Hepatitis E

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Pengertian Hepatitis E

Hepatitis E termasuk salah satu jenis penyakit hepatitis. Penyakit ini adalah infeksi hati akut berpotensi serius yang disebabkan oleh virus HEV. Berbeda dengan jenis hepatitis lain, penyebaran virus hepatitis E terjadi saat seseorang mengonsumsi air atau yang terkontaminasi virus HEV. Penularan Hepatitis E juga dapat terjadi melalui transfusi darah, ibu hamil ke janin, serta hewan yang terinfeksi virus HEV.

 

Faktor Risiko Hepatitis E

Hepatitis bisa menyerang siapa saja, tetapi terdapat beragam faktor yang meningkatkan risiko yang membuat seseorang lebih rentan terhadap virus hepatitis E, antara lain:

  • Kebersihan pribadi yang buruk;

  • Virus hepatitis E masuk ke feses ketika BAB;

  • Berhubungan intim tanpa menggunakan kondom dan seks bebas (berganti-ganti pasangan);

  • Tinggal dengan seseorang yang menderita infeksi HEV kronis; dan

  • Bepergian ke wilayah dengan tingkat infeksi HEV yang tinggi.

 

Penyebab Terjadinya Hepatitis E

Infeksi dan gejala dari penyakit ini disebabkan oleh HEV (Hepatitis E Virus) dan bisa ditularkan melalui makanan atau air yang sudah terkontaminasi oleh feses pengidap hepatitis E. Selain dari makanan dan minuman, penularan hepatitis E juga bisa terjadi lewat transfusi darah, antara ibu dengan janin jika si ibu terinfeksi, serta  hubungan seks tanpa pengaman. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnuya, jika seseorang terjangkit hepatitis E maka orang tersebut akan mengalami infeksi hati akut.

 

Gejala Hepatitis E

Pada umumnya, gejala HEV muncul sekitar 27 minggu setelah terpapar virus, dan biasanya berlangsung selama sekitar 2 bulan. Berikut ini gejala umum hepatitis E:

  • Menguningnya warna kulit dan mata;

  • Urine berwarna gelap seperti teh;

  • Nyeri sendi dan perut;

  • Hilang nafsu makan;

  • Pembengkakan hati;

  • Gagal hati akut;

  • Mual dan muntah;

  • Sering merasa lelah; dan

  • Demam.

Baca juga: 5 Fakta Penting tentang Hepatitis E

 

Diagnosis Hepatitis E

Diagnosis hepatitis E dapat dilakukan dengan tes darah. Tes darah tersebut bertujuan untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis didalam tubuh, dan apakah tubuh memiliki antibodi terhadap virus tersebut. Tes tersebut bisa membantu dokter untuk memulai pengobatan dan menganjurkan untuk mengubah gaya hidup terhadap pengidap hepatitis E agar bisa memperlambat proses kerusakan hati.

Pengobatan hepatitis E bertujuan untuk menyingkirkan virus dari tubuh. Dengan sistem kekebalan tubuh cukup kuat, pengidap hepatitis E mungkin tidak membutuhkan obat-obatan. Jika kamu positif mengidap hepatitis E, dokter akan menyarankan untuk:

  • Beristirahat di rumah sampai energi kembali;

  • Minum banyak cairan untuk menghindari dehidrasi. Pilihlah cairan tinggi kalori seperti jus buah dan sup kaldu;

  • Menerapkan pola makan yang sehat; dan

  • Jangan minum alkohol atau menggunakan narkoba.

Baca juga: Risiko yang Bisa Ditimbulkan oleh Hepatitis E

 

Pengobatan Hepatitis E

Untuk langkah pertama mengobati hepatitis E, dokter biasanya menggunakan terapi imunosupresi. Hasilnya, viral load (jumlah virus dalam darah) HEV dapat berkurang hingga 30 persen pada pasien. Bagi pasien yang terapi imunosupresinya tidak dapat dikurangi dan bagi mereka yang virusnya tidak berkurang setelah menggunakan imunosupresi, maka dianjurkan untuk menggunakan terapi antivirus. Monoterapi ribavirin (6001000 miligram per hari) untuk minimal tiga bulan akan diresepkan sebagai pilihan pertama.

Hepatitis E juga dapat diobati dengan melakukan prosedur transplantasi hati pada kasus tertentu. Penanganan ini biasanya dilakukan jika hepatitis E sudah masuk ke tahap kronis. Pengidap yang terinfeksi HEV kronis dan yang telah menjalani transplantasi hati biasanya akan dianjurkan terapi interferon alfaa pegilasi selama 312 bulan. Namun, pengobatan ini bisa memicu efek samping yang signifikan dan penolakan organ pada penerima transplan, terutama cangkok jantung atau ginjal.

Jika kamu memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau sedang hamil, periksakan diri segera ke dokter. Sebab, mungkin saja kamu membutuhkan penanganan yang lebih serius di rumah sakit.

 

Pencegahan Hepatitis E

Hepatitis E dapat dicegah dengan memerhatikan kebersihan diri dan lingkungan, yakni dengan tidak mengonsumsi air yang kotor dan makanan mentah. Ini termasuk mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan kerang. Meskipun tidak diolah, makanan tersebut harus dikonsumsi dalam keadaan bersih, yakni dengan membilasnya dengan air. Pastikan juga untuk selalu mengonsumsi air minum yang bersih (air yang sudah dimurnikan atau air rebusan). Selalu jadikan cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, terutama setelah dari toilet, sebelum dan setelah menyiapkan makanan, serta sebelum dan sesudah makan.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala di atas, segeralah berbicara dengan dokter guna mendapat penanganan yang tepat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, melalui Halodoc dapat melakukan janji temu dengan dokter di rumah sakit yang terbaik menurut kamu.

Baca juga: Cegah Hepatitis E, Hindari 4 Kebiasaan Ini

Referensi:
Medicalnewstoday (2019). What to know about Hepatitis E
WebMD (2019). Hepatitis E

Diperbarui pada 12 September 2019