Gagal Ginjal Kronis

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Gagal Ginjal Kronis

Gagal ginjal kronis (GGK) adalah kondisi saat fungsi ginjal mulai menurun secara bertahap. Gagal ginjal kronis disebut juga sebagai kerusakan ginjal dapat berupa kelainan jaringan, komposisi darah, dan urine atau tes pencitraan ginjal, yang dialami lebih dari tiga bulan.

Gagal ginjal kronis apabila tidak ditangai dapat menjadi gagal ginjal akhir (ESRD), yakni setelah terjadinya penumpukan limbah tubuh, cairan, dan elektrolit yang bisa membahayakan tubuh jika tanpa dilakukan penyaringan buatan (dialisis/cuci darah) atau transplantasi ginjal. GGK umumnya tidak menimbulkan gejala, sehingga membuat pengidap penyakit ini biasanya tidak menyadari gejalanya.

GGK stadium lanjut umumnya mengalami beberapa gejala, seperti sesak napas, mual, kelelahan, mengalami pembengkakan pergelangan kaki, kaki, atau tangan karena terjadi penumpukan cairan pada sirkulasi tubuh, sesak napas, serta munculnya darah dalam urine.

 

Faktor Risiko Gagal Ginjal Kronis

Terdapat beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseroang mengalami penyakit gagal ginjal kronis, antara lain:

  • Usia. Karena usia yang makin bertambah, maka risiko penyakit ini juga meningkat.

  • Suku. Mereka yang merupakan keturunan Afrika, Amerika, dan suku asli Amerika memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan dengan ras lainnya.

  • Jenis Kelamin. Umumnya laki-laki memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit ini.

  • Riwayat Keluarga. Riwayat keluarga juga merupakan salah satu faktor pemicu diabetes dan hipertensi yang berakhir pada gagal ginjal kronis.

  • Sering Konsumsi Makanan Tinggi Protein dan Lemak. Konsumsi makanan tinggi protein dan lemak bisa tingkatkan risiko terkena gagal ginjal.

  • Penggunaan Jenis Obat Tertentu. Ada baiknya untuk menghentikan penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat merusak ginjal, misalnya analgesik serta beberapa jenis antibiotik NSAIDS.

Baca juga: Idap Gagal Ginjal Kronis, Perlukah Transplantasi Ginjal?

 

Penyebab Gagal Ginjal Kronis

Ginjal berfungsi menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah sebelum dibuang melalui cairan urine. Ginjal juga memiliki berbagai fungsi lain yang tidak kalah penting, yaitu:

  • Mengatur kadar bahan kimia dalam tubuh, sehingga membantu jantung dan otot agar bekerja dengan baik.

  • Membantu mengatur tekanan darah.

  • Memproduksi zat sejenis vitamin D yang menjaga kesehatan tulang.

  • Memproduksi hormon glikoprotein disebut erythropoietin yang membantu merangsang produksi sel-sel darah merah.

Beberapa kondisi, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, menjadi penyebab terjadinya gagal ginjal kronis. Dalam jangka panjang, kondisi-kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal, sehingga fungsi ginjal menurun.

 

Gejala Gagal Ginjal Kronis

  • Lebih sering ingin buang air kecil, terutama di malam hari.

  • Kulit gatal.

  • Adanya darah atau protein dalam urine yang dideteksi saat tes urine.

  • Kram otot dan kejang otot.

  • Kehilangan berat badan.

  • Kehilangan nafsu makan.

  • Cegukan.

  • Kelelahan atau merasa lemah.

  • Menurunnya ketajaman mental.

  • Tekanan darah yang sulit dikendalikan.

  • Penumpukan cairan yang mengakibatkan pembengkakan pada pergelangan kaki, kaki, atau tangan.

  • Nyeri pada dada, akibat cairan menumpuk di sekitar jantung.

  • Sesak napas.

  • Mual dan muntah.

  • Gangguan tidur.

  • Disfungsi ereksi pada pria.

Baca juga: Lebih Berbahaya Gagal Ginjal Akut atau Gagal Ginjal Kronis?

 

Diagnosis Gagal Ginjal Kronis

Diagnosis diperlukan setelah gejala mulai mencurigakan. Tidak hanya itu, hal-hal seperti riwayat penyakit pengidap dan keluarga, dan beberapa pemeriksaan fisik akan dilakukan. Untuk memastikan kondisi ginjal seseorang, maka terdapat beberapa tes yang perlu dijalankan, seperti:

  • Tes Darah. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kinerja ginjal dengan cara melihat kadar limbah dalam darah, seperti kreatinin dan ureum.

  • Tes Urine. Pemeriksaan ini dilakukan guna mengetahui apakah ada indikasi kerusakan ginjal. Dalam tes ini, akan diperiksa kadar albumin dan kreatinin dalam urine. Selain itu, kandungan protein dalam urine juga turut serta diperiksa.

  • Pemindaian. Pemindaian ini akan melihat struktur dan ukuran ginjal. Beberapa jenis pemindaian yang bisa dilakukan seperti misalnya USG, MRI, dan CT scan.

  • Biopsi ginjal. Biopsi dilakukan dengan mengambil sampel kecil dari jaringan ginjal, yang kemudian dianalisis untuk menentukan penyebab kerusakan ginjal.

 

Pengobatan Gagal Ginjal Kronis

Pengobatan dilakukan dengan transplantasi ginjal dan cuci darah.

 

Pencegahan Gagal Ginjal Kronis

Pengidap kondisi-kondisi tertentu yang berisiko mengarah ke penyakit ginjal kronis, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, disarankan untuk mewaspadai perkembangan penyakit yang dialami. Perubahan gaya hidup seperti pola makan sehat, berolahraga teratur, menghindari konsumsi obat-obatan yang dapat merusak ginjal, dan menghindari kelebihan konsumsi minuman keras akan membantu mencegah terjadinya gagal ginjal.

Baca juga: Sakit Ginjal Tanpa Cuci Darah, Mungkinkah?

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala di atas, segeralah berbicara dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. 

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2019.. Chronic Kidney Disease.
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Chronic Kidney Disease.
National Kidney Foundation. Diakses pada 2019. About Chronic Kidney Disease.

Diperbarui pada 4 September 2019