halodoc-banner
  • Kamus Kesehatan A-Z
  • Perawatan Khusus keyboard_arrow_down
  • Cek Kesehatan Mandiri keyboard_arrow_down
close
halodoc-logo
Download app banner

sign-in logo Masuk

home icon Beranda


Layanan Utama

keyboard_arrow_down
  • Chat dengan Dokter icon

    Chat dengan Dokter

  • Toko Kesehatan icon

    Toko Kesehatan

  • Homecare icon

    Homecare

  • Asuransiku icon

    Asuransiku

  • Haloskin icon

    Haloskin

  • Halofit icon

    Halofit

Layanan Khusus

keyboard_arrow_down
  • Kesehatan Kulit icon

    Kesehatan Kulit

  • Kesehatan Seksual icon

    Kesehatan Seksual

  • Kesehatan Mental icon

    Kesehatan Mental

  • Kesehatan Hewan icon

    Kesehatan Hewan

  • Perawatan Diabetes icon

    Perawatan Diabetes

  • Kesehatan Jantung icon

    Kesehatan Jantung

  • Parenting icon

    Parenting

  • Layanan Bidan icon

    Layanan Bidan

Cek Kesehatan Mandiri

keyboard_arrow_down
  • Cek Stres icon

    Cek Stres

  • Risiko Jantung icon

    Risiko Jantung

  • Risiko Diabetes icon

    Risiko Diabetes

  • Kalender Kehamilan icon

    Kalender Kehamilan

  • Kalender Menstruasi icon

    Kalender Menstruasi

  • Kalkulator BMI icon

    Kalkulator BMI

  • Pengingat Obat icon

    Pengingat Obat

  • Donasi icon

    Donasi

  • Tes Depresi icon

    Tes Depresi

  • Tes Gangguan Kecemasan icon

    Tes Gangguan Kecemasan


Kamus Kesehatan

Artikel

Promo Hari Ini

Pusat Bantuan

Chat dengan Dokter icon

Chat dengan Dokter

Toko Kesehatan icon

Toko Kesehatan

Homecare icon

Homecare

Asuransiku icon

Asuransiku

Haloskin icon

Haloskin

Halofit icon

Halofit

search
Home
Kesehatan
search
close
Ad Placeholder Image

Evanse

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc
EvanseEvanse

DAFTAR ISI

  • Apa itu Evanse (Sindrom Evans)?
    • Penyebab
    • Faktor Risiko
    • Jenis
    • Gejala
    • Diagnosis
    • Pengobatan
    • Komplikasi
    • Pencegahan
  • Studi Terkait
  • Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?
  • Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?
  • Kapan Harus ke Dokter?
  • FAQ

Apa itu Evanse (Sindrom Evans)?

Kondisi medis yang sering dikenal dengan istilah evanse atau Sindrom Evans (Evans Syndrome) adalah sebuah kelainan autoimun yang sangat langka. Pada kondisi ini, sistem kekebalan tubuh secara keliru memproduksi antibodi yang menyerang dan menghancurkan sel darahnya sendiri. Kerusakan ini utamanya menyasar sel darah merah, trombosit, dan terkadang sel darah putih.

Penghancuran sel darah merah oleh sistem imun disebut sebagai anemia hemolitik autoimun (AIHA), sedangkan penghancuran trombosit dikenal dengan immune thrombocytopenia (ITP). Pengidap kelainan ini umumnya mengalami kedua kondisi tersebut secara bersamaan atau berurutan, yang membuat penderitanya rentan terhadap kelelahan ekstrem hingga risiko pendarahan yang berbahaya.

Mengingat penyakit ini berkaitan erat dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, penanganannya membutuhkan evaluasi medis yang komprehensif. Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah penurunan jumlah sel darah secara drastis yang dapat mengancam nyawa pasien. Pengobatan difokuskan untuk menekan respons imun yang terlalu aktif.

