• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Eklampsia

Eklampsia

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Eklampsia

Eklampsia adalah kondisi medis serius yang dapat memengaruhi wanita selama kehamilan. Kondisi ini merupakan lanjutan atau komplikasi dari preeklamsia, yaitu kondisi langka yang serius di mana tekanan darah tinggi dapat menyebabkan kejang selama kehamilan.

Ibu hamil dengan pre-eklampsia atau mengalami hipertensi berat selama kehamilan berisiko mengalami eklampsia yang ditandai dengan kejang dan kemudian diikuti penurunan kesadaran atau koma. Eklampsia jarang terjadi, tetapi apabila muncul harus segera ditangani. Sebab, kondisi tersebut berpotensi mengancam keselamatan nyawa ibu dan janin dalam kandungan.

Penyebab Eklampsia

Hingga saat ini, penyebab pasti dari eklampsia belum diketahui. Namun, kondisi eklampsia diduga berkaitan dengan beberapa hal, seperti:

  • Kelainan pada plasenta dan fungsinya.
  • Tidak kuatnya aliran darah pada plasenta.
  • Rusaknya pembuluh darah plasenta.
  • Faktor genetik.

Gejala Eklampsia

Gejala eklampsia dapat muncul kapan saja selama kehamilan. Namun, munculnya eklamsia pada ibu hamil selalu didahului dengan preeklamsia. Berikut adalah gejala preeklamsia yang paling umum, meliputi:

  • Sakit kepala parah.
  • Penambahan berat badan yang berlebihan selama kehamilan, lebih dari 1 kg per minggu.
  • Masalah penglihatan, seperti kehilangan penglihatan, penglihatan kabur, hingga penglihatan ganda. 
  • Mual, muntah, atau sakit perut
  • Pembengkakan tangan, kaki, dan wajah.

Jika preeklamsia sudah berkembang menjadi eklampsia, gejalanya dapat meliputi:

  • Kejang, awalnya kedutan atau kejang pada otot-otot wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. 
  • Penurunan kesadaran atau koma muncul setelah terjadi kejang seluruh tubuh.

Perlu diketahui bahwa beberapa gejala preeklamsia atau eklamsia yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh kondisi kesehatan lainnya, seperti penyakit ginjal atau diabetes. Maka dari itu, penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika mengalami salah satu atau sejumlah gejala tersebut. Hal ini bertujuan agar gejala yang dirasakan dapat benar-benar diketahui penyebabnya. 

Faktor Risiko Eklampsia

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan komplikasi dari preeklampsia, sehingga memicu terjadinya eklampsia. Berikut adalah penjabaran dari faktor risiko tersebut, antara lain: 

  • Hamil pada usia tua (diatas 35 tahun) atau usia remaja (dibawah 20 tahun).
  • Memiliki riwayat eklampsia pada kehamilan sebelumnya.
  • Memiliki riwayat hipertensi sebelum kehamilan.
  • Riwayat diabetes gestasional, yakni diabetes yang terjadi dalam masa kehamilan.
  • Kehamilan kembar.
  • Riwayat keluarga mengalami pre-eklampsia atau eklampsia.
  • Obesitas.
  • Memiliki riwayat penyakit lupus, arthritis rheumatoid, dan penyakit ginjal.
  • Ibu hamil yang mengidap penyakit autoimun. 
  • Pernah menjalani fertilisasi in vitro atau bayi tabung.

Diagnosis Eklampsia

Pada wanita hamil dengan kejang, dokter akan menentukan apakah kejang akibat komplikasi dari preeklampsia atau sebab lainnya. Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis:

  • Pemeriksaan Laboratorium Darah. Analisis darah lengkap dapat membantu dokter dalam mendeteksi adanya komplikasi dari preeklampsia dan eklampsia, yaitu sindrom HELLP dengan tanda hemoglobin turun, enzim-enzim hati meningkat, dan trombositopenia. Pemeriksaan lainnya dengan pemeriksaan studi koagulasi meliputi waktu protrombin (PT), waktu aktivasi protrombin parsial (aPTT), fibrinogen, dan D-Dimer untuk mendeteksi disseminated intravascular coagulation (DIC) yang merupakan komplikasi lain dari preeklampsia dan eklampsia. 
  • Pemeriksaan Urine. Proteinuria, protein yang terdeteksi dalam urine merupakan tanda paling umum pada eklampsia dan sangat membantu mendiagnosis pre-eklampsia yang sebelumnya tidak terdeteksi.
  • Pemeriksaan Fungsi Ginjal. Fungsi ginjal dapat dideteksi dengan pemeriksaan serum kreatinin yang akan meningkat apabila terjadi kerusakan ginjal akibat pre-eklampsia dan eklampsia.
  • Pemeriksaan Ultrasonografi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kondisi plasenta dan kondisi janin, pengecekan denyut jantung janin, dan pertumbuhan janin. Pemeriksaan USG dapat segera dilakukan setelah kejang untuk menilai kondisi janin, adakah gawat janin akibat kejang.
  • Pemeriksaan Pencitraan Lain. Misalnya CT Scan dan MRI dapat dilakukan apabila curiga adanya komplikasi pada otak seperti pembengkakan jaringan otak (edema cerebri) dan perdarahan otak akibat kejang.

