• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Hipertiroidisme

Hipertiroidisme

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Hipertiroidisme

Hipertiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid secara berlebihan. Perlu diingat bahwa tiroid adalah kelenjar kecil berbentuk kupu-kupu yang terletak di bagian depan leher. Kelenjar tersebut akan menghasilkan tiroksin (T4) dan triiodothyronine (T3), yang merupakan dua hormon utama yang mengontrol bagaimana sel tubuh menggunakan energi. Ketika tiroid menghasilkan terlalu banyak T3, T4, atau keduanya, kondisi ini akan mempercepat sistem tubuh, menimbulkan respon negatif pada tubuh. 

Terdapat beberapa kondisi kesehatan yang dapat memicu terjadinya hipertiroidisme. Salah satu penyebab yang paling sering adalah penyakit Graves. 

Penyebab Hipertiroidisme 

Berbagai kondisi dapat menyebabkan hipertiroidisme, seperti penyakit Graves, hingga gangguan autoimun. Pada penyakit Graves, sistem kekebalan tubuh akan menyerang kelenjar tiroid dengan antibodi, yang mengakibatkan pelepasan terlalu banyak hormon. Selain penyakit Graves, ada beberapa penyebab lain dari hipertiroidisme, seperti: 

  • Adanya tumor pada area testis atau ovarium. 
  • Konsumsi obat dengan kandungan yodium tinggi, misalnya amiodarone. 
  • Terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung iodium tinggi, seperti makanan laut, produk susu, dan telur. 
  • Benjolan, seperti toxic nodular tiroid, atau adanya tumor jinak pada kelenjar tiroid atau kelenjar pituitari (hipofisis).

Faktor Risiko Hipertiroidisme 

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan peluang seseorang untuk terkena hipertiroidisme, antara lain:

  • Jenis Kelamin. Wanita jauh lebih mungkin untuk memiliki hipertiroidisme daripada pria. Para ahli percaya ini mungkin ada hubungannya dengan hormon.
  • Kehamilan. Kehamilan dapat merangsang hipertiroidisme pada beberapa orang, yang dapat menyebabkan komplikasi bagi orang tua dan janin.
  • Usia. Seseorang dianggap berisiko lebih tinggi untuk hipertiroidisme sebagai orang dewasa yang lebih tua, terutama setelah usia 60 tahun.
  • Genetika. Riwayat keluarga hipertiroidisme biasanya menunjukkan peningkatan kemungkinan mengembangkan kondisi tersebut.
  • Asupan Yodium Berlebih. Asupan yodium berlebih dari obat atau makanan tertentu juga dapat meningkatkan risiko hipertiroidisme. 
  • Mengidap Kondisi Kesehatan Lain. Orang dengan diabetes tipe 1, insufisiensi adrenal primer, atau anemia pernisiosa dianggap lebih berisiko.

Gejala Hipertiroidisme

Beberapa gejala hipertiroidisme mungkin terlihat jelas secara fisik, sementara yang lain tidak kentara, dan mungkin sulit diperhatikan pada awalnya. Bahkan, hipertiroidisme juga terkadang disalahartikan sebagai gangguan kecemasan. Berikut adalah beberapa gejala khas dari hipertiroidisme, antara lain:

  • Penurunan berat badan, tetapi dengan nafsu makan yang meningkat. 
  • Detak jantung yang cepat atau tidak teratur. 
  • Merasa gugup atau mudah tersinggung. 
  • Merasa lelah, tetapi sulit tidur. 
  • Tremor tangan, kelemahan otot. 
  • Mudah kepanasan. 
  • Sering buang air besar. 

Kelenjar tiroid juga dapat membengkak menjadi gondok, yang dapat berbentuk simetris atau hanya pada satu sisi leher. Gondok adalah pembesaran kelenjar, dan sering terlihat sebagai benjolan atau bengkak di pangkal leher. Penyebab paling umum dari gondok adalah kekurangan yodium.

Pengidap hipertiroidisme juga mungkin akan mengalami gejala lain seperti mata yang menonjol. Kondisi ini secara medis dikenal sebagai exophthalmos, yang berkaitan dengan penyakit Graves. Di samping itu, penyakit tiroid jangka panjang yang tidak diobati juga dapat menyebabkan rambut rapuh, dan rambut rontok.

Diagnosis Hipertiroidisme

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guna menegakan diagnosis hipertiroidisme, antara lain: 

  • Riwayat Medis dan Pemeriksaan Fisik

Setelah pemeriksaan riwayat medis, dokter juga akan mendeteksi gejala hipertiroidisme melalui kondisi fisik. Misalnya seperti mendeteksi sedikit getaran di jari-jari ketika jari-jari direntangkan, refleks yang terlalu aktif, perubahan mata, atau kulit yang hangat dan lembap. 

