Hipotensi

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Hipotensi

Hipotensi dikenal juga sebagai tekanan darah rendah. Saat darah mengalir melalui arteri, darah memberikan tekanan pada dinding arteri, tekanan itulah yang dinilai sebagai ukuran kekuatan aliran darah atau disebut dengan tekanan darah. Jika tekanan darah terlalu rendah, kondisi tersebut bisa menyebabkan aliran darah ke otak dan organ vital lainnya seperti ginjal menjadi terhambat atau berkurang. Itulah sebabnya orang yang mengalami tekanan darah rendah akan mengalami gejala berupa kepala terasa ringan dan pusing. Ketika mengalami gangguan ini, tubuh juga akan terasa tidak stabil atau goyah, bahkan kehilangan kesadaran.

Ukuran tekanan darah muncul dalam dua angka, yaitu tekanan sistolik (bilangan atas) dan tekanan diastolik (bilangan bawah). Tekanan darah yang normal adalah antara 90/60 mm/Hg dan 120/80 mm/Hg. Pengidap hipotensi memiliki tekanan darah di bawah 90/60 mm/Hg, sedangkan jika tekanan darah di atas 120/80 mm/Hg, orang tersebut mengidap hipertensi.

Baca juga: Tekanan Darah Rendah atau Tinggi, Manakah yang Lebih Berbahaya?

 

Faktor Risiko Hipotensi

Hipotensi sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja, tapi ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan seseorang lebih berisiko mengalami tekanan darah rendah, yaitu faktor usia, pengobatan, dan kondisi cuaca. Cuaca udara yang lebih panas bisa membuat tekanan darah menurun. Orang yang sedang rileks atau rajin berolahraga juga umumnya mempunyai tekanan darah yang lebih rendah. Selain itu, tekanan darah seseorang juga cenderung menurun setelah makan. Pasalnya, banyak darah yang akan mengalir menuju saluran pencernaan untuk mencerna dan menyerap makanan. Tekanan darah pada siang dan malam hari pun bisa berbeda. Pada siang hari, tekanan darah biasanya akan meningkat, dan malam harinya menjadi lebih rendah.

 

Penyebab Hipotensi

Beberapa kondisi atau penyakit tertentu yang bisa menyebabkan hipotensi, antara lain:

  • Hipotensi ortostatik. Gejala hipotensi ortostatik biasanya muncul saat seseorang berubah posisi secara tiba-tiba. Seseorang dengan hipotensi ortostatik mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebanyak 15-30 mmHg ketika berdiri dari posisi duduk atau berbaring.

  • Dehidrasi terjadi akibat tubuh kekurangan cairan dan bisa disebabkan oleh kurang minum, puasa, atau diare.

  • Efek samping pengobatan. Ada beberapa obat yang bisa menurunkan tekanan darah, seperti obat anti-depresi dan obat anti-hipertensi.

  • Anemia menyebabkan jumlah sel darah merah berada di bawah normal. Salah satu gejala anemia adalah tekanan darah rendah.

  • Ketidakseimbangan hormon. Penyakit seperti diabetes atau penyakit Addison menyebabkan gangguan produksi hormon. Kondisi tersebut bisa memengaruhi keseimbangan kadar air dan mineral dalam tubuh, serta tekanan darah.

  • Penyakit saraf. Penyakit saraf seperti penyakit Parkinson dapat menyebabkan hipotensi ketika menjangkiti sistem saraf yang mengontrol fungsi tubuh otonom seperti mengendalikan tekanan darah.

  • Syok dan cedera serius. Jika seseorang mengalami cedera serius dan terkena syok misalnya akibat pendarahan yang hebat, tekanan darah akan menurun drastis.

  • Penyakit jantung. Penyakit parah seperti penyakit jantung menyebabkan darah tidak bisa dipompa dengan baik oleh jantung ke seluruh tubuh. Akibatnya, tekanan darah pun menurun.

  • Tekanan darah wanita hamil biasanya lebih rendah karena sistem peredaran darahnya yang mengalir dengan cepat.

