• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Infeksi Shigella (Shigellosis)

Infeksi Shigella (Shigellosis)

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
infeksi-shigella-shigellosis-halodoc

Pengertian Shigellosis

Infeksi Shigella atau Shigellosis adalah infeksi bakteri yang menyerang saluran pencernaan. Infeksi ini terjadi saat bakteri masuk ke dalam tubuh melalui kontak langsung dengan feses. Selain itu, infeksi shigella juga terjadi melalui makanan maupun minuman yang telah terkontaminasi.

Infeksi Shigella disebabkan oleh bakteri yang termasuk dalam kelompok Shigella, seperti bakteri Shigella dysenteriae, Shigella sonnei, dan Shigella flexneri. Bakteri jenis ini tergolong sangat infeksius. Artinya, meski dalam jumlah kecil, bakteri tersebut sudah dapat menyebabkan munculnya gejala pada manusia.

Setelah masuk melalui mulut, bakteri Shigella akan memperbanyak diri di bagian usus kecil dan menyebar ke usus besar. Bakteri Shigella dapat mengeluarkan racun yang mengakibatkan terjadinya kerusakan sel di bagian usus dan peradangan. Kondisi inilah yang mengakibatkan munculnya gejala berupa kram dan diare parah, bahkan diare bisa terjadi antara 10 hingga 30 kali dalam sehari.

Penyebab Shigellosis

Penyebab infeksi shigella atau Shigellosis adalah bakteri Shigella yang masuk ke dalam mulut secara tidak sengaja. Hal ini dapat terjadi karena beberapa kondisi berikut:

  • Menyentuh mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah berkontak langsung dengan permukaan atau benda yang terinfeksi bakteri Shigella, misalnya popok anak yang mengidap shigellosis atau benda yang disentuh oleh pengidap infeksi Shigella.
  • Mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi bakteri Shigella, misalnya makanan yang tidak higienis atau dibuat dari bahan yang telah terkontaminasi oleh kotoran manusia.
  • Mengonsumsi air yang telah terkontaminasi bakteri Shigella, misalnya berenang di air yang telah tercemari oleh pengidap infeksi Shigella dan tidak sengaja menelan airnya. 
  • Melakukan hubungan seks secara oral yang mengakibatkan mulut bersentuhan dengan anus atau area di sekitar anus.

Faktor Risiko Shigellosis

Ada beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami infeksi Shigella, yaitu:

  • Berusia 2 sampai 4 tahun.
  • Tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk atau melakukan perjalanan ke wilayah yang memiliki sanitasi buruk.
  • Tinggal secara berkelompok, misalnya di panti jompo, penjara, asrama, atau barak militer.
  • Melakukan aktivitas di tempat umum, misalnya di kolam renang umum atau tempat penitipan anak.
  • Melakukan hubungan seksual dengan sesama pria (bagi pria).
  • Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya karena mengidap HIV/AIDS.

Gejala Shigellosis

Gejala Shigellosis biasanya akan muncul 2 sampai 3 hari setelah pengidap terpapar bakteri Shigella. Beberapa kasus menunjukkan gejala muncul sekitar satu minggu setelah terjadi kontak dengan bakteri Shigella. Gejala Shigellosis umumnya berlangsung antara 2 hingga 7 hari. Gejala yang umum dialami oleh pengidap Shigellosis adalah gejala disentri, seperti:

  • Nyeri atau kram perut, terlebih pada perut bagian tengah.
  • Rasa mulas yang terjadi terus-menerus diikuti dengan rasa tidak bisa menahan keinginan untuk buang air besar.
  • Diare yang sebagian besar berupa air.
  • Bisa muncul darah atau lendir pada feses
  • Demam tinggi dengan suhu bisa lebih dari 40 derajat Celsius.
  • Mengalami mual dan muntah. 

Diagnosis Shigellosis

Guna mendapatkan diagnosis yang akurat, dokter akan bertanya tentang gejala dan keluhan yang dialami. Selain itu, dokter juga bertanya tentang faktor risiko yang mungkin dimiliki pengidap. Misalnya, makanan atau minuman yang dikonsumsi selama satu minggu sebelumnya atau tempat tinggal maupun tempat umum yang pernah dikunjungi pengidap. 

