• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hepatitis Kronis

Hepatitis Kronis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
hepatitis-kronis-halodoc

Hepatitis adalah infeksi virus yang menyebabkan peradangan hati. Hepatitis dikatakan kronis apabila berlangsung setidaknya selama enam bulan. Pada umumnya, hepatitis kronis tergolong ringan sehingga menyebabkan kerusakan yang relatif kecil.

Namun, kondisi ini tetap berpeluang serius yang dapat menghancurkan sel pada hati dan menyebabkan sirosis atau gagal hati.  

Jika dibandingkan dengan hepatitis akut, hepatitis kronis memang lebih jarang terjadi. Meski begitu, kondisi ini bisa bertahan selama berbulan-bulan bahkan menahun.

Faktor Risiko Hepatitis Kronis

Ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko hepatitis kronis. Sejumlah faktor yang berperan mulai dari faktor lingkungan, gaya hidup, dan masalah kesehatan tertentu.

Berikut sejumlah faktor risiko hepatitis kronis yang sebaiknya diwaspadai:

1. Faktor lingkungan

Paparan faktor lingkungan berikut ini meningkatkan risiko hepatitis, yaitu:

  • Tidak tersedia atau kurangnya air bersih. 
  • Sanitasi lingkungan yang buruk
  • Kontak erat dengan jarum suntik bekas, alat suntik, atau benda lain yang mungkin telah terkontaminasi virus hepatitis

2. Faktor gaya hidup

Gaya hidup yang tidak sehat juga mampu meningkatkan risiko paparan virus penyebab hepatitis.

Gaya hidup yang sebaiknya kamu hindari yaitu:

  • Berbagi jarum suntik atau benda lain yang mungkin terkontaminasi virus hepatitis
  • Terlibat dalam kontak seksual yang tidak aman, seperti tidak menggunakan kondom saat berhubungan intim, melakukan hubungan intim yang kasar, atau berganti-ganti pasangan
  • Bekerja di sekitar bahan kimia beracun. Contoh pekerjaan yang secara rutin terpapar bahan kimia, contohnya pelukis, penyedia layanan kesehatan, atau pekerja pertanian.
  • Minum air yang tidak diolah atau mengonsumsi makanan yang tidak dimasak atau dibersihkan dengan benar
  • Konsumsi alkohol dalam jumlah besar dalam jangka waktu yang lama
  • Minum obat yang diyakini terkait dengan hepatitis

3. Faktor kesehatan

Riwayat kesehatan seseorang juga berperan dalam perkembangan hepatitis. Faktor risiko kesehatan untuk hepatitis meliputi:

  • Tidak divaksinasi terhadap virus hepatitis, khususnya HAV dan HBV 7
  • Memiliki infeksi akut atau kronis dengan satu atau lebih virus hepatitis
  • Memiliki gangguan autoimun, seperti autoimun poliendokrinopati candidiasis ectodermal dystrophy (APECE)
  • Terlahir dari ibu yang terinfeksi virus hepatitis, khususnya hepatitis B

Penyebab Hepatitis Kronis

Penyebab hepatitis paling umum adalah infeksi virus hepatitis B, C dan E. Berikut penyebab dari infeksi virus-virus tersebut:

  • Hepatitis B dan C. Individu yang terinfeksi hepatitis B dan C seringkali tidak menyadari gejala awalnya. Pasalnya, gejala awal hepatitis B dan C sangat ringan dan baru terdeteksi ketika telah berkembang menjadi kronis. 
  • Hepatitis E. Virus hepatitis E seringkali menyebar melalui makanan yang telah terkontaminasi. Gejalanya pun jarang terlihat sehingga pengidapnya tidak menyadarinya.

Gejala Hepatitis Kronis

Sebagian besar kasus hepatitis kronis, gejalanya berkembang secara bertahap atau bahkan sering tanpa gejala. Selain itu, penyakit ini juga bisa berkembang setelah serangan hepatitis virus akut yang menetap atau kambuh (sering kali beberapa minggu kemudian). 

Hampir sebagian besar hepatitis kronis menyebabkan gejala kesehatan yang umum, seperti rasa sakit yang samar-samar (malaise), nafsu makan yang buruk, dan kelelahan. Terkadang orang yang mengidap kondisi ini juga mengalami demam ringan dan ketidaknyamanan pada perut bagian atas.  