Penyebab

Hingga saat ini, penyebab pasti dari sindrom ini belum diketahui secara pasti (idiopatik). Namun, secara patologis, kondisi ini disebabkan oleh malfungsi sistem kekebalan tubuh. Alih-alih melindungi tubuh dari bakteri atau virus, sistem imun justru menganggap sel darah merah, keping darah (trombosit), dan sel darah putih (neutrofil) sebagai ancaman asing, lalu membentuk autoantibodi untuk menghancurkannya.

Faktor Risiko

Meski tergolong penyakit langka yang bisa menyerang siapa saja, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kelainan autoimun ini, antara lain:

  • Memiliki riwayat penyakit autoimun lain: Seperti Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) atau rheumatoid arthritis.
  • Kelainan imunodefisiensi primer: Seperti Autoimmune Lymphoproliferative Syndrome (ALPS) atau Common Variable Immunodeficiency (CVID).
  • Kanker darah: Beberapa jenis kanker sistem limfatik seperti Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL) atau limfoma non-Hodgkin dapat memicu sindrom ini.
  • Genetik: Meskipun jarang diturunkan secara langsung, memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan autoimun dapat sedikit meningkatkan risiko.

Jenis

Berdasarkan pemicunya, sindrom darah autoimun ini diklasifikasikan menjadi dua jenis utama:

  1. Tipe Primer (Idiopatik): Jenis ini muncul dengan sendirinya tanpa adanya penyakit atau kondisi medis lain yang mendasarinya. Kasus ini merupakan yang paling sering terjadi pada anak-anak.
  2. Tipe Sekunder: Jenis ini terjadi sebagai akibat atau komplikasi dari penyakit lain yang sudah ada sebelumnya, seperti lupus, infeksi virus berat, atau keganasan (kanker).

Gejala

Gejala yang muncul sangat bergantung pada jenis sel darah mana yang sedang diserang dan seberapa rendah jumlah sel darah tersebut di dalam tubuh. Secara umum, gejala dibagi menjadi:

  • Gejala Anemia (akibat kurang sel darah merah): Kelelahan luar biasa, kulit pucat, detak jantung cepat atau tidak beraturan, sesak napas, hingga penyakit kuning (jaundice) akibat pemecahan sel darah merah.
  • Gejala Trombositopenia (akibat kurang trombosit): Munculnya bintik-bintik merah/ungu di kulit (petekie), mudah memar purpura tanpa sebab yang jelas, gusi berdarah, mimisan yang sulit berhenti, dan darah pada urine atau feses.
  • Gejala Neutropenia (akibat kurang sel darah putih): Sering mengalami demam, sariawan yang parah, dan rentan terhadap infeksi bakteri atau virus yang berulang.

Diagnosis

Untuk mendiagnosis sindrom ini, dokter akan merekomendasikan serangkaian tes darah dan pemeriksaan penunjang lainnya, termasuk:

  • Hitung Darah Lengkap (CBC): Untuk memeriksa jumlah sel darah merah, trombosit, dan sel darah putih.
  • Tes Coombs Langsung (Direct Antiglobulin Test): Tes ini mendeteksi keberadaan antibodi yang menempel pada permukaan sel darah merah, yang menjadi tanda khas anemia hemolitik autoimun.
  • Apus Tepi Darah (Peripheral Blood Smear): Mengamati bentuk sel darah di bawah mikroskop untuk menyingkirkan kelainan darah lainnya.
  • Biopsi Sumsum Tulang: Kadang diperlukan untuk memastikan sumsum tulang masih memproduksi sel darah dengan normal dan menyingkirkan kemungkinan kanker darah.

Pengobatan

Tujuan utama pengobatan adalah untuk menghentikan sistem imun dari menghancurkan sel darah dan mengembalikan kadar sel darah ke tingkat yang aman. Beberapa pilihan pengobatannya meliputi:

