Kanker Esofagus

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc

Pengertian Kanker Esofagus

Seperti namanya, kanker esofagus terjadi saat sel kanker tumbuh dan berkembang ganas di sel esofagus. Jenis kanker ini termasuk jenis kanker yang banyak terjadi dan banyak mengakibatkan kematian. Berdasarkan asal selnya, jenis kanker ini terbagi menjadi 2 jenis yaitu adenocarcinoma dan squamous cell carcinoma. Stadium ditentukan berdasarkan perubahan sel yang terlihat, penyebaran ke kelenjar getah bening dan ke seluruh tubuh.

 

Gejala Kanker Esofagus

Stadium awal kanker esophagus mungkin tidak bergejala. Keluhan yang dapat terjadi antara lain nyeri atau kesulitan menelan makanan padat dan akhirnya cairan, berat badan turun lebih dari 10 persen selama 6 bulan. Selanjutnya dapat terjadi gejala nyeri, sensasi terbakar, atau ketidaknyamanan dada saat menelan, batuk atau suara serak,  bau mulut, cegukan dapat terjadi ketika tumor menyebar ke diafragma.

 

Penyebab Kanker Esofagus

Penyebab kanker esofagus secara spesifik belum diketahui namun ada beberapa golongan orang yang rentan mengalami kanker esofagus.

 

Faktor Risiko Kanker Esofagus

Berikut adalah faktor risiko terjadinya kanker esofagus:

  • Usia: Umumnya terjadi pada usia 50-70 tahun dan jarang terjadi pada orang usia muda.
  • Jenis Kelamin: Lebih banyak terjadi pada laki-laki.
  • Kelainan genetik: Adanya mutasi.
  • Etnisitas/ras: Pria kulit putih lebih sering terkena.
  • Merokok bisa meningkatkan risiko 3-7 kali lipat.
  • Konsumsi alkohol berlebihan (terkait dengan peningkatan risiko 3 hingga 5 kali lipat).
  • Mengalami kelainan pada esofagus seperti divertikulitis, cedera, esofagus Barrett, achalasia (otot kerongkongan tidak bisa relaksasi).
  • Sering konsumsi minuman yang sangat panas.
  • Riwayat kanker kepala dan leher.
  • Obesitas/kegemukan.
  • Orang dengan penyakit GERD (asam lambung naik hingga kerongkongan).
  • Penggunaan beberapa obat seperti  β-blocker, agen antikolinergik, atau aminofilin.
  • Radiasi.
  • Diet tinggi daging merah, lemak, dan makanan olahan.

 

Diagnosis Kanker Esofagus

Diagnosis dipastikan dengan penilaian faktor risiko, gejala dan pemeriksaan fisik awal. Pemeriksaan lain akan diperlukan untuk memastikan diagnosis antara lain radiografi (esofagografi) atau endoskopi. Endoskopi umumnya dilakukan pada setiap pasien yang lebih tua dari 40 tahun dengan keluhan sulit menelan dan juga jika hasil esofagografi tidak normal. Endoskopi juga dipakai untuk dokter untuk dapat mengambil sampel jaringan (biopsi). Jika hasil biopsi ke arah keganasan maka akan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut seperti pemeriksaan darah, CT scan untuk melihat penyebaran kanker.

 

Pengobatan dan Efek Samping Kanker Esofagus

Pengobatan tergantung apakah kanker sudah menyebar atau hanya di suatu tempat. Pilihan pengobatan dengan pembedahan dan kemoterapi atau gabungan keduanya.

Risiko pembedahan meliputi risiko infeksi, perdarahan, kebocoran sambungan antara esofagus dan lambung. Adapun efek samping kemoterapi diantaranya kelelahan, rambut rontok, mudah memar dan berdarah, infeksi, anemia, mual dan muntah, nafsu makan berubah, sembelit, diare, luka dan nyeri saat menelan, mati rasa, kesemutan, dan nyeri, perubahan kulit dan kuku seperti kulit kering dan perubahan warna, perubahan berat badan, perubahan libido dan fungsi seksual, masalah kesuburan

 

Pencegahan Kanker Esofagus

Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker esofagus antara lain:

  • Berhenti merokok.
  • Hindari minum alkohol berlebihan.
  • Pengobatan yang optimal dan kontrol untuk mengalami penyakit lain seperti GERD dan penyakit esofagus lainnya.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami gejala yang disebut sebaiknya periksa ke dokter untuk memastikan diagnosis. Dokter spesialis yang bisa terkait antara lain dokter spesialis penyakit dalam bagian gastroenterologi dan dokter spesialis bedah onkologi. Pilih dokter di rumah sakit yang tepat sesuai dengan kebutuhan kamu di sini