Baca juga: Alasan Varises Esofagus Dapat Sebabkan Hipotensi

 

Gejala Hipotensi

Tidak semua orang yang mengalami hipotensi akan merasakan gejala. Kondisi hipotensi juga tidak selalu memerlukan perawatan. Namun, bila tekanan darah cukup rendah, kemungkinan besar gejala-gejala berikut bisa terjadi:

  • Jantung berdebar kencang atau tidak teratur.

  • Pusing.

  • Lemas.

  • Mual.

  • Pingsan.

  • Kehilangan keseimbangan atau merasa goyah.

  • Pandangan buram.

Penanganan awal yang dapat dilakukan jika seseorang mengalami gejala hipotensi, sebaiknya segera duduk atau berbaring, minum air putih, dan menghentikan semua kegiatan yang sedang dilakukan. Gejala biasanya akan segera hilang setelah beberapa saat. Bicarakan pada dokter jika sudah sering mengalami hipotensi.

 

Diagnosis Hipotensi

Tujuan pemeriksaan tekanan darah dilakukan adalah untuk menemukan penyebab yang mendasarinya. Selain menanyakan riwayat medis pengidap, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mengukur tekanan darah pengidap. Dokter mungkin juga akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan berikut:

  • Tes darah. Tes ini bisa memberikan informasi tentang kesehatan pengidap secara keseluruhan, mulai darai kadar gula darah, jumlah sel darah merah, yang semuanya itu berpengaruh terhadap tekanan darah pengidap.

  • Elektrokardiogram (EKG). Tes ini bermanfaat untuk mendeteksi struktur jantung yang tidak normal dan irama jantung yang tidak beraturan.

  • Ekokardiogram. Tes ini dilakukan untuk memeriksa fungsi jantung dan mendeteksi adanya masalah pada jantung.

  • Tes Stres. Tujuan tes ini adalah untuk menilai fungsi jantung saat pengidap beraktivitas.

 

Komplikasi Hipotensi

Hipotensi dengan tingkat sedang saja sudah bisa menyebabkan pusing, lemas, pingsan, dan risiko cedera akibat jatuh. Apalagi bila tekanan darah sangat rendah, maka tubuh bisa kekurangan oksigen untuk menjalankan fungsi normalnya, yang menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak pengidap.

 

Pengobatan Hipotensi

Pengobatan untuk hipotensi harus dilakukan berdasarkan penyebab yang mendasarinya. Obat untuk mengatasi hipotensi biasanya diberikan untuk menambah jumlah darah atau mempersempit arteri agar tekanan darah meningkat.

Jika sedang menjalani pengobatan, periksakan tekanan darah secara rutin. Apabila mengalami efek samping, segera temui dokter. Begitu pula pada kondisi hipotensi tidak kunjung reda atau tidak menghilang, periksakan diri di fasilitas kesehatan terdekat.

 

Pencegahan Hipotensi

Berikut adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mencegah hipotensi:

  • Membatasi konsumsi minuman keras dan minum air putih yang banyak. Bagi yang menyukai minuman berkafein, hindari minuman yang mengandung nutrisi tersebut di malam hari.

  • Mengenai pola makan, lebih sering mengonsumsi makanan dalam porsi kecil lebih baik dibandingkan mengonsumsi makanan dalam porsi besar dengan frekuensi lebih jarang. Selain itu, memperbanyak asupan garam juga bisa mencegah hipotensi.

  • Pengidap hipotensi juga sebaiknya tidak berdiri terlalu lama. Terutama bagi pengidap hipotensi ortostatik, bila ingin berdiri dari posisi duduk atau berbaring, lakukanlah secara perlahan-lahan.

  • Jika mengonsumsi obat yang mungkin menyebabkan efek samping hipotensi, dokter bisa mengubah dosis obat tersebut atau memberikan alternatif lain.

Baca juga: Cegah Hipotensi Ortostatik dengan Lakukan 6 Hal Ini

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau anggota keluarga memiliki tanda dan gejala di atas, segeralah berbicara dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Low blood pressure (hypotension).
WebMD. Diakses pada 2019. Low Blood Pressure (Hypotension): Causes, Symptoms, Normal Ranges, and Prevention.

Diperbarui pada tanggal 9 September 2019