Intoleransi Laktosa

Pengertian Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa merupakan masalah pencernaan yang terjadi ketika tubuh tidak bisa mencerna jenis karbohidrat yang disebut laktosa. Umumnya, laktosa ada pada susu dan produk olahan susu lainnya. Selain itu, laktosa juga bisa terdapat pada makanan lain seperti es krim, creamer kopi, roti, biskuit, cokelat, permen,  dan bumbu salad.

Gejala Intoleransi Laktosa

Gejala dapat berlangsung beberapa jam setelah mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung laktosa, diantara gejalanya:

  1. Diare.
  2. Perut kembung.
  3. Kram perut.
  4. Perut berbunyi.
  5. Sering buang angin.

Penyebab Intoleransi Laktosa

Normalnya dalam tubuh terdapat enzim laktase yang memecah laktosa dalam makanan menjadi glukosa dan galaktosa. Kedua jenis laktosa inilah yang akan mudah dicerna oleh tubuh. Pada orang dengan intoleransi laktosa, enzim laktase dalam tubuh kurang. Hal ini bisa disebabkan banyak faktor, tetapi umumnya karena keturunan. Selain itu, kurangnya enzim laktase ini juga bisa jadi karena  adanya infeksi pencernaan.

Faktor Risiko Intoleransi Laktosa

Intoleransi laktosa bisa terjadi pada usia berapa saja. Beberapa ras lebih rentan mengalami intoleransi laktosa misal Negroid, Hispanik, dan Asia. Bayi prematur lebih rentan intoleransi laktosa dibanding bayi normal. Hal lain yang mungkin menjadi risiko terjadinya intoleransi laktosa adalah adanya gangguan pada usus halus seperti kondisi peradangan pada usus halus pada penyakit celiac dan crohn disease.

Diagnosis Intoleransi Laktosa

Diagnosis intoleransi laktosa biasanya dilakukan dokter dengan anamnesa yakni, pemeriksaan dengan tahap wawancara yang dilakukan dokter maupun perawat serta dibarengi dengan pemeriksaan fisik. Catatan dari pengidap mengenai catatan makanan yang meningkatkan gejala alergi inilah yang dapat membantu dokter memperkirakan diagnosis.  Umumnya intoleransi laktosa dapat diperkirakan ketika gejala hilang saat pasien menghindari konsumsi susu dan produk susu dalam asupan makanannya.

Terkadang dokter akan meminta tes yang lebih detil, contohnya:

  • Tes intoleransi laktosa. dengan cara meminum minuman yang mengandung laktosa lalu diambil darah untuk melihat kadar glukosa yang terbentuk. Jika sedikit atau tidak ada berarti mengalami intoleransi laktosa.

  • Hidrogen breath test, pasien akan diberi minuman larutan laktosa dan napas akan diuji setiap 15 menit selama beberapa jam ke depan untuk melihat apakah tingkat hidrogen berubah. Jika napas mengandung sejumlah besar hidrogen (lebih dari 20 ppm di atas pengukuran awal pasien) setelah mengonsumsi larutan laktosa, maka kemungkinan seseorang tidak tahan terhadap laktosa lebih tinggi. Ini karena intoleransi laktosa dapat menyebabkan bakteri di usus besar sehingg menghasilkan lebih banyak hidrogen daripada normal.

Pengobatan dan Efek Samping Intoleransi Laktosa

Saat ini tidak ada pengobatan untuk kondisi intoleransi laktosa. Jika mengalami kondisi ini hindari susu dan produk susu yang mengandung laktosa. Upaya menghindari makanan jenis ini dapat menimbulkan risiko kekurangan vitamin dan mineral yang terdapat dalam susu misalnya kalsium dan vitamin D. Kekurangan vitamin D dan kalsium berpotensi menyebabkan seseorang mengalami osteoporosis dan kerapuhan tulang. Pastikan untuk mendapat arahan gizi yang tepat untuk menghindari hal ini dengan berkonsultasi ke dokter atau ahli gizi, salah satu yang bisa disarankan adalah penggunaan suplemen kalsium. Pada intoleransi laktosa karena infeksi pencernaan, kondisi ini dapat membaik seiring dengan sembuhnya infeksi yang terjadi.

Pencegahan Intoleransi Laktosa

Intoleransi Laktosa yang bersifat bawaan tidak bisa dicegah namun jika mengalami cukup hindari makanan yang mengandung laktosa.

Kapan Harus ke Dokter?

Gejala diare atau kondisi tidak nyaman di pencernaan setelah meminum susu, produk susu sebaiknya dikonfirmasi terlebih dahulu dengan memeriksa ke dokter apakah termasuk intoleransi laktosa, alergi atau infeksi pencernaan karena masing-masing kondisi memiliki penanganan yang berbeda.