Pengobatan Eklampsia

Kejang pada eklampsia merupakan kondisi gawat darurat yang mengancam nyawa ibu dan bayi. Oleh karena itu, persalinan adalah pengobatan utama yang dapat dilakukan untuk mengobati eklampsia. 

Sementara itu, pertolongan pertama pada gejala eklampsia adalah memutus kejang menggunakan obat-obatan. Berikut adalah penjabaran mengenai obat-obatan yang digunakan sebagai pertolongan pertama pada eklampsia, yaitu:

  • Obat-obatan Antikonvulsan (anti kejang): Magnesium sulfat suntikan pelan dalam intravena. Magnesium sulfat dapat merelaksasi otot-otot yang kejang. Pemberian magnesium sulfat dilakukan dengan suntikan intravena pelan untuk memutus kejang, kemudian dilakukan terapi pemeliharaan dengan magnesium sulfat infus selama 24 jam walaupun sudah tidak kejang untuk menghindari kejang berulang.
  • Lorazepam atau Diazepam dapat diberikan apabila terdapat kontraindikasi dari magnesium sulfat
  • Phenitoin dapat diberikan jika mengalami kejang berulang walaupun sudah diberikan magnesium sulfat.
  • Obat-obatan anti hipertensi harus sesegera mungkin setelah magnesium sulfat diberikan jika tensi diatas 160/110 mmHg. Target tekanan darah adalah 140–160/90–110 mmHg. Obat-obatan hipertensi yang dapat digunakan adalah labetalol atau nifedipin.
  • Obat-obatan diuretik seperti furosemid dapat diberikan apabila terdapat cairan pada paru (edema pulmo)

Setelah kejang tertangani, maka langkah selanjutnya adalah melahirkan bayi. Proses melahirkan dapat melalui persalinan normal pervaginam atau operasi caesar, tergantung kondisi ibu dan usia kehamilan. Jika usia kehamilan sudah cukup bulan, kondisi ibu memungkinkan untuk melahirkan normal, dan tidak ada kondisi gawat janin maka persalinan normal melalui vagina akan diusahakan. 

Pasien juga bisa diberikan induksi persalinan dengan suntikan atau infus oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim apabila belum terdapat kontraksi yang cukup untuk melahirkan normal. Jika terdapat gawat janin dan kondisi ibu tidak memungkinkan untuk persalinan normal, maka persalinan caesar segera dilakukan. Jika usia kehamilan belum cukup bulan atau kurang dari 34 minggu, maka dapat diberikan injeksi kortikosteroid untuk merangsang pematangan paru pada bayi.

Komplikasi Eklampsia

Diagnosis dan penanganan yang terlambat dari eklampsia dapat menimbulkan komplikasi serius dan mengancam nyawa ibu dan janin, termasuk salah satunya kematian ibu dan janin. Beberapa komplikasi dari eklampsia yang dapat terjadi atau masih dapat terjadi setelah melahirkan :

  • Kerusakan otak bagian oksipital akibat kejang yang dapat menyebabkan kebutaan.
  • Perdarahan intrakranial akibat kejang berulang.
  • Gagal ginjal akut.
  • Sindrom HELLP.
  • Disseminated intravascular coagulation (DIC), kondisi di mana terjadi penggumpalan darah di dalam seluruh pembuluh darah bersamaan dengan perdarahan.

Pencegahan Eklampsia

Penyebab dari preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui secara pasti maka pencegahan khusus agar tidak terjadi eklampsia tidak diketahui. Untuk meminimalisir risiko terjadinya eklampsia dapat dilakukan

  • Pemeriksaan kehamilan rutin agar preeklampsia dapat terdeteksi sedini mungkin dan segera mendapatkan penanganan
  • Pada wanita yang sudah memiliki hipertensi sebelum kehamilan, pengontrolan tekanan darah dan menjaga tekanan darah tetap stabil dapat menurunkan risiko kejadian preeklampsia dan eklampsia dalam kehamilan.
  • Pengontrolan berat badan sebelum merencanakan kehamilan

Kapan Harus ke Dokter?

Sebaiknya periksakan kehamilan secara rutin agar preeklampsia dapat dideteksi secara dini dan dapat segera ditangani agar tidak muncul komplikasi eklampsia. Jika keluarga atau kerabat memiliki tanda-tanda atau gejala seperti di atas, segera diskusikan dengan dokter. Terlebih jika termasuk dalam risiko tinggi atau telah terdiagnosa preeklampsia, sebaiknya periksakan kehamilan secara rutin pada dokter. 

Jika ibu ingin melakukan pemeriksaan, ibu bisa membuat janji rumah sakit dengan dokter melalui aplikasi Halodoc. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu berlama-lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi: 

Healthline. Diakses pada 2022. Eclampsia.
Medical News Today. Diakses pada 2022. Everything you need to know about eclampsia. 
Medine Plus. Diakses pada 2022. Eclampsia. 

Diperbarui pada 5 April 2022.