Gangguan Testosteron

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Gangguan Testosteron

Gangguan testosteron adalah kondisi ketika kadar atau jumlah hormon testosteron mengalami gangguan, baik mengalami penurunan maupun peningkatan. Testosteron sendiri adalah hormon yang diproduksi di kelenjar adrenal dan fungsinya meliputi kinerja anabolik steroid, pengaturan libido, energi, sistem kekebalan tubuh, dan perlindungan terhadap osteoporosis. Selain itu, hormon ini juga berfungsi untuk menjaga tubuh dalam hal mempertahankan protein dan pertumbuhan otot, tulang, serta kulit.

Baca juga: Waspada Gangguan Testosteron pada Anak Laki-Laki

 

Faktor Risiko Gangguan Testosteron

Risiko terjadinya gangguan pada produksi hormon testosteron dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Faktor usia.

  • Penyakit hipogonadisme.

  • Adanya luka atau cedera pada testis.

  • Seseorang mengidap HIV/AIDS.

  • Sindrom klinefelter.

  • Hemokromatosis.

  • Pernah menjalani terapi radiasi atau kemoterapi.

  • Gangguan tidur sleep apnea yang tidak diberi penanganan.

 

Penyebab Gangguan Testosteron

Penyebab utama gangguan testosteron adalah penyakit hipoganadisme. Meskipun memiliki berbagai macam penyebab lain, gangguan testosteron paling sering diakibatkan oleh penyakit hipoganadisme tersebut. Penyakit ini terbagi menjadi dua kategori, antara lain:

  • Hipoganadisme primer. disebabkan oleh testis yang kurang aktif akibat faktor genetik, trauma atau kondisi medis tertentu. Misalnya testis tidak turun, sindrom Klinefelter, hemokromatosis, cedera testis, gondok pada testis (orchitis), serta dampak pengobatan kanker (kemoterapi atau radiasi) yang bisa merusak testis.

  • Hipoganadisme sekunder. Kondisi ini terjadi akibat rusaknya kelenjar pituitari atau hipotalamus, yakni bagian otak yang berperan dalam mengendalikan produksi hormon pada testis. Penyebab lainnya adalah pertambahan usia, obesitas, stres jangka panjang (seperti stres akibat penyakit atau pasca operasi), dan konsumsi obat-obatan tertentu.

Gangguan testosteron juga dapat disebabkan oleh adanya gangguan tiroid, kelenjar pituitary, diabetes tipe 2, efek samping obat, dan genetik. Semua hormon anabolik dipakai untuk terapi substitusi androgen dan dapat menimbulkan maskulinisasi, jika dosis dan pengobatan cukup lama dilakukan.

Baca juga: 6 Komplikasi Akibat Diabetes Tipe 2

 

Gejala Gangguan Testosteron

Pria yang mengalami gangguan pada hormon testosteron akan merasakan bermacam gejala. Gangguan testosteron sendiri dapat terjadi karena penurunan atau peningkatan kadar hormon testosteron yang tidak normal. Berikut ini adalah beberapa gejala yang timbul dari gangguan testosteron akibat penurunan kadar hormon testosteron, antara lain:

  • Kehilangan kekuatan tubuh.

  • Gangguan ereksi.

  • Penurunan libido dan kehilangan gairah seksual.

  • Massa otot tubuh berkurang.

  •  Sering mengantuk setelah makan.

  • Sering merasa lesu dan letih.

  • Rambut-rambut di tubuh mulai rontok (tak hanya di kepala).

  • Lingkar pinggang semakin bertambah.

Selain penurunan jumlah atau kadar hormon testosteron dalam tubuh, peningkatan jumlah hormon testosteron juga menyebabkan gangguan pada testosteron. Kelebihan kadar testosteron dalam tubuh juga menimbulkan berbagai masalah. Seperti contohnya, kulit menjadi berminyak dan jerawatan, meningkatnya jumlah sel darah merah dan hemoglobin, dan mengkerutnya testis tanpa sebab yang jelas.

 

Diagnosis Gangguan Testosteron

Pemeriksaan utama terhadap gangguan testosteron dilakukan melalui pemeriksaan fisik dengan melihat kondisi rambut kemaluan, massa otot, dan juga ukuran testis. Selain itu, tingkat testosteron dalam darah juga akan dilakukan melalui pemeriksaan darah.

Pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan oleh dokter jika hasil pemeriksaan sebelumnya menunjukan kadar testosteron yang lemah pada tubuh. Hal ini bertujuan untuk mencari tahu apakah gangguan testosteron tersebut bisa terjadi karena gangguan pada testis atau disebabkan oleh pituitary gland (kelenjar di bawah otak) memiliki bentuk yang abnormal. Pemeriksaan tersebut akan melibatkan pemeriksaan terhadap beberapa aspek, antara lain:

  • Pemeriksaan hormon pada tubuh.

  • Pemeriksaan terhadap cairan semen pada tubuh pengidap.  

  • Pencitraan terhadap kelenjar bawah otak (pituitary imaging)

  • Pemeriksaan faktor genetik dan juga riwayat keluarga.

  • Biopsi pada testis.

Baca juga: Ketahui Dampak dari Gangguan Testosteron Bagi Pria

 

Penanganan Gangguan Testosteron

Penanganan gangguan testosteron ini dapat dilakukan dalam bentuk pil. Dosis yang diberikan berkisar antara 1 sampai 5 miligram dalam satu hari. Jika dosis testosterone tersebut dikonsumsi melebihi dosis, dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Efek samping yang berbahaya tersebut meliputi peningkatan berat badan secara tiba-tiba, kesulitan bernapas, timbul jerawat, penyakit hati, pembengkakan pada kaki atau pergelangan kaki, penurunan HDL, tekanan darah meningkat, kerusakan hati dan kanker, nyeri-nyeri di persendian, serta dapat meningkatkan terjadinya cedera pada tendon, ligamen, dan otot.

 

Pencegahan Gangguan Testosteron

Pencegahan terhadap gangguan hormon testosteron bisa dilakukan dengan berbagai langkah, antara lain:

  • Menjalani kebiasaan hidup sehat seperti rutin olahraga.

  • Membatasi atau menghindari konsumsi alkohol.

  • Menjalani pola makan yang sehat dan bergizi.

  • Mengurangi atau sama sekali tidak merokok, karena rokok menyebabkan kadar testosteron dalam tubuh menurun.

  • Menjaga waktu tidur dan istirahat, karena kelelahan juga dapat menjadi penyebab gangguan hormon testosteron.

  • Hindari stres dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan dan produktif.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Saat gangguan testosteron ini mengganggu aktivitas kamu sehari-hari, segera hubungi dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Referensi:
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2019. Testosterone
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Male hypogonadism
Diperbarui pada 11 September 2019