• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Gawat Janin

Gawat Janin

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Gawat Janin

Pengertian Gawat Janin

Janin yang tengah dikandung bisa mengalami kondisi yang berbahaya, salah satunya gawat janin. Hal ini bisa muncul akibat kurangnya kandungan oksigen atau asupan nutrisi di dalam kandungan. Kondisi yang juga dikenal dengan istilah fetal distress ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Penanganan cepat perlu segera dilakukan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Penyebab utama kondisi ini adalah kurangnya asupan oksigen di dalam kandungan. Kekurangan oksigen bisa disebabkan oleh faktor janin yang dikandung maupun faktor kondisi tubuh ibu. Gawat janin bisa muncul akibat berat janin berada jauh di bawah angka normal. Riwayat penyakit yang dialami ibu juga bisa meningkatkan risiko kondisi ini. 

Penyebab Gawat Janin 

Gawat janin disebabkan oleh kurangnya pasokan oksigen pada janin yang dikenal juga dengan istilah hipoksia janin. Kekurangan oksigen yang terjadi bisa dikaitkan dengan kondisi tubuh ibu ataupun kondisi janin yang berada di dalam kandungan. 

Kondisi yang terkait dengan janin, meliputi:

  • Berat badan janin yang rendah (intrauterine growth restriction/IUGR), yaitu ketika berat janin kurang dari persentil 10 dari berat badan normal dalam usia kehamilan yang sama.
  • Pasokan oksigen melalui tali pusat berkurang. Salah satu penyebabnya adalah oligohidramnion, yaitu cairan ketuban yang terlalu sedikit.
  • Mengalami sindrom aspirasi mekonium. Sindrom ini bisa mengakibatkan iritasi pada paru-paru janin, infeksi, serta menghalangi jalan napas janin.

Sedangkan gawat janin yang dipengaruhi oleh kondisi pada ibu, di antaranya:

  • Masa kehamilan lebih dari 42 minggu.
  • Memiliki penyakit anemia, diabetes, tekanan darah tinggi saat kehamilan, atau preeklamsia.
  • Kehamilan pada usia di atas 35 tahun.
  • Kehamilan dengan janin kembar atau lebih.

Faktor Risiko Gawat Janin

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko kurangnya pasokan oksigen pada janin, sehingga terjadi hipoksia. Kondisi ini dapat terjadi secara kronik (dalam jangka waktu lama) atau akut. Adapun janin yang berisiko tinggi untuk mengalami kegawatan (hipoksia), meliputi:

  • Janin yang pertumbuhannya terhambat.
  • Janin dari ibu dengan diabetes.
  • Janin pre-term dan post-term.
  • Janin dengan kelainan letak.
  • Janin kelainan bawaan atau infeksi.

Gejala Gawat Janin

Gejala gawat janin bisa dikenali dari berkurangnya gerakan bayi di dalam perut ibu. Hal ini harus diwaspadai, sebab bisa menjadi tanda bahwa janin tidak sedang baik-baik saja. Menjelang waktu kelahiran, ibu akan semakin merasakan setiap perubahan dari gerakan yang dihasilkan bayi. Hal ini normal karena bayi yang semakin bertambah besar jadi memiliki ruang gerak yang lebih sedikit dalam rahim ibu.

Janin yang sehat memiliki detak jantung yang stabil dan dapat menanggapi rangsangan dengan gerakan yang tepat. Sedangkan bayi yang sedang mengalami kondisi gawat janin dapat menunjukkan tanda-tanda, seperti detak jantung yang menurun serta gerakan bayi yang menjadi tidak aktif atau bahkan tidak bergerak sama sekali.

Penting bagi ibu untuk memperhatikan jumlah tendangan bayi. Banyak dokter merekomendasikan bahwa normalnya ibu merasakan tendangan bayi sebanyak 10 tendangan dalam waktu dua jam.

Jika ibu merasakan ada perubahan gerak yang bersifat negatif dari bayi, sebaiknya segera hubungi bidan atau dokter. Dokter akan memeriksa detak jantung bayi ibu dan melakukan USG untuk mengetahui pertumbuhan bayi. 

Diagnosis Gawat Janin

Berikut pemeriksaan yang biasanya dilakukan dokter untuk mendiagnosis gawat janin:

  • Pemeriksaan USG Doppler. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mendeteksi denyut jantung janin (DJJ). DJJ normal berkisar antara 120-160. Pada kondisi gawat janin, DJJ kurang dari 120 kali per menit atau 160 kali per menit.
  • Pemeriksaan cardiotocography (CTG). Melalui pemeriksaan ini, dapat diketahui respons DJJ terhadap pergerakan janin dan kontraksi rahim ibu. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kondisi gawat janin lebih dini dibandingkan dengan USG Doppler.
  • Biometri janin. Pemeriksaan biometri janin diukur melalui USG. Bila hasil pemeriksaan biometri menunjukkan ukuran janin lebih kecil dari yang seharusnya, itu bisa menandakan adanya gangguan plasenta yang mendasari terjadinya gawat janin.

Pengobatan Gawat Janin

Penanganan kondisi gawat janin tergantung pada penyakit yang menyebabkannya, usia kehamilan, dan berat badan janin. Namun, secara umum, jika kondisi gawat janin terjadi,dokter akan melakukan tindakan pengakhiran kehamilan dengan cara operasi Caesar atau induksi persalinan. Ini sebisa mungkin dilakukan dalam waktu satu jam setelah kondisi gawat janin terdeteksi.

Jika gawat janin menyebabkan bayi terhirup mekonium (feses bayi baru lahir), segera setelah bayi lahir, dokter harus langsung membersihkan saluran pernapasan bayi. Tindakan ini dapat dilakukan dengan alat pengisap (suction) dan memasang alat bantu pernapasan (ventilator) bila diperlukan. Gawat janin yang tidak diatasi dapat menyebabkan kematian pada janin.

Pencegahan Gawat Janin

Sebagian kasus gawat janin dapat dideteksi dini. Oleh karena itu, untuk mencegahnya, sebaiknya ibu hamil melakukan kontrol rutin ke dokter dengan membawa buku kontrol agar kehamilan dapat terpantau dengan baik. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika ibu hamil mengalami gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya segera diskusikan ke dokter. Jika gejala yang muncul semakin memburuk, ibu hamil harus segera dibawa ke rumah sakit agar mendapatkan penanganan medis.

Semakin cepat ditangani, risiko bahaya akibat gawat janin bisa diturunkan. Biar lebih mudah, gunakan aplikasi Halodoc untuk menemukan daftar rumah sakit terdekat. Ayo, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

Referensi
American Pregnancy Association. Diakses pada 2022. Fetal Distress: Diagnosis, Conditions & Treatment.
MSD Manuals. Diakses pada 2022. Fetal Distress – Women’s Health Issues.
Diperbarui pada 27 April 2022.