Berikut gejala-gejala hepatitis kronis yang perlu diwaspadai:

1. Penyakit kuning

Penyakit kuning adalah perubahan warna kuning pada kulit dan bagian putih mata yang disebabkan oleh deposit bilirubin yang berlebihan. Kondisi ini sebenarnya jarang terjadi, kecuali jika sudah berkembang menjadi gagal hati. 

2. Sirosis

Seringkali, gejala yang spesifik akan muncul pertama kalinya ketika hepatitis sudah berkembang menjadi sirosis. Gejalanya bisa berupa pembesaran limpa, spider angioma, kemerahan pada telapak tangan, asites, koagulopati, jaundice, dan penurunan fungsi otak (ensefalopati hepatik).

3. Penurunan fungsi otak

Fungsi otak dapat memburuk akibat kerusakan hati yang semakin parah. Pasalnya, hati sudah tidak dapat mengeluarkan zat beracun dari darah seperti biasanya. Zat-zat ini kemudian menumpuk di dalam darah dan mencapai otak.

Biasanya, hati mengeluarkannya dari darah, memecahnya, lalu mengeluarkannya sebagai produk sampingan yang tidak berbahaya ke dalam empedu atau darah. 

4. Masalah pembekuan darah

Darah juga tidak dapat membeku seperti biasanya karena hati yang rusak tidak dapat lagi mensintesis cukup protein yang membantu pembekuan darah. 

5. Tinja berwarna terang

Kotoran berwarna terang disebabkan karena aliran empedu yang seharusnya keluar dari hati  justru tersumbat sehingga lebih sedikit bilirubin yang dieliminasi dalam feses. Bilirubin inilah yang memberi warna khas pada tinja. 

Diagnosis Hepatitis Kronis

Karena hepatitis kronis jarang menimbulkan gejala awal, kondisi ini sering tidak sengaja di diagnosis saat pengidapnya menjalani tes darah rutin. Jika dokter mencurigai hepatitis kronis, ia mungkin akan melakukan pemeriksaan yang lebih spesifik dengan memeriksa penyakit kuning, nyeri tekan di perut,  dan tanda-tanda cairan yang mengisi perut selama gagal hati.

Tes darah kemudian dapat dilakukan untuk mengukur tingkat enzim dalam hati, kadar bilirubin, dan tingkat protein. Enzim hati adalah zat yang dilepaskan ketika sel-sel hati menjadi meradang atau rusak. Sementara kadar bilirubin yang tinggi menyebabkan penyakit kuning atau jaundice.

Tingkat protein dan faktor pembekuan juga dapat menilai fungsi hati. Tanda-tanda lain yang membantu proses diagnosis hepatitis kronis adalah urin gelap, mudah memar, dan pendarahan spontan dan kebingungan yang dapat berkembang menjadi koma.

Komplikasi Hepatitis Kronis

Infeksi hepatitis C yang berlanjut selama bertahun-tahun dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti:

  • Sirosis. Ini adalah kondisi saat munculnya jaringan parut pada hati.  Jaringan parut ini dapat mengganggu fungsi hati. 
  • Kanker Hati. Sejumlah kecil pengidap hepatitis kronis dapat mengembangkan kanker hati.
  • Gagal Hati. Sirosis yang terus berlanjut dapat menyebabkan hati berhenti berfungsi.

Ketika hepatitis kronis menyebabkan gagal hati, pengidapnya perlu mendapatkan transplantasi hati untuk memperpanjang harapan hidupnya.

Pengobatan Hepatitis Kronis

Pengobatan hepatitis kronis bisa bervariasi bergantung pada gejala yang dialami dan penyebabnya. Apabila disebabkan oleh obat-obatan, maka pemakaiannya perlu dihentikan.

Sementara itu, jika disebabkan oleh kondisi medis, maka penanganannya berfokus untuk mengobati penyakit tersebut. Berikut pengobatan hepatitis kronis berdasarkan penyebabnya dan bagaimana cara mengobati komplikasi serta perawatan rumahan yang bisa kamu lakukan:

1. Hepatitis B dan C

Jika hepatitis B semakin memburuk atau kadar enzim di dalam hati semakin tinggi, dokter biasanya akan meresepkan obat antivirus. Pada beberapa orang, hepatitis B cenderung kambuh setelah pengobatan dihentikan dan mungkin menjadi lebih parah. Dengan demikian, pengidap hepatitis kronis yang disebabkan oleh hepatitis B perlu minum obat antivirus sepanjang usianya.

