Hipogonadisme

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Hipogonadisme

Hipogonadisme adalah suatu kondisi ketika kelenjar seks tubuh memproduksi sangat sedikit atau sama sekali tidak menghasilkan hormon. Kelenjar gonad pada pria terdapat pada testis, sedangkan pada wanita terdapat pada ovarium (indung telur). Hormon seks berperan penting dalam perkembangan organ seksual sekunder, yaitu payudara pada wanita dan testis pada pria, serta rambut pubis pada keduanya. Hormon seks juga berperan dalam siklus menstruasi dan produksi sperma.

Dua tipe hipogonadisme, yaitu:

  • Hipogonadisme primer. Hipogonadisme primer terjadi akibat masalah pada kelenjar gonad. Kelenjar tersebut sudah mendapatkan sinyal perintah dari otak untuk memproduksi hormon seks, tetapi kelenjar tersebut tidak dapat memproduksinya.

  • Hipogonadisme sekunder. Hipogonadisme sekunder terjadi akibat masalah pada otak. Kesalahan terdapat pada hipotalamus dan kelenjar pituitary yang mengendalikan kerja kelenjar gonad.

 

Faktor Risiko Hipogonadisme

Faktor-faktor yang memungkinkan seseorang terkena hipogonadisme, antara lain:

  • Hal tersebut dapat dilihat melalui lingkar perut, yaitu apabila pria kurang dari 90 sentimeter dan lebih 80 sentimeter untuk wanita Asia.

  • Kadar gula meningkat lebih dari 100 mg/dl.

  • Trigliserid meningkat lebih dari 150 mg/dl.

  • Penurunan HDL, yaitu kurang dari 40 mg/dl untuk pria dan kurang 50 mg/dl untuk wanita

  • Tekanan darah tinggi lebih 130/85 mmHg.

 

Penyebab Hipogonadisme

Penyebab dari hipogonadisme primer, antara lain:

  • Hemokromatosis (terlalu banyak zat besi pada tubuh).

  • Infeksi berat.

  • Kelainan genetik, seperti sindrom Turner dan Klinefelter.

  • Operasi pada organ seksual.

  • Penyakit autoimun, seperti hipoparatiroidisme.

  • Penyakit hati dan ginjal.

  • Radiasi.

  • Testis yang tidak turun.

Penyebab dari hipogonadisme sekunder, antara lain:

  • Defisiensi nutrisi.

  • Gangguan kelenjar pituitari.

  • Infeksi seperti HIV//AIDS.

  • Kecelakaan pada kelenjar pituitari atau hipotalamus.

  • Kelainan genetik, seperti sindrom Kallmann, yaitu ketika hipotalamus tidak berkembang secara normal.

  • Obesitas.

  • Operasi otak.

  • Penggunaan obat steroid dan opiat jangka panjang.

  • Penurunan berat badan yang cepat.

  • Penyakit peradangan seperti tuberkulosis.

  • Radiasi.

  • Terdapat tumor dekat kelenjar pituitari.

Baca juga: Hipogonadisme Dapat Sebabkan Disfungsi Ereksi, Benarkah?

 

Gejala Hipogonadisme

Pada pria:

  • Impotensi.

  • Kehilangan gairah seksual.

  • Kehilangan massa otot.

  • Kehilangan rambut di tubuh.

  • Kesulitan konsentrasi.

  • Mandul.

  • Osteoporosis.

  • Payudara membesar.

  • Pertumbuhan penis dan testis terhambat.

  • Tubuh mudah lelah.

Pada wanita:

  • Badan terasa panas.

  • Kekurangan bulu-bulu pada tubuh.

  • Keluarnya cairan putih kental dari payudara.

  • Masa menstruasi berkurang atau tidak terjadi sama sekali.

  • Penurunan gairah seksual.

  • Pertumbuhan payudara berjalan lambat atau tidak tumbuh sama sekali.

  • Perubahan pada energi tubuh dan suasana hati.

 

Diagnosis Hipogonadisme

Diagnosis ditegakkan dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang berupa:

  • Pemeriksaan sperma pada pengidap pria.

  • Pemeriksaan darah. Dokter akan melakukan untuk mengukur kadar hormon LH dan FSH.

  • Pemeriksaan kadar zat besi.

  • Pemeriksaan kadar hormon prolaktin.

  • Pemeriksaan hormon tiroid.

  • Pemeriksaan genetik.

  • USG untuk mengetahui gangguan pada indung telur, seperti kista ovarium.

  • CT scan atau MRI untuk memeriksa kemungkinan tumor pada kelenjar hipofisis.

 

Komplikasi Hipogonadisme

Beberapa komplikasi hipogonadisme, antara lain:

  • Disfungsi ereksi.

  • Gairah seksual menurun.

  • Gangguan perkembangan janin, seperti ambiguous genitalia.

  • Gangguan pertumbuhan penis dan testis.

  • Ginekomastia.

  • Kekurangan rambut pada tubuh.

  • Mandul.

  • Osteoporosis.

  • Pengurangan massa otot.

  • Pertumbuhan tidak proporsional, seperti lengan atau tungkai yang lebih panjang.

  • Tubuh mudah lelah.

Baca juga: Hati-Hati, Hipogonadisme Bisa Sebabkan Osteoporosis

 

Pengobatan Hipogonadisme

Pengobatan hipogonadisme adalah dengan cara menggunakan terapi hormon pengganti, yaitu:

  • Pada pria digunakan hormon testosteron dengan suntikan, koyo, gel, atau pil yang bukan ditelan tetapi diletakkan di bawah lidah.

  • Pada wanita digunakan kombinasi hormon estrogen dan progesteron, karena hormon estrogen jika digunakan tunggal dapat meningkatkan risiko kanker endometrium. Namun, pada wanita yang sudah dilakukan histerektomi atau pengangkatan rahim, hanya diberikan terapi estrogen saja. Hormon dapat diberikan melalui pil, atau koyo (patch). Jika hasrat seksual menurun, dapat diberikan hormon testosteron dosis rendah. Jika ada masalah menstruasi atau infertilitas, dapat diberikan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) atau pil yang mengandung FSH untuk menstimulasi keluarnya sel telur.

Sedangkan pada hipogonadisme akibat tumor pituitary, pengobatan dilakukan dengan radiasi, obat-obatan, atau pembedahan untuk menghilangkan tumornya.

 

Pencegahan Hipogonadisme

Hipogonadisme akan sulit untuk dicegah jika disebabkan oleh kelainan genetik, autoimun, tumor, infeksi, dan sebagainya. Di lain sisi, hipogonadisme dapat dicegah apabila disebabkan oleh obesitas, penurunan berat badan yang cepat, serta malnutrisi. Caranya adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat seperti diet sehat dan olahraga teratur, agar hormon tubuh tetap stabil.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter apabila merasakan gejala-gejala di atas. Penanganan yang tepat dapat meminimalkan dampak, sehingga pengobatan bisa lebih cepat dilakukan. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan kamu.

Referensi:
Nebido. Diakses pada 2019. Hypogonadism
Diperbarui pada 29 Agustus 2019