Dokter juga akan memeriksa kelenjar tiroid ketika seseorang menelan untuk melihat apakah itu membesar, bergelombang, atau lunak. Selain itu, pemeriksaan denyut nadi juga akan dilakukan untuk melihat apakah ia terlalu cepat atau tidak teratur.

  • Tes Darah

Tes darah yang mengukur tiroksin dan hormon perangsang tiroid (TSH) dapat mengkonfirmasi diagnosis. Tingkat tiroksin yang tinggi dan jumlah TSH yang rendah atau tidak ada menunjukkan tiroid yang terlalu aktif. Tes ini sangat diperlukan untuk orang dewasa yang lebih tua, yang mungkin tidak memiliki gejala klasik hipertiroidisme.

Namun, tes darah tiroid dapat memberikan hasil yang salah jika kamu mengonsumsi biotin. Biotin sendiri merupakan suplemen vitamin B yang juga dapat ditemukan dalam multivitamin. 

Maka dari itu, beritahukan dokter jika kamu menggunakan biotin atau multivitamin yang memiliki kandungan tersebut. Untuk memastikan tes yang akurat, hentikan penggunaan biotin setidaknya 12 jam sebelum darah diambil.

Pengobatan Hipertiroidisme 

Tujuan terapi, baik dengan penggunaan obat anti tiroid, iodine radioaktif, maupun tiroidektomi adalah menurunkan kadar hormon tiroid pasien ke level normal serta mencapai kondisi remisi. Kondisi remisi pada pasien hipertiroid dapat tercapai apabila kadar hormon tiroid pasien dapat dijaga pada rentang euthyroid. Hal ini dapat digunakan dengan obat antitiroid, Iodine radioaktif hingga tiroidektomi.

Komplikasi Hipertiroidisme

Jika dibiarkan tanpa penanganan, hipertiroidisme dapat menyebabkan sejumlah komplikasi, seperti:

  • Masalah Jantung

Hipertiroidisme dapat menimbulkan beberapa masalah pada jantung. Contohnya seperti detak jantung yang cepat, gangguan irama jantung yang disebut fibrilasi atrium yang meningkatkan risiko stroke, dan gagal jantung kongestif. 

  • Tulang Rapuh

Hipertiroidisme yang tidak diobati juga dapat menyebabkan tulang lemah dan rapuh (osteoporosis). Kondisi ini dapat dipicu oleh berkurangnya kemampuan tubuh untuk memasukkan kalsium ke dalam tulang akibat tingginya hormon tiroid. Padahal, kekuatan tulang bergantung pada jumlah kalsium dan mineral lain yang dikandungnya. 

  • Masalah Mata

Mereka yang mengidap oftalmopati Graves dapat mengembangkan beberapa masalah mata. Contohnya termasuk mata menonjol, merah atau bengkak, kepekaan terhadap cahaya, dan penglihatan kabur atau ganda. Masalah mata yang parah dan tidak diobati dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.

  • Kulit Merah dan Bengkak

Dalam kasus yang jarang terjadi, pengidap penyakit Graves mengembangkan dermopati Graves. Kondisi ini akan memengaruhi kulit, menyebabkan kemerahan dan bengkak, terutama pada tulang kering dan kaki.

  • Krisis Tirotoksik

Hipertiroidisme juga berpeluang menyebabkan krisis tirotoksik sebagai komplikasinya. Perlu diketahui bahwa krisis tirotoksik merupakan peningkatan gejala yang tiba-tiba. Kondisi ini dapat menyebabkan demam, denyut nadi yang cepat, dan bahkan delirium. Jika pengidap hipertiroidisme mengalaminya, ia perlu segera mencari perawatan medis.

Pencegahan Hipertiroidisme

Cara terbaik untuk mencegah hipertiroidisme adalah dengan menghindari kondisi yang dapat meningkatkan risiko kamu untuk terkena penyakit ini. Maka dari itu, pastikan untuk senantiasa menerapkan pola hidup sehat. Misalnya seperti rutin melakukan check up kesehatan, hindari merokok, dan konsumsi makanan yang sehat serta mengandung kalsium dan vitamin D.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau orang terdekatmu mengalami beberapa gejala hipertiroidisme, segeralah memeriksakan diri ke dokter. Tujuannya agar diagnosis dan penanganan dapat segera dilakukan, sehingga dapat meminimalkan risiko komplikasi. 

Nah, melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa membuat janji rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatanmu. Tentunya tanpa perlu mengantre atau menunggu berlama-lama. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang juga! 

Referensi: 

Healthline. Diakses pada 2022. Hyperthyroidism: Signs and Symptoms of an Overactive Thyroid. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Hyperthyroidism (overactive thyroid). 
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Hyperthyroidism. 

Diperbarui pada 9 Mei 2022.