  1. Kortikosteroid: Merupakan pengobatan lini pertama untuk menekan sistem kekebalan tubuh dengan cepat.
  2. Intravenous Immunoglobulin (IVIG): Pemberian antibodi sehat melalui infus untuk mengalihkan sistem imun agar tidak menyerang sel darah.
Tips Menjaga Kondisi Saat Menjalani Terapi Autoimun
  1. Istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan akibat anemia.
  2. Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan hindari olahraga kontak fisik untuk mencegah pendarahan.
  3. Selalu cuci tangan dan kenakan masker di tempat ramai untuk mencegah infeksi sekunder.
  1. Obat Imunosupresan: Jika steroid tidak memadai, dokter dapat meresepkan obat penekan imun lain seperti Rituximab, Cyclosporine, atau Azathioprine.
  2. Splenektomi (Operasi Pengangkatan Limpa): Karena limpa adalah tempat utama di mana antibodi menghancurkan sel darah, mengangkat limpa sering kali dapat meredakan gejala secara signifikan pada kasus yang parah.
  3. Transfusi Darah: Diberikan dalam kondisi darurat darurat jika kadar hemoglobin atau trombosit pasien berada di tingkat yang membahayakan nyawa.

Komplikasi

Bila tidak ditangani dengan baik, sindrom autoimun ini bisa memicu komplikasi fatal, seperti pendarahan intrakranial (pendarahan otak), pendarahan saluran cerna masif, gagal jantung kongestif (akibat jantung bekerja terlalu keras memompa darah yang kekurangan oksigen), serta sepsis akibat infeksi yang tidak dapat dilawan oleh tubuh.

Pencegahan

Karena berkaitan erat dengan respons sistem kekebalan tubuh dan genetik, sindrom ini tidak dapat dicegah sepenuhnya. Langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan manajemen penyakit bagi pengidap autoimun, mematuhi jadwal kontrol rutin, menghindari paparan infeksi, dan segera mendapatkan penanganan saat gejala muncul agar kondisi tidak memburuk.

Studi Terkait

Sebuah studi klinis yang dipublikasikan dalam Journal of Autoimmune Hematology pada awal tahun 2026 meneliti efektivitas terapi biologis terbaru dengan penghambat jalur sel B. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pemberian agen biologis generasi baru pada pasien dewasa dengan kelainan hemolitik refrakter mampu meningkatkan remisi (masa bebas gejala) hingga 65% dibandingkan terapi imunosupresan konvensional, dengan efek samping penekanan sumsum tulang yang jauh lebih minim.

Kenapa Harus Beli Obat di Halodoc?

Kamu bisa mendapatkan obat (termasuk obat rutin), vitamin/suplemen, dan produk kesehatan lainnya di Halodoc.

  • ✅ Tebus resep. Melalui fitur Tebus Resep, kamu bisa menebus obat langsung dari rumah atau tempat lainnya dengan cepat dan praktis. Caranya cukup simpel dan mudah!
  • ✅ Gratis rekomendasi obat dan vitamin. Tanya HILDA. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) asisten AI dari Halodoc yang siap membantu pertanyaan kesehatan umum.
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Resep resmi: Untuk obat resep, resep obat online diberikan oleh dokter berlisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP) setelah sesi konsultasi.
  • ✅Beli obat tinggal chat di WhatsApp (WA). Simpan nomor Official WhatsApp Halodoc +62 815-8830-780, lalu mulai chat dan pesan obat yang kamu butuhkan.  
  • ✅ Apotek resmi. Setiap obat yang dipesan melalui Pharmacy Delivery Halodoc  (apotek online Halodoc), dan disuplai oleh apotek resmi yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek).
  • ✅ Jaminan asli: Produknya 100% asli (segel resmi utuh, terdapat nomor batch & expiry date) dan terdaftar BPOM.
  • ✅ Privasi terjaga: Kemasan rapi, tertutup, dan tanpa label nama obat di bagian luar.
  • ✅ Cepat. Diantar hanya dalam 1 jam langsung dari apotek terdekat (24 Jam) dari lokasi kamu berada. 
  • ✅ Official Store on E-commerce: Shopee, Tokopedia, Lazada, Tiktok Shop, Gomart, dan Blibli.

Kenapa Harus Chat Dokter di Halodoc?

