telah dibuahi berkembang di luar rahim.
  • Hubungan intim terlalu cepat setelah operasi atau melahirkan.
  • Infeksi menular seksual (IMS): ini mungkin termasuk kutil kelamin, luka herpes atau IMS lainnya.
  • Vulvodynia: Menyebabkan nyeri kronis di daerah vulva.
  • Cedera pada vulva atau vagina: cedera ini mungkin termasuk robekan saat melahirkan atau dari luka (episiotomi) di perineum (area kulit antara vagina dan anus) yang dibuat selama persalinan.
  • Gangguan kulit yang mempengaruhi alat kelamin.

Sementara pada pria, dispareunia juga dapat disebabkan oleh beberapa gangguan penis, seperti: 

  • Kerusakan kulup: kerusakan pada kulup (kulit yang menutupi kepala penis) yang disebabkan oleh gesekan atau robekan dapat menyebabkan rasa sakit.
  • Infeksi menular seksual (IMS): infeksi jamur atau infeksi di bawah kulup, serta IMS umum seperti herpes genital atau gonore, dapat membuat seks menjadi menyakitkan.
  • Kelainan bentuk penis: penyakit Peyronie atau kelainan bentuk penis lainnya dapat menyebabkan hubungan seksual yang menyakitkan.
  • Ereksi yang menyakitkan: suatu kondisi seperti priapisme dapat menyebabkan ereksi yang persisten dan menyakitkan.

Faktor Risiko Dispareunia

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko terjadinya dispareunia, antara lain:

  • Tidak menjaga kebersihan organ intim sehingga memicu infeksi.
  • Masalah psikologis seperti depresi, stres, serta trauma karena pernah mengalami pelecehan seksual atau kekerasan seksual.
  • Vaginismus: gangguan pada otot di sekitar vagina yang mengencang dengan sendirinya saat penetrasi seksual. 
  • Penyakit atau kondisi tertentu seperti endometriosis.
  • Operasi atau tindakan medis tertentu, seperti operasi radang panggul atau perawatan medis untuk kanker seperti radiasi dan kemoterapi.

Gejala Dispareunia

Ketika seseorang mengalami dispareunia, maka gejala yang timbul bisa beragam. Berikut gejala-gejala yang mungkin dialami oleh pengidapnya:

  • Rasa panas atau nyeri pada kemaluan.
  • Timbulnya rasa nyeri ketika penetrasi dimulai.
  • Rasa nyeri yang timbul setiap terjadi penetrasi, bahkan ketika memasukkan tampon ke dalam vagina.
  • Rasa nyeri di dalam yang timbul ketika melakukan gerakan mendorong saat berhubungan seksual.
  • Rasa nyeri seperti berdenyut yang bertahan hingga berjam-jam setelah berhubungan seksual. 

Diagnosis Dispareunia

Biasanya diagnosis dispareunia dapat dilakukan dengan beberapa jenis pemeriksaan, seperti: 

  • Wawancara riwayat medis secara menyeluruh. Dokter akan bertanya kapan, di mana, dan bagaimana rasa sakit dispareunia dimulai. Selain itu, dokter juga mungkin akan menanyakan tentang riwayat seksual, riwayat operasi, dan riwayat persalinan. 
  • Pemeriksaan fisik (panggul). Selama pemeriksaan panggul, dokter dapat memeriksa tanda-tanda iritasi kulit, infeksi, atau masalah anatomi. Di samping itu, dokter juga mungkin akan juga mencoba menemukan rasa sakit dengan memberikan tekanan lembut pada alat kelamin dan otot panggul pengidap dispareunia.
  • Pemeriksaan visual vagina. Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan alat yang disebut spekulum untuk memisahkan dinding vagina. 
  • Tes pendukung lainnya. Jika dokter mencurigai penyebab tertentu dari hubungan seksual yang menyakitkan, maka tes pendukung lainnya juga akan dilakukan. Misalnya seperti tes urine, tes alergi, atau tes kultur cairan vagina.

Komplikasi Dispareunia

Secara umum dispareunia yang dibiarkan tanpa penanganan bisa menyebabkan perubahan fungsi seksual. Misalnya keinginan, gairah, orgasme, dan kepuasan seksual. Pada kasus yang sudah semakin parah, dispareunia juga dapat menyebabkan luka pada area vagina hingga keputihan. 

