• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hepatitis E

Hepatitis E

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Hepatitis E

Pengertian Hepatitis E

Hepatitis E adalah salah satu jenis hepatitis yang menyebabkan peradangan dan kerusakan hati. Virus hepatitis E yang jadi penyebabnya, memiliki jenis yang berbeda yang menyebar dengan cara yang berbeda.

Beberapa jenis virus menyebar dengan meminum air yang terkontaminasi. Sementara virus jenis lain menyebar melalui daging yang dimasak setengah matang.

Hepatitis E biasanya menyebabkan infeksi akut, atau jangka pendek. Dalam kebanyakan kasus, tubuh dapat pulih dan melawan infeksi dan virusnya hilang. Pengidap hepatitis E akut biasanya mengalami perbaikan kondisi tanpa pengobatan setelah beberapa minggu.

Namun, hepatitis E juga bisa terjadi dalam bentuk kronis atau jangka panjang. Ini biasanya terjadi ketika tubuh tidak mampu melawan virus, sehingga virusnya tidak hilang dari tubuh. 

Hepatitis E kronis jarang terjadi dan hanya terjadi pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah. Misalnya, hepatitis E dapat menjadi kronis pada orang yang memakai obat yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Contohnya seperti setelah transplantasi organ, atau pada orang yang mengidap HIV/AIDS. 

Penyebab Hepatitis E

Infeksi dan gejala dari hepatitis E disebabkan oleh HEV (Hepatitis E Virus). Virus ini bisa ditularkan melalui makanan atau air yang sudah terkontaminasi oleh feses pengidap hepatitis E. 

Selain dari makanan dan minuman, penularan hepatitis E juga bisa terjadi lewat transfusi darah, antara ibu dengan janin jika si ibu terinfeksi, serta hubungan intim tanpa pengaman. Jika seseorang terjangkit hepatitis E, orang tersebut akan mengalami infeksi hati akut.

Faktor Risiko Hepatitis E

Hepatitis bisa menyerang siapa saja, tetapi terdapat beragam faktor yang meningkatkan risiko yang membuat seseorang lebih rentan terhadap virus hepatitis E, antara lain:

  • Kebersihan pribadi yang buruk.
  • Virus hepatitis E masuk ke feses ketika BAB.
  • Berhubungan intim tanpa menggunakan kondom dan berganti-ganti pasangan.
  • Tinggal dengan seseorang yang mengidap infeksi HEV (hepatitis E) kronis.
  • Bepergian ke wilayah dengan tingkat infeksi HEV yang tinggi.

Gejala Hepatitis E

Pada umumnya, gejala HEV muncul sekitar 2–7 minggu setelah terpapar virus, dan biasanya berlangsung selama sekitar 2 bulan. Berikut ini gejala umum hepatitis E:

  • Menguningnya warna kulit dan mata.
  • Urine berwarna gelap seperti teh.
  • Nyeri sendi dan perut.
  • Hilang nafsu makan.
  • Pembengkakan hati.
  • Gagal hati akut.
  • Mual dan muntah.
  • Sering merasa lelah. 
  • Demam.

Diagnosis Hepatitis E

Diagnosis hepatitis E dapat dilakukan dengan tes darah. Tes tersebut bertujuan untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis didalam tubuh, dan apakah tubuh memiliki antibodi terhadap virus tersebut. 

Tes tersebut bisa membantu dokter untuk memulai pengobatan dan menganjurkan untuk mengubah gaya hidup terhadap pengidap hepatitis E agar bisa memperlambat proses kerusakan hati. 

Pengobatan Hepatitis E

Pengobatan untuk hepatitis E akut adalah istirahat, minum banyak cairan, dan makan makanan sehat untuk membantu meringankan gejala. Bicarakan dengan dokter sebelum mengonsumsi obat atau vitamin apapun.

Pengidap hepatitis E juga harus menghindari alkohol sampai dokter menyatakan benar-benar pulih dari hepatitis E. Temui dokter secara teratur untuk memastikan tubuh telah pulih sepenuhnya.

Sementara itu, hepatitis E kronis mungkin memerlukan obat-obatan. Dokter dapat mengobati hepatitis E kronis dengan ribavirin atau peginterferon alfa-2a. Lebih lanjutnya, bisa dibicarakan dengan dokter.

Komplikasi Hepatitis E 

Kebanyakan orang sembuh dari hepatitis E akut tanpa komplikasi. Pada beberapa kasus, hepatitis E akut dapat menyebabkan gagal hati akut, suatu kondisi di mana hati gagal secara tiba-tiba. 

Gagal hati akut akibat hepatitis E lebih sering terjadi pada ibu hamil atau orang yang mengidap penyakit hati lainnya. Pada ibu hamil, hepatitis E dapat menyebabkan komplikasi lain bagi ibu dan bayi. Contohnya seperti bayi lahir mati, kelahiran prematur, atau berat lahir rendah.  Sementara itu, hepatitis E kronis dapat menyebabkan komplikasi seperti sirosis atau gagal hati.

Pencegahan Hepatitis E

Hepatitis E dapat dicegah dengan memperhatikan kebersihan diri dan lingkungan. Contohnya dengan tidak mengonsumsi air yang kotor dan makanan mentah. Ini termasuk mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan kerang. Meskipun tidak diolah, makanan tersebut harus dikonsumsi dalam keadaan bersih, yakni dengan membilasnya dengan air.

Pastikan juga untuk selalu mengonsumsi air minum yang bersih (air yang sudah dimurnikan atau air rebusan). Selalu jadikan cuci tangan pakai sabun sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, terutama setelah dari toilet, sebelum dan setelah menyiapkan makanan, serta sebelum dan sesudah makan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga mengalami gejala hepatitis E yang tadi dijelaskan, segeralah berbicara dengan dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Kamu juga bisa download Halodoc untuk bertanya pada dokter kapan dan di mana saja.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2022. What to know about Hepatitis E
WebMD. Diakses pada 2022. Hepatitis E
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Disease. Diakses pada 2022. Hepatitis E.

Diperbarui pada 9 Mei 2022