Ensefalopati Hepatik

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Ensefalopati Hepatik

Ensefalopati hepatik (EH) merupakan sindrom neuropsikiatri yang dapat terjadi pada penyakit hati akut dan kronik berat dengan beragam manifestasi, mulai dari ringan hingga berat. Manifestasi tersebut mencakup perubahan perilaku, gangguan intelektual, serta penurunan kesadaran tanpa adanya kelainan di otak yang mendasarinya.

Baca juga: Berakibat Fatal, Bisakah Ensefalopati Hepatik Disembuhkan?

 

Faktor Risiko Ensefalopati Hepatik

Faktor-faktor tertentu mungkin meningkatkan risiko ensefalopati hepatik, yaitu:

  • Dehidrasi.

  • Makan terlalu banyak protein.

  • Perdarahan dari dalam usus, perut, ataupun esofagus.

  • Infeksi.

  • Gangguan ginjal.

  • Kekurangan oksigen.

  • Obat penenang seperti benzodiazepine yang dapat menekan saraf sentral.

 

Penyebab Ensefalopati Hepatik

Kelainan yang merusak hati dan menyebabkan gagal hati dapat mengakibatkan ensefalopati hepatik. Beberapa kelainan ini adalah hepatitis karena virus (seperti hepatitis B dan hepatitis C), infeksi parah, penyakit autoimun, kanker, dan sindrom Reye.

Ensefalopati juga bisa disebabkan oleh penggunaan obat-obatan, seperti obat anti-radang nonsteroid (NSAID) dan konsumsi alkohol yang berlebihan. Pengidap sirosis hati juga dapat terkena ensefalopati dari penggunaan analgesik dan sedatif. 

 

Gejala Ensefalopati Hepatik

Gejala utama ensefalopati hepatik, yaitu:

  • Bingung dan pikun.

  • Mengantuk.

  • Suasana hati (mood) yang berubah-ubah.

  • Lemah, lesu, dan tidak bertenaga.

Sakit kuning juga kemungkinan akan muncul sebagai gejala lain dari ensefalopati. Sementara itu, orang dengan kondisi ini mungkin juga memiliki gejala penyakit hati yang meliputi adanya cairan di dalam perut dan kaki bengkak.

 

Diagnosis Ensefalopati Hepatik

Pada dasarnya, tidak ada pemeriksaan yang dapat dijadikan gold standard dalam mendiagnosis ensefalopati hepatik. Pada ensefalopati hepatik, diperlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap dan detail. Hal ini disebabkan karena banyaknya penyakit yang bisa menjadi diagnosis banding dari ensefalopati hepatik, baik gangguan vaskular, gangguan metabolik, gangguan intrakranial, maupun gangguan neuropsikiatri. Selain itu, gejala klinis yang ditemukan pada ensefalopati hepatik tidak ada yang bersifat spesifik untuk penyakit ini. Dalam anamnesis, perlu diketahui ada tidaknya riwayat maupun gejala klinis dari gangguan hati. Selain itu, perlu diketahui juga faktor-faktor lain menjadi  pencetus pada ensefalopati hepatik.

Jika dinilai membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, dokter biasanya akan menganjurkan serangkaian tes yang berupa:

  • Pemeriksaan darah lengkap yang bertujuan untuk memeriksa ada atau tidaknya potensi penyebab dasarnya, misalnya anemia, kekurangan vitamin, fungsi hati, kadar gula, serta infeksi.

  • X-ray.

  • CT dan MRI scan.

Baca juga: Terjadi Akibat Sirosis Hati, Bagaimana Ensefalopati Hepatik Dicegah?

 

Komplikasi Ensefalopati Hepatik

Komplikasi dari ensefalopati hepatik, antara lain:

  • Edema otak.

  • Gagal ginjal.

  • Kelainan asam-basa.

  • Hipoksia.

  • Gangguan faal hemostasis dan perdarahan.

  • Gangguan keseimbangan elektrolit (hipokalsemia) dan gangguan metabolisme (hipoglikemia).

  • Kerentanan terhadap infeksi.

  • Gangguan sirkulasi.

 

Pengobatan dan Efek Samping Ensefalopati Hepatik

Pengobatan umum adalah dengan memperbaiki oksigenasi jaringan. Pengobatan khusus adalah dengan mengatasi faktor pencetus koma hepatik, misalnya asupan protein dikurangi atau dihentikan sementara, kemudian baru dinaikkan secara bertahap. Namun, pembatasan asupan protein masih merupakan kontroversi dalam pengobatan EH.

Sumber protein yang diberikan pada ensefalopati hepatik adalah asam amino rantai cabang dengan harapan neurotransmiter asli dan palsu akan berimbang. Dengan ini, metabolisme amonia di otot dapat bertambah. Pemberian laktulosa dengan dosis 10-30 mililiter, 3 kali/hari juga dilakukan dengan harapan penyerapan amonia akan terhambat oleh pH asam pada usus. Selain itu, pemberian neomisin 4x1-2 gram/hari per oral juga harus dilakukan. Hal ini bertujuan agar sterilisasi usus bisa dilakukan.

 

Pencegahan Ensefalopati Hepatik

Ensefalopati bisa dihindari dengan menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang, berhenti mengonsumsi minuman beralkohol, teratur berolahraga, serta menjalani pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Baca juga: Perubahan Kepribadian Akibat Ensefalopati Hepatik, Perlukah Terapi ke Psikiater? 

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalisir akibat, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan.

Referensi:

rarediseases.org. Diakses pada 2019. Hepatic Encephalopathy

Diperbarui pada 5 September 2019