Supaya bisa memastikan bahwa BAB berdarah atau diare terjadi karena Shigellosis, dokter akan melakukan pemeriksaan feses. Tak hanya mengetahui penyebabnya, pemeriksaan tersebut juga bisa membantu dokter menentukan resep obat antibiotik yang paling efektif untuk membantu mengatasi gejala yang muncul. 

Pengobatan Shigellosis

Shigellosis ringan biasanya bisa membaik dengan sendirinya sekitar 5 hingga 7 hari. Namun, selama pengidap mengalami diare, sebaiknya perbanyak asupan cairan supaya tidak terjadi dehidrasi. Dokter biasanya juga meresepkan zinc untuk membantu mempercepat penyembuhan diare. 

Sementara itu, perlu diperhatikan bahwa pengidap tidak dianjurkan untuk mengonsumsi obat penghenti diare selama masih diare. Sebab, obat tersebut dapat membuat bakteri tinggal di saluran cerna lebih lama dan membuat infeksi menjadi semakin buruk. 

Pemberian obat antibiotik untuk mengobati diare umumnya  diberikan untuk pengidap Shigellosis berat atau memiliki imunitas tubuh lemak, seperti bayi dan lansia. 

Shigellosis jarang membutuhkan penanganan di rumah sakit, kecuali pengidap yang mengalami mual dan muntah hebat yang membuatnya tidak dapat menerima makanan maupun minuman. Jika ini terjadi, dokter akan memberikan pengganti cairan tubuh dan obat melalui infus. 

Komplikasi Shigellosis

Shigellosis biasanya membaik tanpa memicu terjadinya komplikasi. Meski demikian, beberapa kasus menunjukkan terjadinya komplikasi berupa: 

  • Dehidrasi karena diare berkepanjangan.
  • Arthritis reaktif karena reaksi infeksi. Gejalanya berupa nyeri pada sendi lutut, panggul, dan bagian pergelangan kaki.
  • Prolaps rektum, keluarnya sebagian rektum karena terlalu mengejan berlebihan atau mengalami peradangan berat pada usus besar.
  • Kejang yang terjadi karena demam atau disebabkan karena bakteri Shigella itu sendiri.
  • Sindrom hemolitik uremik.
  • Megakolon toksik yang terjadi saat usus mengalami kelumpuhan, sehingga pengidap tidak dapat buang air besar maupun buang angin.
  • Perforasi usus atau rusaknya dinding usus.
  • Infeksi darah (bakteremia) yang terjadi saat bakteri Shigella memasuki aliran darah melalui lapisan usus yang rusak.

Pencegahan Shigellosis

Beberapa hal yang dapat dilakukan guna mencegah Shigellosis antara lain:

  • Mencuci tangan dengan air dan sabun secara berkala, terutama sebelum dan setelah menggunakan toilet, setelah mengganti popok bayi, dan sebelum makan.
  • Mengawasi anak ketika mereka mencuci tangan.
  • Menjauhkan anak yang sedang terserang diare dari anak sehat lain.
  • Membuang popok bekas ke dalam kantong plastik yang tertutup rapat.
  • Tidak mengolah dan menyajikan makanan apabila sedang mengalami diare.
  • Sebisa mungkin tidak menelan air saat berenang di kolam renang umum.
  • Menghindari melakukan hubungan seks dengan orang yang sedang mengalami diare atau baru saja sembuh dari masalah kesehatan tersebut.
  • Tidak melakukan seks oral atau seks anal.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera lakukan pemeriksaan ke rumah sakit apabila mengalami diare yang tidak membaik hingga lebih dari 3 hari agar tidak terjadi dehidrasi. Pemeriksaan juga harus segera dilakukan apabila diare memburuk sampai lebih dari 10 kali per hari, ada darah pada feses, atau diikuti demam.

Booking rumah sakit sekarang lebih mudah secara online dengan menggunakan aplikasi Halodoc. Kamu bisa download aplikasi Halodoc langsung di App Store maupun Play Store. 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Diseases & Conditions. Shigella Infection. 
Medscape. Diakses pada 2022. Shigella Infection. 
Healthline. Diakses pada 2022. Shigellosis. 
WebMD. Diakses pada 2022. What is Shigella?