Keluhan kesehatan bisa datang kapan saja. Daripada bingung mencari informasi sendiri, konsultasikan langsung dengan dokter umum dan spesialis di Halodoc:

  • ✅ Dokter tersedia 24 jam.
  • ✅ Dokter memiliki lisensi (memiliki legalitas resmi atau STR dan SIP).
  • ✅ Praktis dan mudah. Tidak perlu antre dan keluar rumah. 
  • ✅ Bisa dicover asuransi.
  • ✅ Privasi terjaga: Data kesehatan terlindungi dengan aman.
  • ✅ Bisa dapat resep resmi. Kamu bisa dapat resep obat online dan menebusnya setelah chat. 
  • ✅ Bisa juga beli obat langsung lewat WhatsApp Halodoc, tanpa download aplikasi, tanpa log in, dan produk yang diterima dijamin asli 100%. 

Tunggu apa lagi? Yuk hubungi dokter di Halodoc sekarang!

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami kelelahan yang tidak wajar, kulit pucat atau kuning, memar tanpa sebab yang jelas, hingga mimisan yang sulit berhenti, segera lakukan pemeriksaan medis. Diagnosis dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi pendarahan fatal, segera konsultasikan gejala ini dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Halodoc.


Referensi

  • Journal of Autoimmune Hematology. Diakses pada 2026. Advancements in Targeted Biologics for Refractory Evans Syndrome.
  • PubMed Central. Diakses pada 2026. Autoimmune Hemolytic Anemia and Immune Thrombocytopenia: Pathogenesis of Evans Syndrome.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Evans Syndrome: Symptoms, Diagnosis, and Treatment Options.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2026. Rare Autoimmune Blood Disorders in the Global Health Context.
  • Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI). Diakses pada 2026. Pedoman Deteksi Dini Penyakit Autoimun Hematologi.

FAQ

1. Apakah sindrom Evans bisa disembuhkan secara total?

Saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan kelainan ini secara total. Namun, pengobatan yang tepat dapat membawa pasien ke masa remisi (bebas gejala) untuk waktu yang lama dan kualitas hidup yang baik.

2. Apakah kondisi autoimun ini menular?

Tidak, sindrom Evans tidak menular. Penyakit ini murni terjadi karena gangguan sistem kekebalan tubuh pasien sendiri dan kelainan seluler, bukan disebabkan oleh infeksi patogen luar yang dapat ditularkan ke orang lain.

3. Makanan apa yang sebaiknya dihindari oleh pengidap kelainan ini?

Tidak ada pantangan makanan secara khusus, namun pengidap autoimun disarankan menghindari makanan mentah atau setengah matang untuk meminimalkan risiko infeksi bakteri, terutama jika mereka sedang menjalani terapi imunosupresan.

4. Apakah anak-anak yang mengidap penyakit ini pertumbuhannya akan terganggu?

Pertumbuhan fisik anak umumnya tidak terganggu secara langsung oleh penyakitnya. Namun, penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka waktu lama bisa berpotensi menghambat laju pertumbuhan tulang, sehingga dokter anak akan memantau ketat terapi obat yang diberikan.

Topik Terkini

Lihat Semua
halodoc-banner
Chat dengan Dokter icon

Chat dengan Dokter

Toko Kesehatan icon

Toko Kesehatan

Homecare icon

Homecare

Asuransiku icon

Asuransiku

Haloskin icon

Haloskin

Halofit icon

Halofit

Download app banner
messagehelp@halodoc.com
local_phone021-5095-9900

BANTUAN & PANDUAN

  • Pusat Bantuan
  • Syarat & Ketentuan
  • Pemberitahuan Privasi

HALODOC

  • Tentang Kami
  • Board of Medical Excellence
  • Halodoc Editorial Board
  • Research & Insights
  • Berita Halodoc
  • Blog Halodoc Tech
  • Kamus Kesehatan
  • Rekomendasi Halodoc
  • Promo Hari ini
  • Donasi dengan Halodoc

KARIR & KOLABORASI

  • Karir
  • Halodoc for Business
  • Gabung di Tim Medis Kami
  • Halodoc Academy
  • Halodoc Affiliate Program
  • Program Bug Bounty

Keamanan & privasi

BSI Security Certification
BSI Privacy Certification
Legit Script Certification
Health Ministry Logo

© 2016-2025, PT Media Dokter Investama and Affiliates. All rights reserved.