Pengobatan Dispareunia

Pengobatan dispareunia akan bervariasi, tergantung dari penyebabnya. Maka dari itu, diagnosis untuk memastikan apa penyebab dari dispareunia sangatlah penting. Berikut adalah beberapa pengobatan yang dapat direkomendasikan oleh dokter untuk mengatasinya, antara lain: 

  1. Penggunaan Obat-Obatan

Penggunaan obat-obatan untuk mengatasi dispareunia akan tergantung dari penyebabnya. Contohnya seperti antibiotik jika penyebab dispareunia adalah infeksi bakteri, atau penggunaan obat antijamur jika dispareunia disebabkan oleh infeksi jamur. Selain itu, dokter juga mungkin akan meresepkan krim estrogen vagina jika penyebab kondisi ini disebabkan oleh rendahnya kadar estrogen. 

  1. Terapi 

Beberapa jenis terapi non-obat juga dapat membantu mengatasi dispareunia. Berikut adalah beberapa jenis terapi tersebut, antara lain: 

  • Terapi desensitisasi. Mempelajari latihan relaksasi vagina yang dapat mengurangi rasa sakit.
  • Konseling atau terapi seks. Bertujuan untuk untuk mengatasi emosi negatif yang memicu munculnya dispareunia. Selain itu, terapi seks juga bertujuan untuk kembali membangun keintiman, dan memperbaiki komunikasi antara pasien dengan pasangannya. 
  • Terapi perilaku kognitif. Bertujuan untuk mengubah pola perilaku dan pemikiran negatif yang dapat memicu dispareunia
  1. Perawatan Rumahan 

Pengidap dispareunia juga dapat melakukan beberapa perawatan rumahan untuk meredakan rasa sakit yang muncul ketika berhubungan intim. Berikut adalah penjabaran dari beberapa perawatan rumahan tersebut, antara lain: 

  • Menggunakan pelumas berbahan dasar air atau silikon untuk membantu mengatasi kekeringan pada vagina.
  • Mencoba aktivitas atau posisi seksual yang tidak menimbulkan rasa sakit.
  • Minum obat pereda nyeri yang dijual bebas sebelum berhubungan seks.
  • Temukan waktu untuk bersantai dan menghilangkan stres sebelum berhubungan seks.
  • Mengoleskan kompres es ke vulva setelah melakukan hubungan seksual.

Pencegahan Dispareunia

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah dispareunia. Contohnya, menjaga kebersihan dan kesehatan organ intim bila dispareunia disebabkan oleh faktor fisik. Sementara ini, ada pula cara mencegah dispareunia yang disebabkan oleh faktor psikis. Misalnya:

  • Menciptakan suasana hubungan intim yang mendukung.
  • Membina komunikasi timbal-balik yang baik antara pasangan.
  • Konseling dan terapi kesehatan seksual, untuk mengidentifikasi faktor risiko.
  • Menggunakan pelumas, untuk mengatasi vagina yang kering akibat kondisi atrophic vaginitis.
  • Menyeka area kemaluan dari depan ke belakang setelah buang air dan berkemih setelah selesai berhubungan intim, untuk mencegah infeksi.
  • Menghindari seks bebas dengan berganti-ganti pasangan seksual.
  • Menggunakan kondom setiap berhubungan seksual jika riwayat kesehatan pasangan meragukan atau tidak diketahui.
  • Menggunakan pakaian berbahan katun dan tidak terlalu ketat.
  • Menjaga kebersihan dengan sering mengganti pakaian ketika berkeringat atau berenang, serta mandi secara rutin.
  • Menghindari penetrasi dalam atau dengan melakukan hubungan seks dua minggu sebelum menstruasi untuk mengurangi rasa nyeri, khususnya bagi pengidap endometriosis.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika kamu kerap merasakan nyeri ketika berhubungan intim atau sejumlah gejala dari dispareunia. Tujuannya agar diagnosis dan penanganan dapat segera dilakukan sedari dini. Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa tanya dokter spesialis sesuai pilihanmu. Lewat fitur chat/video call secara langsung pada aplikasinya. Jadi tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi:

Healthline. Diakses pada 2022. What Causes Pain with Intercourse?
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Diseases and Conditions. Painful Intercourse (Dyspareunia). 
Medical News Today. Diakses pada 2022. What causes dyspareunia, or painful intercourse?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Dyspareunia (Painful Intercourse). 

Diperbarui pada 16 Maret 2022.