Sementara pada hepatitis C, pengobatan obat antivirus juga dianjurkan. Perawatan dapat berlangsung dari 8 hingga 24 minggu. Pengobatan hepatitis C bertujuan untuk menghilangkan virus dari tubuh sehingga mampu menghentikan peradangan dan mencegah terbentuknya jaringan parut pada hati (sirosis).

2. Steatohepatitis non alkohol

Pengobatan steatohepatitis non alkohol berfokus pada mengelola kondisi tersebut. Perawatannya bisa meliputi:

  • Menurunkan berat badan di angka yang ideal.
  • Konsumsi makanan yang sehat untuk mengontrol berat badan, diabetes, dan kadar lipid.
  • Minum obat untuk mengobati diabetes.
  • Tidak mengonsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan gangguan. 
  • Menghindari racun, seperti pestisida.

3. Autoimmune chronic hepatitis

Obat kortikosteroid umumnya digunakan bersama azathioprine untuk mengobati hepatitis autoimun guna menekan sistem kekebalan. Obat ini menekan peradangan, meredakan gejala, dan meningkatkan kelangsungan hidup pengidapnya dalam jangka panjang. Meski begitu, risiko pemakaian obat ini adalah kemunculan jaringan parut yang dapat memburuk secara bertahap.

Namun, menghentikan obat-obatan ini bisa menyebabkan kambuhnya peradangan, sehingga kebanyakan pengidapnya perlu minum obat tanpa batas waktu. Karena alasan tersebut, dokter biasanya mengurangi dosis kortikosteroid secara bertahap supaya pengidap bisa berhenti meminumnya. 

4. Pengobatan komplikasi

Hepatitis kronis sangat mungkin menyebabkan komplikasi, seperti sirosis hati dan gagal hati. Jika pengidapnya sudah masuk di tahap komplikasi dan menyebabkan gagal hati, maka satu-satunya pengobatan yang bisa dilakukan adalah transplantasi hati. 

5. Pengobatan hepatitis kronis di rumah

Selain perawatan dari dokter, pengidap hepatitis kronis juga perlu melakukan perawatan di rumah supaya kondisinya tidak berkembang menjadi parah. Pengobatan di rumah yang dapat membantu meringankan gejala hepatitis kronis di antaranya:

  • Berhenti minum alkohol.
  • Hindari pemakaian obat-obatan yang merusak hati.
  • Tutupi area tubuh yang terluka.
  • Hindari berbagi alat cukur atau sikat gigi.
  • Tidak mendonorkan darah atau organ tubuh sementara waktu.
  • Lakukan hubungan intim secara aman menggunakan alat kontrasepsi, seperti kondom.

Pencegahan Hepatitis Kronis

Virus hepatitis B dan C sering menjadi penyebab utama hepatitis kronis. Kedua virus ini dapat ditularkan dari orang ke orang melalui kontak seksual atau melalui kontak darah atau cairan tubuh lainnya melalui jarum suntik atau transfusi darah. Maka dari itu, sebaiknya hindari melakukan hubungan seksual yang tidak aman dan pastikan kebersihan jarum suntik saat akan menggunakannya.

Sementara itu, hepatitis E seringkali ditularkan melalui makanan yang tidak terjaga kebersihannya. Itu sebabnya, pastikan kamu menyiapkan makanan dengan baik.

Caranya dengan mencuci bahan makanan hingga bersih dan mencuci tangan sampai benar-benar bersih sebelum menyiapkan makanan. Saat membeli makan dari luar, pastikan penyajian makanan tersebut terjaga kebersihannya. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu mengalami tanda-tanda hepatitis kronis, jangan tunda untuk memeriksakannya ke dokter untuk mendapatkan perawatan sedini mungkin. Kamu bisa membuat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc supaya lebih praktis. Jangan tunda sebelum kondisinya semakin memburuk, yuk download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
MSD Manual. Diakses pada 2022. Overview of Chronic Hepatitis.
Drugs. Diakses pada 2022. Chronic Hepatitis.
Verywell Health. Diakses pada 2022. Causes and Risk Factors of Hepatitis.
WebMD. Diakses pada 2022. What to Know About Hepatitis B and Treatment  .
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Hepatitis C.