Hepatitis E

Pengertian Hepatitis E

Hepatitis E termasuk salah satu jenis penyakit hepatitis. Ini adalah infeksi hati akut berpotensi serius yang disebabkan oleh virus HEV. Berbeda dengan jenis hepatitis lain, penyebaran virus hepatitis E terjadi saat seseorang mengonsumsi air atau yang terkontaminasi virus HEV. Hepatitis E juga dapat ditularkan melalui transfusi darah, ibu hamil ke janin, serta hewan yang terinfeksi virus HEV.

Tanda dan Gejala Hepatitis E

Pada umumnya, gejala HEV muncul sekitar 2 - 7 minggu setelah terpapar virus, dan biasanya berlangsung selama sekitar 2 bulan. Berikut ini tanda dan gejala umum hepatitis E:

  • Menguningnya warna kulit dan mata.
  • Urine berwarna gelap seperti teh.
  • Nyeri sendi dan perut.
  • Hilang nafsu makan.
  • Pembengkakan hati.
  • Gagal hati akut.
  • Mual dan muntah.
  • Sering merasa lelah.
  • Demam.

Faktor Risiko Hepatitis E

Meskipun semua orang bisa terkena hepatitis, ada beberapa faktor yang membuat seseorang lebih rentan terhadap virus hepatitis E, antara lain:

  • Kebersihan pribadi yang buruk.
  • Masuknya virus hepatitis E ke feses ketika BAB.
  • Berhubungan intim tanpa menggunakan kondom dan seks bebas (berganti-ganti pasangan).
  • Tinggal dengan seseorang yang menderita infeksi HEV kronis.
  • Bepergian ke wilayah dengan tingkat infeksi HEV yang tinggi.

Diagnosis Hepatitis E

Diagnosis hepatitis E dapat dilakukan dengan tes darah. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis dalam tubuh, dan apakah ada antibodi dalam tubuh. Tes darah bisa membantu dokter memulai pengobatan atau menganjurkan perubahan gaya hidup yang bisa memperlambat proses kerusakan hati.

Pengobatan hepatitis E bertujuan untuk menyingkirkan virus dari tubuh. Jika sistem kekebalan tubuh cukup kuat, pengidap hepatitis E mungkin tidak membutuhkan obat-obatan. Jika kamu positif mengidap hepatitis E, dokter akan menyarankan untuk:

  • Beristirahat di rumah sampai energi kembali.
  • Minum banyak cairan untuk menghindari dehidrasi. Pilihlah cairan tinggi kalori seperti jus buah dan sup kaldu.
  • Menerapkan pola makan yang sehat.
  • Jangan minum alkohol atau menggunakan narkoba.

Pengobatan Hepatitis E

Untuk langkah pertama mengobati hepatitis E, dokter biasanya menggunakan terapi imunosupresi. Hasilnya, viral load (jumlah virus dalam darah) HEV dapat berkurang hingga 30 persen pada pasien. Bagi pasien yang terapi imunosupresinya tidak dapat dikurangi dan bagi mereka yang virusnya tidak berkurang setelah menggunakan imunosupresi, dianjurkan untuk menggunakan terapi antivirus. Monoterapi ribavirin (600 - 1000 miligram per hari) untuk minimal tiga bulan akan diresepkan sebagai pilihan pertama.

Pada kasus tertentu, hepatitis E juga dapat diobati dengan prosedur transplantasi hati. Penanganan ini biasanya dilakukan jika hepatitis E sudah masuk ke tahap kronis. Pasien yang terinfeksi HEV kronis dan yang telah menjalani transplantasi hati biasanya akan dianjurkan terapi interferon alfaa pegilasi selama 3 - 12 bulan. Namun, pengobatan ini bisa memicu efek samping yang signifikan dan penolakan organ pada penerima transplan, terutama cangkok jantung atau ginjal.

Jika kamu memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah atau sedang hamil, periksakan diri segera ke dokter. Sebab, mungkin saja kamu membutuhkan penanganan yang lebih serius di rumah sakit.

Pencegahan Hepatitis E

Hepatitis E dapat dicegah dengan memerhatikan kebersihan diri dan lingkungan. Yakni dengan tidak mengonsumsi air yang kotor dan makanan mentah. Ini termasuk mengonsumsi buah-buahan, sayura, dan kerang. Meskipun tidak diolah, makanan tersebut harus dikonsumsi dalam keadaan bersih, yakni dengan membilasnya dengan air. Pastikan juga untuk selalu mengonsumsi air minum yang bersih (air yang sudah dimurnikan atau air rebusan). Selalu jadikan cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, terutama setelah dari toilet, sebelum dan setelah menyiapkan makanan, serta sebelum dan sesudah makan.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala di atas, segeralah berbicara dengan dokter guna mendapat penanganan yang tepat.